
« Cinta terjadi dalam sekejap. Tapi akhirnya bisa berubah tergantung apakah kita ini orang yang bisa menangkap cinta yang mendekat itu dengan gagah, atau orang yang malah menendang cinta itu dengan kaki sendiri. »
Kemarin malam Han mengatakan jika hasil ujian Lisa kali ini melebihi apa yang akan diajukan Han, pria itu akan memberikan sebuah tiket liburan selama 2 minggu ke Paris, tentu saja itu dengan syarat jika Han ikut dengannya.
Kota Paris adalah kota yang sangat ingin Lisa kunjungi, dia ingin melihat menara terkenal itu dan mengenal kota yang memiliki julukan ‘romantis’ banyak sekali novel yang pernah dirinya baca tentang kota paris, dan dirinya memutuskan keinginan itu pada Han.
Apalagi setelah ujian dirinya akan bebas dalam segala kegiatan sekolah, membuang semua lelahnya pelajaran dan jenuh pada kesibukan itu, dia ingin menghirup udara kota paris saat musim dingin, atau musim semi disore hari.
Walau memang banyak sekali diluar sana yang ingin berlibur di kota Seoul.
Setelah malam itu, Han memutuskan untuk berpisah kamar dengan Lisa, itu sebuah keputusan yang begitu tiba-tiba untuknya, Lisa sudah terbiasa tidur dengan pria itu dan kini dirinya sulit untuk menghilangkan kebiasaan itu.
Han mengatakan jika dirinya dalam kondisi buruk, dimana dia butuh untuk lebih lama sendiri dan tidak ingin melukai Lisa, mengingat Han yang akhir-akhir ini selalu menghindar saat Lisa ingin dekat dengannya.
Setelah menyelesaikan ujian hari ini, Lisa dan Mina pergi ke sebuah mall, karena ini terakhir dan ujian sudah berakhir jadi tidak ada salahnya mereka melepas penat sejenak, karena setelah lulus nanti keduanya akan sibuk untuk dunia perkuliahan dan belum lagi Lisa terus memikirkan bagaimana nanti saat Han akan mengajaknya berhubungan intim?
Dan terkejutnya Mina saat dirinya akan mengambil cuti untuk kehamilannya nanti, Lisa pikir jika nanti itu terjadi akan banyak sekali tugas yang harus diselesaikan dan belum lagi cuti itu, dirinya jadi ragu untuk berkuliah.
Lisa berpikir mungkinkah setelah lulus, dirinya menunda sampai dirinya melahirkan dan baru anak mengambil kuliah tahun depan, setelah dia bercerai dengan Han.
Kedengaran mudah, tapi Lisa tidak bisa mengatakan itu akan mudah, karena perasaan asing terus membuatnya bingung, dia tidak ingin hanya bersama dengan Han untuk sebuah perjanjian tapi Lisa terus bersamanya. Mengurus anak mereka bersama.
Jiwa keibuannya semakin tumbuh seiring berjalannya waktu, mungkin karena Lisa terlalu memahami tentang kesuburan untuk segera hamil, dia tidak menceritakan kepada siapapun, dia hanya ingin dan malah terjebak dalam perasaan rumit.
Mata Lisa tidak bisa berhenti menatap toko baby yang dia sempat lewatkan, membayangkan jika dirinya sibuk membeli keperluan kelahiran bayinya, dan melihat berapa senang reaksi Han nanti.
Tapi yang menjadi beban pikirannya, apakah Han merasakan apa yang sedang Lisa pikirkan akhir-akhir ini, bagaimana kebiasaan sering bersama dan ketika jarak semakin dekat, apakah Han akan senang jika Lisa memberikan apa yang dibutuhkan, atau pria itu akan berubah setelah tahu Lisa hamil.
“apa yang kamu pikirkan? Bukankah kita kesini untuk melepaskan beban kita? Tapi kamu--,”
Lisa menatap ke arah Mina, dia melepaskan tasnya dan duduk di salah satu yang tersedia disana. “aku? Aku hanya memikirkan hasil ujian, aku tidak sabar ingin melihatnya tapi aku juga takut hasilnya tidak sesuai keinginanku”
Lisa berbohong, tidak sepintas dirinya memikirkan hal itu.
“kenapa kamu berpikir seperti itu? Kita harus yakin Lisa” ucap Mina, dia menyusul duduk disamping Lisa, menatap ke seberang dimana tempat jika ingin bermain seluncur es, terlihat begitu ramai disana.
