“Istri Lugu Presiden Han”

“Istri Lugu Presiden Han”
Chapter 6 : prince ice


__ADS_3

Masih menjadi sebuah keharusan yang bisa dikatakan kewajiban menjadi putra sulung di keluarga Kang untuk memberikan keturunan yang harus memiliki DNA murni sang ayah dan kesehatan dari calon sang ibu. 


Didepan cermin yang bisa memberikan gambaran betapa tampan dan tingginya seorang Han dibaluti oleh jas hitam dan kemeja putih, ditambah dengan dasi semakin memperlihatkan sisi pemimpin masa depan idaman kaum hawa.


Dengan wajah datar dan sikap yang begitu cool melebihi lemari kulkas dua pintu itu membuat Han terlihat begitu dingin namun sesungguhnya dia adalah pria yang lemah dalam ikatan masa lalu, sikap baik itu benar-benar sudah terkubur di gantikan dengan sikap keras kepala dan prince ice.


Sebagai pemimpi sudah seharusnya Han memiliki sikap seperti itu sejak dia dipaksa mengambil alih gedung bertingkat itu satu tahun yang lalu, jika bukan karena Han memikirkan kehidupan Sean yang harus terus diawasi oleh perawat dan psikiater, mungkin Han sudah memilih menjadi seorang pemain piano terkenal, namun semua kembali pada takdir dan pilihan, jadi tidak ada pihak yang bisa disalahkan untuk saat ini dan kedepannya.


Setelah memakai jam pemberian dari seseorang yang sudah lama dicintai yang kini dirinya sudah bahagia tinggal bersama pria lain, seharusnya Han membuat jauh semua kenangan dirinya dengan wanita itu, tapi tidak ada sedikitpun dalam lubuk hatinya ingin segera melupakan wanita yang sudah menetap dalam hatinya lebih dari 7 tahun lama.


Sebelum melangkah keluar dari kamarnya, pria itu mencoba untuk menghela nafas sebagai satu permulaan jika dirinya siap akan bertemu dengan sang ayah dengan segala desakan dan juga ancaman yang sebagai ganti dari sarapan pagi untuk Han.


“Hyung!” 


Baru berlangkah meninggalkan kamarnya, Han membalik tubuhnya untuk melihat sosok sang adik yang tidak pernah berubah semejak kecelakaan itu terjadi, setiap kali melihat tatapan polos dari seorang Kang Sean benar-benar membuat Han ingin sekali menghancurkan hidup orang yang telah membuat adiknya menjadi seperti ini.


Dia berputar balik dan melangkah mendekati Sean, dengan piyama yang masih melekat pada tubuhnya seperti tadi malam, Han merangkul tubuh sang adik untuk menuruni anak tangga bersama-sama.


“Hyung! Bisakah Hyung belikan aku buku dongeng lebih banyak?”


“kamu sudah belajar merapikan kamarmu sendiri?” tanya Han, dia tersenyum murung ketika tangan Sean lebih dipenuhi oleh kotoran permen daripada pulpen atau alat tulis lainnya. 


“Hyung! Bukankah sudah ada pembantu untuk apa aku melakukan itu!”


Han menarik kursi memerintahkan Sean untuk duduk disana, dia mengambil kain untuk membersihkan tangan dan juga mulut Sean layaknya seperti anak kecil yang belum mengerti apapun, “Sean, kamu harus lebih sering mengikuti kata Hyung mulai sekarang, mulai sekarang kamu tidak boleh menangis meminta suatu, Sean mengerti? Berapa usia Sean saat ini?”


“17 tahun”


“Sean! Kau ini su-- lupakan! kamu nikmati saja sarapanmu”


Dengan sedikit kesal Han melemparkan kain yang tadi gunakan untuk membersih-kan Sean ke sembarang arah, Han muak dengan semua ini belum lagi urusan pekerjaan yang terus mengejar dirinya seperti seorang penagih hutang. 


Suasana ini membuat Han sulit untuk membiasakan diri tinggal dirumah mewah itu ini lagi, baru saja kakinya akan melangkah meninggalkan rumah, langkahnya harus terhentikan karena beberapa pelayan menghadang dirinya.


“Tuan Muda, Tuan Kang ingin berbicara dengan anda” ucap sang pemimpin pelayan. Semua rumah ini begitu takut jika harus berhadapan dengan Han secara langsung apalagi jika suasana hati sedang memburuk satu persatu dari mereka akan menerima imbas dari kekesalan. 

__ADS_1


“Tuan Kang menunggu di ruang perpustakaan” ucapnya lagi, dia menundukkan sebelum meninggalkan Han.


Han terpaksa menghancurkan riasan rambut dan juga dasi yang sudah terpasang rapi. Dia segera meninggalkan teras rumah dan kembali melangkah masuk kedalam.


“katakan apa mau anda?”


Begitu tiba di ruang penuh dengan tumpukan buku tersusun dari di dalam rak, Han langsung mengucapkan kalimat yang tidak sopan pada ayahnya, seharusnya dia memberikan sedikit sopan pada orang yang sudah membesarkannya hingga sekarang. 


“beri aku seorang cucu!”


“kau hanya ingin seorang penerus untuk grup Kang bukan?”


