
...Kebahagian? ...
...Sebuah hal yang tidak bisa diukur dengan apapun. ...
...Ada yang kebahagiaan berasal dari uang, ada yang terjadi karena hal kecil. ...
...Karena manusia tidak bisa mengukur kebahagian orang lain hanya dalam satu pandangan saja, bahkan hal seperti itu bukan lagi hal yang harus diperdebatkan....
-
-
-
-
-
Beberapa hari kemudian.
Sesuai dengan yang sudah disepakati sebelum Han dan Lisa memutuskan untuk memisah kamar mereka, kamar mereka bersebelahan dengan satu pintu penghubung untuk kedua ruangan mereka.
Ini terjadi karena Han takut jika Sean malam-malam mendatangi kamarnya dan bisa mengganggu tidur Lisa, mungkin terdengar sepele tapi Sean tidak bisa akrab dengan wanita. Katakanlah seperti ini.
Saat Han membawanya ke Villa, reaksi Sean benar-benar diluar kendali Han, adiknya langsung ingin mengusir Lisa dan tidak segan-segan berbuat kasar, Han juga berpesan pada untuk selalu menjaga jarak dengannya dan memastikan gadis itu mengunci kamarnya.
Sean belum berubah, pikirannya jika Han akan membagi kasih sayangnya dengan Lisa, seperti anak kecil membuat dia sedikit merasa ada jarak renggang antara dirinya dengan Lisa, padahal Han sudah merancangkan jauh hari untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Tapi Lisa benar-benar mengerti, dia seakan memiliki insting kuat dalam memahami kondisi adiknya, Han pikir gadis itu akan marah dan meminta untuk membawa Sean jauh dari mereka.
Sebisa mungkin Lisa mencoba mengakrabkan dirinya dengan Sean, terkadang Lisa bangun sangat pagi untuk membuatkan sarapan untuk mereka berdua, menemani Sean bermain dan sesekali mengajaknya berbicara.
Seperti sekarang Lisa mencoba membacakan sebuah dongeng pada Sean saat keduanya sedang duduk diruang tamu yang kini berubah menjadi ruang main Sean, bahkan disana ada layar TV besar dan juga kota kecil yang bisa dihuni oleh beberapa boneka.
Han sedikit tidak menyukai pandangannya kali ini.
Bagaimana tidak dengan mudahnya Lisa membiarkan adiknya untuk bersandar dipangkuannya sambil mendengarkan dongeng, Han saja bahkan belum pernah diperlakukan seperti ini, jiwa keibuan Lisa benar-benar terpancarkan disana.
Suaranya begitu indah setiap kali membaca setiap lembar, Han hanya bisa mengamati dari kejauhan karena dia harus menjemput Dokter Youngbin, dia harus menjemput paksa pria itu agar dirinya bisa lebih banyak memiliki waktu dengan Lisa.
Bohong jika Han tidak iri dan ingin sekali menjauhkan adiknya dari Lisa.
“kau sudah di bandara?” Han sedengaran melangkah meninggalkan ruang tamu, dia melirik jam dan kemudian segera meninggalkan Villa.
“Dan akhirnya Pangeran Siren hidup bahagia dengan orang yang dia cintai” ucap Lisa, dia menutup buku dongeng bertemakan ‘angel of death or the prince siren’.
Dia terkejut saat melihat wajah Sean yang tertidur didalam pangkuannya, dia sangat berbeda dengan Han dan seakan Lisa memiliki satu karakter yang sama dengannya, dia juga tidak mengerti kenapa ingin sekali dekat dengan Sean, mungkin karena gangguan yang Sean miliki menarik simpatinya dan juga bagaimana Lisa bisa merasa jika pria itu terjebak pada dunia yang bukan miliknya.
Dunia anak-anak, dengan usia yang sudah dewasa.
__ADS_1
Lisa menjauhkan rambut yang menutupi wajah Sean, secara hati-hati meletakkan kepala itu di bantal yang tersedia disana, Sean seperti cermin penghubung dimana Lisa sebelum mengenal Han, dunia dimana Lisa lebih banyak menghabiskan untuk belajar dan mengikuti apa kata sang Ibu.