“tapi semua pasti punya beban pikiran bukan? Dan masalah sendiri, terlalu yakin juga akan menyakitkan jika itu gagal”
Dia melihat layak ponselnya dan ada satu pesan dari Han, Lisa ingin membacanya namun Mina sudah lebih dahulu menarik tangannya.
“karena kita sudah terlanjur kesini, aku ingin membeli beberapa album baru dan juga buku” Mina membawa Lisa ke sebuah toko dimana semua album dari berbagai agensi ada di sana, di sana juga ada beberapa barang yang dikeluarkan setiap agensi.
“sudah lama aku tidak membeli album Oppa Yeon, aku berharap bisa mendapatkannya, karena albumnya selalu terjual habis” ucap Mina lagi, dia mengalungkan tangannya pada lengan Lisa, menarik gadis itu untuk mengikuti langkahnya. Seakan jika dilepas Lisa akan menghilang.
“bukankah kau sudah berkencan deng---,”
__ADS_1
Mina menutup mulut Lisa, dia melihat ke seluruh toko dan mengajak Lisa untuk sedikit menjauh dari keramaian. “ini rahasia, aku tidak boleh membiarkan orang lain sampai tahu dengan kedekatan kami”
Lisa menatap bingung, “kenapa? Semua orang berhak untuk berkencan bukan?”
“Ya. Itu benar Lisa tapi agensi Oppa Yeon tidak mengizinkan artisnya berhubungan, bukankah kamu tahu sendiri?”
Lisa mengangguk mengerti, dia merasa ponselnya kembali bergetar dan dengan sedikit terburu-buru Lisa membaca dua pesan dan tiga panggilan dari Han, seperti begitu penting.
Setelah membaca pesan itu Lisa segera meninggalkan mall, perasaan panik dan cemas menghantui pikirannya, ini benar-benar membuat dirinya tidak bisa berpikir jernih dan tanpa sadar dirinya berlari saat akan keluar dari mall.
Dia menghentikan taksi dan mengatakan kemana gadis itu harus pergi, dia mencoba untuk menghubungi Han beberapa kali tapi Han tidak mengangkat panggilannya.
“aku harap semua baik-baik saja” Lisa menggigit jari telunjuknya dengan cemas, pikirannya terus mengatakan hal buruk telah terjadi, Lisa juga tahu jika ini pasti sebuah ancaman dan gadis itu mulai khawatir.
Lisa sempat tidak memahami apa yang Han tanyakan beberapa hari yang lalu, tapi kini dia mulai mengerti dan terlalu terlambat untuk memahami ucapan yang Han maksud, dia merasa bersalah sekarang.
“Ahjussi, apakah masih lama? Aku harus segera tiba” ucap Lisa, dia mulai merasa keringat dingin memenuhi kening dan tangannya, dia ingin segera melihat kondisi yang telah terjadi.
“Maaf, tapi Nona jika jam segini biasanya jalanan akan macet”
Lisa terdiam, seharusnya dia memilih naik bus yang mungkin memakan waktu 20 - 25 menit daripada harus naik taksi yang kemungkinan akan sampai 40 - 45 menit, dia terus mencoba menghubungi Han sekali lagi.
Lisa menghela nafas panjang, senang saat Han mengangkat telepon darinya.
“aku sedang di jalan, tunggulah sebentar lagi” ucap Lisa dengan sedikit sedih, dia terus berharap Han baik-baik saja dirumah, seharusnya pria itu tidak perlu melakukan itu juga memang tidak bisa.
Suara kesakitan Han memenuhi setiap pendengaran Lisa, dia takut dan pikirannya terus memikirkan hal aneh, apalagi Han sendirian disana dan tidak bisa melakukan apapun.
“aku mohon bertahanlah” ucap Lisa sekali lagi, dia menahan untuk tidak menangis dan terus mencoba membuat Han bertahan.
Setelah melewati persimpangan jalan yang akan masuk kedalam area wilayah Villa mereka.
“Ahjussi, aku akan turun disini” Lisa turun dan memberikan beberapa Won, dia mengabaikan panggilan dari pak supir yang mungkin ingin memberikan kembalian.
Padahal cukup jauh jika Lisa berhenti disana, tapi melihat jalan yang masih macet, gadis itu rela untuk jalan sampai ke Villa, ralat Lisa rela berlari untuk segera sampai kesana.