Tuan Kang yang sedang menatap indahnya pemandangan di luar, langsung memberikan tatapan tajam pada putra yang saat ini hanya bisa diandalkan untuk tetap membuat keadaan keluarganya menjadi lebih baik.


“Kau juga harus nikah! Kita bukan hanya butuh penerus grup Kang tapi juga seorang yang bisa merawatku dan adik gilamu itu!”


“Ayah!! Sudah cukup kau terus mendesakku untuk menikah! Tapi jangan menghina Sean yang tidak tahu apapun! Dia hanya korban dari tekanan ayah yang terus memaksa untuk selalu menang dalam setiap perlombaan Matematika! Jika saat itu Ayah tidak memaksa Sean pergi… mungkin dia sekarang sudah bisa membantuku mengelola Grup Kang!” ucap Han sedang sedikit emosi yang dilibatkan dalam setiap kalimat, Ayah terlalu takut akan kehilangan kekayaannya dan juga begitu terobsesi pada sesuatu hal.


Itu adalah Han sangat tidak suka berada di rumah, tempat seperti istana namun bagaikan penjara. 


“Ayah cukup!! Jika Ayah menyuruhku untuk menikah agar bisa merawat dirimu dan Sean, untuk apa aku harus di jodoh, lebih baik aku menikahi pelayan di rumah ini! Kita memiliki lebih dari 20 pelayan apakah masih tidak cukup untukmu? Atau kau sendiri yang ingin menikah! Silahkan aku tidak perduli!” teriak Han, dia benar-benar meninggikan suara hingga mungkin yang melintas di luar ruangan bisa mendengar suaranya. “aku pergi!!”


Firasat buruk tentang kejadian ini membuat Han takut jika Sean akan mendengar pertengkaran dirinya dengan sang ayah lagi. Dia keluar dari ruangan dengan segala perasaan yang bertumpuk menjadi satu, saat keluar dari lorong rumah benar saja dia melihat Sean terdiam disana.


“Hyung, menyakiti ayah lagi?”


Dengan kesal Han mengusap wajahnya dengan singkat.


“Sean, kau salah paham--”


“aku tahu jika aku tidak berguna! Tapi jangan menyakiti ayah lagi Hyung, jika ibu melihat dia juga akan sedih”


Ucapan polos Sean benar-benar memberikan tamparan tetap diwajah Han, dia lupa jika kecelakaan itu terjadi sebelum sang ibu meninggal dan kini Han harus menyalahkan dirinya sendiri akibat semua sikapnya yang mudah sekali terpancing emosi dan terlalu menganggap jika semua beban ini hanya dia sendiri yang terus menangungnya.


“Jaga ayah dengan baik, aku akan pergi bekerja”

__ADS_1


“apa Hyung akan kembali nanti malam?” tanya Sean.


“aku tidak bisa berjanji Sean, aku harus pergi”


Han menepuk kepala Sean dengan lembut, dia segera melangkah meninggalkan rumah itu walau rasanya dia terlalu takut akan kembali lagi nanti, tapi sesaat ini dia harus segera kembali ke kantor sebelum rapat dimulai dan Keira akan memarahinya lagi.


******


Suara Bell rumah berdering mengalihkan perhatian ibu dan anak yang sedang menikmati indahnya sarapan pagi dengan semangkuk sereal dan sekotak susu coklat.


“Mom, biar Lisa yang membuka pintunya” 


Lisa membuka pintu rumahnya setelah memeriksa siapa yang berkunjung ke rumahnya sepagi ini. “Eonnie?” Lisa begitu senang melihat sang kakak yang kembali pulang walau wajahnya tidak pernah seramah Lisa, gadis itu tetap saja bahagia bertemu dengannya.


“Mom, Eonnie pulang!!” teriak Lisa, langsung Memberitahu siapa yang datang kepada sang ibu seperti anak kecil.


“kau berisik sekali, tidak lihatkah? Aku lelah menjauhlah dariku dan biarkan aku lewat!”


“Eonnie mau Lisa bantu?” 


“hantarkan kekamarku”


Heejin melewati Lisa begitu saja, dia juga mengabaikan sang ibu yang baru saja tiba, dia benar-benar bersikap dingin pada keluarganya sendiri.


“Eonnie pasti lelah Mom, jadi dia ingin segera beristirahat” ucap Lisa, dia menyeret satu persatu koper yang begitu berat masuk kedalam rumah.


“sini biar Mommy bantu, Lisa pergilah mandi, kita harus pergi nanti”


“siap Mom”


Lisa berlari meninggalkan sang ibu dengan dua buah koper yang tergeletak di sana.


“aku harus bagaimana Tuhan? Kenapa harus putriku yang seperti ini? Kenapa tidak pada diriku saja? Aku seorang ibu tapi aku benar-benar kehilangan kedua putriku”


Sedikit sedih bercampur ingin marah, Yoona memerintahkan para pelayan untuk membawakan koper Heejin ke kamarnya, dia harus menghubungi seseorang dalam urusan bisnisnya.

__ADS_1


Note : aku mohon, tolong like dan komen untuk bab ini, apakah sulit untuk melakukan itu? kita bisa saling support,kan?


__ADS_2