Tapi dengan Han, dirinya mengenal warna dari dunia lainnya yang dipenuhi setiap pemahaman yang berbeda.
Dia menatap kearah lain, Han tidak kunjung turun padahal ini hari libur, sudah beberapa hari Lisa dan Han tidak berbicara lebih dari lima kalimat, hanya ucapan selamat pagi dan mimpi indah yang sering mereka katakan.
Itu karena Sean masih suka terbangun di malam hari dan terkadang berteriak mengingat kecelakan yang membuatnya seperti ini, Sean dibuat terus mundur dalam ingatannya, dan ini begitu berbahaya jika tidak segera disembuhkan.
Karena kemungkinan Sean akan memiliki trauma berat.
Dan itu benar saja, baru Lisa akan mengangkat kaki menjauh suara isakan Sean membuatnya melangkah mendekat.
“Tidak!”
“menjauh!”
“Awas! Ada mobil---,”
Lisa mendekati Sean menepuk-nepuk pipinya dengan lembut, mencoba menyadarkan agar pria itu sadar dari mimpi buruknya, karena jika tidak Lisa akan sulit dekat dengannya lagi.
“tenanglah, semua akan baik-baik saja. Lupakan yang telah terjadi” ucap Lisa, dia mencoba membangunkan Sean sampai memaksa untuk terduduk dari posisinya.
“kamu siapa?”
Lisa membuang nafas serah, setiap hari selalu seperti ini, dimana ingatan pria itu seakan dihapus dalam mimpinya, dia tersenyum dan memberikan segelas air pada Sean. “Aku? Aku bukan siapa-siapa, sudah merasa lebih baik sekarang?”
Sean mengangguk, melepaskan tangan Lisa yang menyentuh dirinya dan berjalan menjauh, dia terlihat bingung dengan tatapan ketakutannya, itulah kenapa Lisa ingin dekat dengannya. Dia ingin tahu segalanya mengapa pria itu bisa seperti itu dan kenapa Han tutup bicara jika Lisa sudah membahas tentang adiknya.
Lisa keluar saat tahu Han telah kembali, dia tidak tahu jika pria itu akan pergi dan tidak mengatakan jika dia akan pergi, dia berjalan menuruni anak tangga dan menemui Han dengan seorang pria memakai jas putih, dia terlihat tampan dan tinggi.
Kesan pertama saat Lisa melihatnya.
“Dia?” tanya Youngbin, dia terkejut melihat seorang gadis tinggal disana.
Han yang ada di sampingnya hanya diam, dia menarik Lisa menjauh dari teman SMA-nya dan menepi ke tempat yang cukup jauh dari Youngbin, Han ingin Lisa tahu lebih dahulu sebelum memperkenalkan mereka.
“Lisa dengarkan aku, pria di sana itu adalah dokter yang akan merawat Sean, dia juga temanku dan bisakah kamu mengatakan jika kita sudah menikah padanya?” ucap Han, dia menyandarkan tubuh Lisa di dinding dapur dan menatap gadis itu dengan serius.
“Tapi--bukankah---,”
“Aku tahu, Lisa. Aku ingin kamu untuk tidak tahu mengatakan itu pada orang sekitar kita nanti, aku tidak mau menyembunyikan diriku, kamu istriku dan aku suamimu, kita sudah menikah”
Lisa tertegun, dia merasa ucapan Han memperjelaskan segalanya dan hal ingin sekali Lisa akui, walau pria itu belum mengatakan jika dia mencintai Lisa tapi diakui keberadaannya menghilangkan sedikit kesedihannya akhir-akhir ini.
Lisa tersenyum, dia menarik wajah dan gadis itu mencium Han lebih dahulu, walau terlalu cepat Lisa masih begitu ragu-ragu untuk menciumnya, itu hanya terjadi selama lima detik dan berefek panjang untuk Han.
Pria itu menatap tidak percaya pada Lisa, beberapa kali mengamati wajah gadis itu dan hanya rasa senang yang dia temukan. “siapa yang mengajarimu?”
