“Istri Lugu Presiden Han”

“Istri Lugu Presiden Han”
Chapter 43 - Lonely


__ADS_3

Perpisahan adalah seperti pemain bencana.


Pagi hari disambut dengan kerinduan.


Ketika malam disambut oleh kekosongan.


Suara samar dirimu yang menyentuhku, Kapan itu terjadi? 


Rindu yang terus dibawa oleh angin. 


Tiga hari berlalu, Sebagian negara bermusim empat, sudah mulai berevolusi. Membiasakan kembali berpakaian sangat tebal dan membatasi segala aktivitas menyambut natal dan tahun baru, mungkin dari mereka sudah jauh dari menyiapkan untuk kembali berkumpul pada keluarga. 


Membuat rencana untuk menghabiskan waktu libur panjang.


Setelah sibuk ke berbagai tempat dan terus membantu segala pemotretan yang sang kakak lakukan, Lisa mendapatkan libur hari ini, dia dan sang kakak berencana membeli beberapa barang untuk diberikan pada keluarga, Lisa berpikir ingin memberikan kado untuk Mina dan semua penghuni yang tinggal di Villa.


Tinggal satu hari lagi dirinya disini, sesuai dengan yang Lisa pikirkan, dirinya tidak dikasihkan kesempatan untuk mengeliling kota London ini, bahkan baru sekarang Lisa bernafas lega dari segala kesibukan. 


Dunia orang dewasa sangat penuh dengan kerja keras, Lisa jadi mengerti bagaimana Han sangat kesulitan untuk mengatur waktunya, pulang lebih awal untuk mengobrol dengannya dan mengisi waktu luangnya untuk berbicara dengan sang adik.


Lisa juga khawatir karena Sean yang ternyata lebih buruk dari perkiraannya, pria itu memang kembali pada dimana masa memorinya hilang tapi efek dari terapi itu membuatnya bingung dan seperti kehilangan jiwanya. 


Walau Han selalu berkata Lisa tidak perlu memikirkan apapun, tapi tetap saja Sean sudah seperti Mina, temannya dan jika kesulitan Lisa ingin sekali membantu.


“Lisa, kenapa kamu hanya diam, pilihkan pakaian yang kamu sukai” ucap Hee-jin. 


Kedua wanita itu sedang di sebuah mall terbesar disana, banyak sekali brand ternama disana. Salah satunya Chenal, Gucci, Celine dan lain-lainnya. Hee-jin memilih pakaian untuk kebutuhan hidupnya, karena pekerjaannya seorang model maka pakaian brand semua itu wajib baginya.


Sedangkan Lisa? 


Dia hanya memilih yang menurutnya nyaman, pantas digunakan dan cocok dengan kepribadiannya, itu sudah suatu kebiasaanya. Karena Yoona mengajar Lisa seperti itu.


Tatapan Lisa jatuh pada sebuah setelan jas untuk pria, dia membayangkan Han mengunakan itu pasti akan terlihat tampan, Lisa tersenyum, dia ingin buru-buru bertemu dengan pria itu.


“Eonnie, boleh aku membeli itu? Aku ingin memberikannya pada Oppa.” ucap Lisa, dia menarik lengan sang kakak seperti anak kecil yang ingin segera membeli mainan, sangat lucu dan mengemaskan.


“Ambil saja, kau jangan hanya memikirkan pria itu, beli sesuatu untuk dirimu.” ucap Hee-jin matanya tidak pernah menatap kearah lain, pakaian dihadapannya lebih banyak mengalihkan keinginan saat ini. Rasanya ingin memiliki semua ini namun Hee-jin harus menabung untuk kehidupannya.

__ADS_1


“Tentu saja, Thanks Eonnie.” Lisa berlari mengambil setelan jas itu, memilih warna yang biasanya Han sukai dan entah kenapa dirinya tidak sabar untuk melihat reaksi apa yang akan Han berikan, mungkinkah dia senang atau malah tidak.


Setelah hampir 2 jam berada didalam sana, Lisa dan Hee-jin menuju lantai atas, dimana banyak sekali jajaran makanan dari berbagai menu, terlihat mengundang untuk mencobanya dan aroma yang terus menggoda penciuman keduanya.


Sama seperti wanita lain, kedua kakak beradik itu sangat menyukai makanan. Dan akan lupa jika mereka sedang menjalani diet sehat.


“baiklah, untuk kali ini aku akan memanjakan perutku.” ucap Hee-jin, dia menyuruh para asistennya untuk membawa barangnya kembali pulang. 


Meninggalkan Lisa dan dirinya saja disana, karena setelah ini kedua akan mampir ke toko asesoris. 


“Wah, aku ingin memakan semua ini.” Lisa terkagum pada menu yang ada didalam brosur, terlihat sangat enak dan membuat sulit menentukan. 


