
Keesokan harinya.
Semua di buat terpaksa bangun pagi saat Tuan Kang Nam. Mendatangi kediaman Villa Han, tentu itu membuat Sean memberontak ingin bertemu dengannya, tapi semua kembali tenang saat dokter youngbin menahan Sean.
Suasana menjadi tegang diruang tamu, Han menunjukkan wajah malas, belum lagi ayahnya memaksa Lisa untuk bergabung dalam perbincangan antara ayah dan putranya, padahal tidak ada hubungannya sama sekali.
“kau pikir aku tidak tahu? Sejak kapan kau perduli pada adikmu?” ucap Tuan Kang Nam. Pria tua itu langsung kemari setelah perjalanan bisnis, dia seakan kesal melihat Sean tidak ada dirumah.
Padahal dia lebih kejam dari Han, sekarang dia bertingkah seakan perduli pada Sean.
“Ayah! Jika waktu itu kau tidak mengirimku, keluar negeri untuk kuliah, apakah Sean akan begini? Katakan disini siapa yang seharusnya disalahkan?” Ucap Han, dia menahan nada ucapannya.
Lisa yang tidak terbiasa, dia juga tidak kuat mendengar ucapan yang terlalu tinggi, sedikit demi sedikit mengeser posisi duduknya, menjauh dari Han dan menunduk saat Sang mertua menatapnnya.
“dimana Sean? Aku ingin membawanya pulang.”
“Tidak! Sean tidak akan pernah kembali, dia harus tetap disini. Dia tidak biaa tetap menjadi boneka ayah lagi, dia manusia. Layak untuk hidup.”
Tuan Kang, tidak terlalu memperdulikan Sean yang ada disini, tujuan untuk Lisa. Memastikan jika gadis itu sudah memberikan dirinya, dia juga kesal rencananya gagal malam itu. “seharusnya kau memikirkan cara untuk membuat gadis itu hamil! Bukan mengurus adik yang sudah mentalnya terganggu.”
Lisa merasa sedih, ini semua kembali pada tujuan awal dia disini, memberikan keturunan pada keluarga Kang, tapi itu berarti--, Lisa memainkan jarinya dan mengigit bibir bawahnya, dia tidak bisa membuka suara untuk membela. Kata kenyataannya itu benar.
Han menatap kearah Lisa, dia merasa bersalah padanya, jika pria tua itu tidak ada disini. Mungkin Han sudah memeluk tubuh istrinya, mengatakan jika semua akan baik dan Han akan sabar menunggu.
Han menghela nafas panjang, mengusap wajahnya dan kembali menatap sang ayah “tenang saja, saat ini Lisa sedang hamil.”
Lisa menatap bingung kearah Han, sama dengan Tuan Kang yang terkejut, keduanya menatap Han dengan tatapan bingung.
“Oppa.” panggil Lisa, dia tidak suka berbohong, bagaimana jika kebohong ini terus berlanjut dan malah membuat Lisa semakin takut. Takut Lisa harus melepaskan Han.
Han tersenyum, sambil mengenggam tangan Lisa, sebisa mungkin menyuruh Lisa untuk mengikuti apa yang Han katakan.
“baguslah, aku butuh hasil USG-nya secepat mungkin.” Dia mengangkat tangannya, memerintahkan asisten untuk membawanya pergi dari rumah ini. Tujuan sudah terjawab hanya tinggal memastikan jika itu benar.
Lisa menatap Han, dia melepaskan tangannya dari genggamannya. Dan menggeleng sedih. “Oppa, ini bukan solusi yang baik, apalagi aku belum melakukan apapun dengan Oppa.”
“Lisa--,” Han menahan Lisa yang semakin menjauh. “kita bisa mencobanya, aku benar-benar tidak ingin kehilangan dirimu, jika memang itu tidak berhasil, kita bisa memalsukan hasil usg-mu dan setelah itu kita bisa mengatakan jika kau keguguran, jika perlu kita bisa mengadopsi bayi.”
Waktu yang diberikan Taun Kang memang tinggal tiga bulan, dan tertulis jelaa dalam peejanjian jika Han dan Lisa bisa bercerai jika mereka berhasil membuat keturunan, yanh itu berarti Lisa masih memiliki kesempatan lain.
“Aku Takut, Aku benar-benar takut. Bagaimana jika itu tidak berjalan dengan baik? Oppa. apakah kau mencintaiku?” tanya Lisa.
Han mengendorkan genggaman tangannya, pertanyaan yang tidak bisa Han jawab, dia belum tahu perasaannya saat ini, dia hanya mengatakan jika memang dia takut kehilangan Lisa dan sangat tidak suka jika orang lain menyentuhnya, tapi apakah itu layak dikatakan cinta? Apakah perasaan sudah hilang pada mantan kekasihnya.
__ADS_1
Bunyi Bell menghancurkan suasana tegang itu, mungkin saja Mina sudah datang dan siap untuk mengikuti permohonan Han.
“kamu mandilah dulu, seperti itu Mina, aku perlu waktu untuk berbicara dengannya” ucap Han, sebelum meninggalkan Lisa, dia mengelus surai gadis itu dan berjalan mendekati pintu.
Panah mendarat dengan cepat di dada Lisa, pria itu lebih memilih pergi daripada harus berbicara dengan Lisa, lebih tepatnya mengatakan isi hatinya.
Ketika Han membuka pintu, tepat dengan yang dia katakan jika itu memang Mina, dia tersenyum dan membuka pintunya.
“kau datang tepat waktu.” ucap Han, dia membiarkan Mina masuk lebih dahulu, menyuruhnya untuk duduk di sofa, sedangkan dirinha mengambil bebberapa cemilan dan minuman.