“bukankah Oppa sendiri?” jawab Lisa, dia mengalungkan tangannya pada Han dan tersenyum lebar.
__ADS_1
“kamu mulai nakal ya” ucap Han, dia mengangkat tubuh Lisa dan mendudukkannya di meja makan, kembali menyatukan kedua benda kenyal itu, mereka berciuman pada sadar jika ada satu orang yang menatap ke arah mereka.
“Han! Bisakah kita bicara? Kau bisa melanjutkan nanti malam” teriak Youngbin, dia menyeret kopernya untuk duduk disofa.
Han terkejut, dia melepaskan ciuman itu dan merasa lupa jika disini ada banyak orang, dia mengecup kening Lisa sebelum menurunkan gadis itu.
“berjanjilah satu hal padaku?”
Lisa memberikan tatapan serius, “berjanji? Tentang hal apa?”
“Untuk tidak melakukan hal itu, dan kamu dilarang keras melakukan itu pada pria lain”
“baiklah”
Han tersenyum, dia menggenggam tangan Lisa untuk kembali ke ruang tamu menemui pria yang tadi menganggap dirinya, jika Han tidak membutuhkannya disini mungkin sudah Han usir jauh - jauh dari kediamannya.
“aku rasa, kamu sudah tahu siapa dia” ucap Han didepan Youngbin yang menatap biasa.
“aku Lisa, senang bertemu dengan Ajusshi” ucap Lisa, tangannya ditahan oleh Han saat akan mengulurkan untuk berjabat tangan dengan pria itu.
“Ajusshi? Apakah aku terlihat setua itu? Aku Kim Youngbin psikiater.” ucap youngbin dengan sedikit marah, dia orang yang dibutuhkan disini tapi Han tidak menghargainya.
“Lisa kembali ke kamarmu, nanti malam kita bicara” ucap Han, dia menyuruh Lisa kembali ke kamarnya karena Han akan membawa Youngbin untuk bertemu Sean.
“sejak kapan kau menyukai gadis yang begitu jauh usianya denganmu? Bukankah saat kuliah dan SMA kau lebih sering dekat dengan Noona?”
“sudah! Bangunlah pemalas, kau harus segera bekerja, aku membawamu kesini bukan mencampuri urusanku! Dan aku mengajimu bukan untuk mengungkit masa lalu” ucap Han, dia sangat berbeda saat memperlakukan Lisa dengan orang lain.
“Wow! Kau bermuka dua sekali, harusnya gadis itu melihat sifatmu yang sekarang bukan tadi!”
“kau banyak bicara!”
Setelah perdebatan antara keduanya, kini Han membawa youngbin kedalam kamar Sean, alasan Han memilih Youngbin karena Sean mengenal teman itu, karena Sean tidak suka mengenal orang baru, dia bahkan rela memaksa Youngbin kembali padahal dia suka tinggal di jepang.
Dan benar, Sean langsung bisa berteman baik dengan Youngbin.
“Sean, sekarang berapa usiamu?”
“17 tahun, Hyung tahu jika kemarin aku memenangkan olimpiade matematika?”
Han dan Youngbin saling menatap, Sean benar-benar terjebak dalam usia 17 tahun dan masa saat itu, youngbin mencatat segalanya dan memutuskan untuk mengajak Han berbicara diluar.
“kita harus membuatnya keluar dari Zona 17 tahun, sudah tidak ada perkembangan jika kau terus membuatnya seperti ini Han”
“bagaimana? berapa persen akan berhasil?”
“aku tidak tahu, tapi membuat dia bertemu dengan teman masa lalu bisa membantunya atau membuat pria itu mengenal jika usianya sudah bukan lagi 17 tahun, dimana dia bisa berkenalan dengan wanita atau memulai memahami dunia orang dewasa”
Han terdiam, dia membiarkan youngbin untuk masuk kedalam.
__ADS_1
Solusi apa yang akan dia pilih?
note : lebih dari 25 like, update lagi. selamat malam minggu 😊