Hee-jin tersenyum, Lisa benar-benar masih seperti dulu, padahal gadis itu sudah menikah, seharusnya sikapnya lebih dewasa dari dirinya yang masih menyukai kesendirian, Hee-Jin menjadi lebih memikirkan masa depan sang adik.


Apakah dirinya nanti ada disaat Lisa hancur? 


Atau takdir malah berkata lain? 


Entahlah, Hee-Jin tidak bisa memutuskan apapun untuk saat ini, dia tidak punya waktu untuk terus mengetahui segala hal tentang Lisa, tapi masih ada kesempatan menjadi seorang kakak yang baik bukan?


Lisa mengarahkan bola matanya keatas, menunjukkan jika dia sedang berpikir “Tentang adiknya, itu saja yang baru Oppa ceritakan.”


“wanita?? Maksudku--mantan kekasihnya.”


Lisa sedikit sedih, apakah penting mengetahui siapa wanita yang pernah dekat dengan Han, atau pernah menjadi kekasihnya.


“Tidak, itu--Oppa tidak pernah menceritakan tentang mantan kekasihnya.”


Hee-Jin bingung, kenapa Han hanya terbuka dengan hidupan keluarganya, kenapa masalalu percintaannya ditutup rapat. “apa kau ingat? Ibu pernah mengatakan padaku, jika sebelumnya kalian pernah bertemu, waktu aku harus meninggalkan pulau Jeju.”


Lisa bingung, dia mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi waktu liburan di pulau Jeju, dan ketika ingat dirinya langsung menunjukkan wajah terkejut.


“Ah! Aku ingat, Ajusshi itu. Aku menyelamatkan saat dia akan terjun.” 


“Ap--,” Hee-jin berhenti, ketika para pelayan mulai menghantakan makanan mereka, mungkin yang dia tanyakan juga tidak terlaku penting. “makanlah.”


Lisa mengangguk mengerti, dia mengambil garpu dan sendok untuk mulai memakan. Namun entah kenapa tangan Lisa terasa keram, kedua benda itu jatuh kelantai saat tiba-tiba dirinya memikirkan Han. Kejadian di Jeju itu tanpa Lisa sadari memang pria yang hampir menciumnya adalah Han.

__ADS_1


“kenapa Lisa?” Hee-Jin panik, dia mendekati sang adik yang terdiam tanpa ingin mengambil benda yang jatuh, tatapannya menghawatirkan sesuatu. “apa yang terjadi? Katakan Lisa.”


Lisa tersadar saat bahunya ditepuk oleh sang kakak, ini aneh dan sangat menganjal hatinya, Lisa tidak pernah secemas ini dan tubuhnya mengisyaratkan sebuah hal melukai hatinya.


Apa ini? 


“Ak--aku tidak tahu, ini menyakiti jantungku, rasanya sesak dan membuatku sulit bernafas.” ucap Lisa, entah kenapa dia ingin menangis saat ini, kenapa? Ada apa?


“Lisa tenanglah sayang, ikuti aku. Tarik nafas lalu buang” 


Hee-Jin mengajarkan Lisa untuk mengatasi kepanikan, ini sudah hal yang biasa dirinya lewatkan saat memikirkan suatu secara berlebihan, reaksi akan muncul jika rasa itu terus menghantui pikirannya. 


Dan bisa jadi sebuah sinyal. 


“Eonnie, kenapa? Aku takut.”


Hee-Jin memeluk Lisa, membuat gadis itu tenang dan berhenti memikirkan itu, “Lisa tenanglah.”


Memberikan satu gelas air minum untuk sang adik, menatap Lisa yang mulai berangsur membalik tapi sedikit gemetar. 


Ini aneh, reaksi Lisa sangat berlebihan.


Dan benar, Lisa menangis, gadis itu menangis terseduh-seduh sampai membuat keduanya menjadi pusat perhatian, Hee-Jin tidak henti-hentinya untuk membuat Lisa tenang, dia membantu menghapus air mata adiknya dan terus memberikan pelukan hangat.


“Eonnie, aku ingin menghubungi Han.” 


“Baik, tapi jangan disini, kau bisa menelpon saat kita dimobil.”


Lisa mengangguk, dia merasa lepas dibagian perutnya dan pasrah ketika sang kakak membantunya untuk masuk kedalam lift yang menuju area parkiran.


“Lisa, katakan jika kau merasakan sesuatu.” 


Hee-Jin memasang sabuk pengaman, menyalakan mesin mobil dan meninggalkan area mall itu.


Lisa mengelus jantungnya, apa yang membuatnya saat sedih dan sesak ini, rasanya seperti segalanya akan membuat Lisa mati terpaku dengan apa yang terjadi.


note : yuk follow igku. @Kimmala15, nanti aku follback

__ADS_1


__ADS_2