Dia terus berlari dan mengabaikan tubuhnya yang butuh pemanasan lebih dahulu, dengan nafas yang terengah-engah Lisa terus berlari, hal yang dipikirkan sekarang adalah segera menemui Han.
Sampailah Lisa di pekarangan Villa, mendorong pintu dengan keras.
Dan---,
Lisa dikejutkan dengan butiran kelopak mawar merah yang berjatuhan di atas tubuhnya, seketika rasa panik terganti dengan kebingungan saat Lisa melihat ada sebuah petunjuk arah dibawah lantai, dengan sedikit ragu dia mengambil surat itu.
-- Berjalanlah sebanyak 25 langkah kedepan --
__ADS_1
Lisa mengikuti apa yang surat itu perintahkan, dia menghitung setiap langkahnya. Dan ketika berhenti di hitungan 25 ada sebuah surat dan balon tepat di hadapannya.
-- pecahkan balon dan carilah sebuah surat berwarna biru --
Lisa terus mengikuti, dia memecahkan balon dengan gelangnya yang memiliki liontin kunci. Telah balon itu pecah ada beberapa surat dengan warna berbeda, Lisa tetep mencari surat biru itu, walau sebenarnya dia sangat penasaran dengan semua tujuan ini.
-- bukalah surat merah --
“apa sebenarnya semua ini? Aku benar-benar tidak tahu apa yang Oppa rencanakan” ucap Lisa, dia bukan tipe yang suka memecahkan misteri.
-- tutup mata dan menghitunglah mulai dari 1 sampai 10 --
Lisa berdiri, dia menutupi matanya dan mulai menghitung dengan hitungan yang pelan.
Han yang bersembunyi di balik sofa berjalan mendekati Lisa dengan sebuah kota besar dan buket bunga, dia melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara.
“open your eyes” ucap Han, dia mengenakan jas putih dan merapikan rambutnya, dia terlihat tampan dan semakin membuat siapapun ingin menikahinya.
Lisa membuka matanya, dia menatap kearah dimana Han tersenyum padanya dengan dua tangan masing-masing membawa barang, ini adalah hal yang sangat manis dan bahkan Lisa tidak pernah berpikir akan diberikan ini oleh Han.
“Ini?” Tanya Lisa dengan bingung, dia gemetar sampai untuk menerima bunga dan kotak hadiah saja ingin sekali jatuh dari tangannya.
“apa kamu suka?”
Lisa tersenyum senang, Han sangat tampan dan hari ini dia begitu mengagumkan dengan jas putihnya. tak lama Lisa mengangguk dan menahan untuk tidak berteriak senang.
“aku tidak mengerti tujuan kamu memberikan ini, tapi aku senang. Terimakasih Oppa”
Han memeluk tubuh Lisa, dia tidak mengatakan apapun, baginya dengan ucapan Lisa seperti itu sudah membuatnya bahagia, dia mencium kening Lisa kemana 7 detik.
“ini hadiah untukmu”
“tapi Oppa belum melihat hasil ujianku” ucap Lisa, tatapannya seperti seorang anak kecil yang takut mengecewakan pia itu.
“ini hanya hadiah kecil, jika ujianmu keluar itu hadiah utama”
“benarkah?”
Han mengangguk, dia membawa gadis itu untuk duduk disofa.
“berarti tadi Oppa berbohong? Oppa bilang jika tadi terjebak di dalam bathroom dengan seekor binatang yang sangat oppa benci!” ucap Lisa dengan kesal, berapa sulitnya dirinya berjuang untuk sampai kesini ternyata semua itu hanya sebuah skenario.
Han tertawa, dia mencubit pipi Lisa dengan gemas dan memeluknya dengan sangat erat “baiklah, aku salah telah berbohong, apakah kamu berlari kesini”
“bukan hanya berlari aku meninggalkan Mina begitu saja dan bahkan uang sakuku harus terpotong karena aku naik taksi”
__ADS_1
Han mengelus kepala Lisa, dan memeluk tubuhnya lagi. “baiklah aku akan menggantinya, bagaimana jika kita makan malam? Aku membuatkan sesuatu untukmu”
Lisa mengangguk, dia tidak tahu Han akan seromantis ini dibalik sikap galak dan dinginnya, dia bahkan menggendong Lisa menuju dapur, membuat suasana terasa sangat hangat dan indah.