“Dimana Lisa?” ucap Mina, dia melepaskan jaket dan tas lempangnya, dia menatap keseluruh ruangan itu, ada sedikit perubahan, padahal belum lagi Mina kesini.
“Dia sedang mandi,minumlah. Aku akan memanggil Sean dan seseorang.”
Han melangkah naik keatas, segera menuju kapan Sean yang bersebrang dengan kamarnya, dia membuka pintu dan melihat Youngbin yang sedang mengajarkan Sean sesuatu.
“Dia sudah datang.”
Youngbin mengangguk mengerti, doa membawa Sean keluar. Diikuti Han di belakang, Sean tidak tahu apapun, tapi dia tidak menaruh curiga sedikit-pun ketika mereka membawa dirinya.
Hal pertama yang Sean lihat adalah gadis yang duduk disofa, sambil memakan beberapa cemilan dihadapannya, entah kenapa tangannya begitu gemetar, mengingat pada suatu hal. Tatapan hanya fokus padanya.
Han dan Yongbin menyadari itu, tanpa dibantu untuk menuruni anak tangan, Sean dengan sendiri turun dan berjalan mendekati Mina, gadis itu menatap satu persatu dari tiga pria itu secara bergantian.
“Mina, ini adikku dan ini dokter Youngbin.”
Youngbin mengulurkan tangan dahulu, Mina dengan senym paksa menbalasnya dan bingung ketika pria bernama Sean itu duduk disampingnya.
Han memberikan isyarat pada Youngbin untuk meninggalkan mereka berdua, dan dengan cepat meresponnya, kedua benar-benar menginggalkan Mina dan Sean.
Sean merasa benturan hebat menghantam kepalanya, rasanya memori kejadian itu berputar cepat dan tidak berhenti sampai dia bertemu gadis kecil yang menemaninya dirumah sakit. Satu persatu ingatan itu menyakiti pikiran dan tubuhnya.
Mina khawatir, dia juga takut, namun sedikit merasa kasihan. Dia tahu kisah yang dia dengar adalah pria yang tujuh tahun menyelamatkan diri namun membuat Ibunya pergi. Mina gemetar hebat saat Sean merintih kesakitan. “kamu baik? Katakan sesuatu jika kamu merasakan hal yang menyakitkan.”
Sean mengenggam tangan Mina tanpa sadar saat dia menepuk bahunya, dia mencoba menghilangkan sakit kepalanya dan ketika dia menatap Mina. Dirinya terlempar pada portal masa lalu.
‘K-Kau gadis itukan.’
*******
“Mina?”
“Mina, apa yang kamu pikirkan kenapa melamun?” tanya Han, dia belum memperkenalkan adiknya tapi gadis itu malah melamun menatap kearah lain.
__ADS_1
“Ha? Apa yang terjadi?” Mina menatap bingung, bukankah tadi dia duduk berdua dengan Sean yang sedang menggengam tangannya.
“kamu sakit?” tanya Youngbin, dia juga penasaran kenapa gadis itu diam saja.
Mina merasa seperti melihat apa yang akan terjadi, dia menggaruk bingung kenapa seperti ini, padahal Mina tidak tahu siapa pria yang bernama Sean itu.
“ini adikku. Namanya Sean.”
Sean menatap kearah Mina, siapa lagi gadis yang akan tinggal disini, dia saja sulit menerima kehadiran Lisa, kini ditambah gadis bernama Mina. “Hyung, apa yang sebenarnya ingin kamu tunjukkan, aku pikir kamu ingin memberikan mainan baru.”
Han mengelus rambut Sean, dia menatap keadiknya “Sean, dia orang yang suka padamu.”
Serentak Mina,Youngbin, Sean. Menatap kearah Han, terkejut dengan ucapan pria itu dan menunggu penjelasan lainnya.
“Itu benarkah Mina?”
“Y-Ya” Jawab Mina dengan ragu, ini tidak sesuai dengan apa yang telah dia sempati dengan Han kemarin, Mina hanya membantu bukan menjadi orang yang menyukai Sean.
“Apa kita pernah bertemu?” tanya Sean dengan bingung, dia tidak mengingat wajah gadis itu sama sekali, bagaimana bisa mengaku menyukai dirinya.
“Ha--Itu--,”
“Pernah, kalian beberapa kali sudah bertemu.” sela Han, dia mencoba menyakini adiknya dan sedikit melakukan kebohongan.
“Mina, katakan sesuatu.”
“apa Oppa lupa dengan pertemuan waktu itu? Aku sedih jika kamu melupakannya begitu saja.” ucap Mina, dia mulai memainkan karakternya.
“Kau lupa? Seperti kamu harus menjalani terapi ingatan Sean.” tambahan Youngbin.
“Hyung Youngbin juga mengenalnya?” tanya Sean, kenapa hanya dirinya yang tidak tahu itu.
“Tentu.”
Sean menggaruk bingung, apakah ada yang salah dengan dirinya?
“Hyung, bantu aku mengingatnya.”
Youngbin dan Han, tersenyum bersama. Setelah berbagai cara digunakan untuk memaksa Sean mengikuti terapi atau hipnotis mimpi. Akhirnya dia sendiri yang memintanya.
Cara ini mungkin akan menyakiti Sean, kata secara sadar Sean akan dibawa kealam mimpi dengan kejadian yang begitu nyata dan bahkan itu seakan dirinya menyaksikan langsung.
Lain berbeda dengan Mina yang tidak tahu harus memberikan reaksi apa, dia masih binging dengan hal aneh yang di rasakan beberapa menit yang lalu, tapi secepat bergantinya detik, Mina melupakan itu.
__ADS_1