
"Mama akan mencoba menghubungi papa mu,"
Andra mengangguk, dia tidak sabar bertemu dengan ayahnya, ingin sekali dia bermain seperti yang lainnya, memiliki keluarga yang lengkap.
Ayu berkali-kali menghubungi Adam, sayangnya, semua panggilannya tidak di angkat sama sekali, kecuali jalan satu-satunya dia harus pergi ke rumah mantan mertuanya, tapi ia khawatir kalau kedua orang itu akan mengusirnya.
"Dia tidak akan berani mengusir ku kalau aku bersama Andra kesana kan?" gumam Ayu sambil menimang-nimang pikirannya.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke rumah kakek dan nenek, kita tidak tahu kemana ayah mu," ucap Ayu. Berulang kali dia menemui Adam namun Adam tidak ada di sana dan mobilnya pun tidak ada. Padahal Adam memang sengaja menyembunyikan mobilnya agar Ayu menyangka Adam tidak ada.
"Baiklah, aku tidak sabar menemui nenek dan kakek," ucap Andra antusias.
***
Ayu menepikan mobilnya, dia melihat ke rumah berlantai dua dan megah itu, pernah ia kesini namun hanya ada nada ketus di dalamnya. Ia tidak pernah di terima dengan baik di keluarga ini. Pada akhirnya ia harus memilih pergi.
"Sayang, kamu tunggu di sini. Mama keluar dulu,"
Ayu menghampiri seorang satpam yang sedang khusuk membaca koran di tangannya, dan pria itu pun langsung menghampiri Ayu.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu Nyonya?" sapa pria itu dengan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Mahira?"
Satpam itu sedikit mengernyit keningnya dan akhirnya mengangguk. "Baik, saya akan tanyakan dulu," ucapnya. Dia pun berlari dan melaporkan keinginan Nyonya yang ia temui.
"Apa dia tidak mengenal ku?" tanya Ayu, padahal dirinya pernah kesini beberapa kali dan ia yakin satpam itu sudah mengenalnya.
Selang beberapa detik, pria bertumbuh gemuk itu pun kembali berlari, dia membukakan gerbang untuk menyuruhnya masuk.
Ayu tersenyum senang, dia pun mengajak Andra masuk ke dalam.
Ayu memperhatikan seorang wanita yang ia yakini sebagai Mama Mahira. Dia pun mendekat bersama Andra.
Mama Mahira melepas kaca matanya dan menaruh majalah yang ia baca, ia memperhatikan Ayu dan anak kecil di sampingnya. Entah kenapa? ia tidak suka dengan anak kecil itu, mengingatkan dirinya pada Almarhum anak pertamanya.
"Ada apa?" tanya Mama Mahira begitu datar.
"Andra sangat merindukan Papanya Ma, beberapa hari yang lalu aku ingin menemuinya, tapi Mas Adam tidak ada, apa Mama bisa mengatakan pada kami di mana Mas Adam?"
__ADS_1
"Huh, kenapa harus tanya pada ku?" tanya Mama Mahira dengan nada ketus.
Ayu mengepalkan sebelah tangannya, giginya gemelatuk, sama seperti dulu. Ia tidak tetap di terima di keluarga ini.
"Bertahun-tahun Mama seperti ini pada Ayu, apa Mama tidak pernah melihat Andra sedikit saja? Dia cucu mu, Ma."
Mama Mahira membuang wajahnya, sejujurnya ia sangat kasihan, tapi melihat wajahnya selalu mengingatkan kejadian yang telah ia kubur dalam-dalam. "Kau pikir aku akan mengakuinya?"
"Ma, dia cucu Mama, dia cucu pertama Mama."
"Semenjak kapan aku mengakui mu, kalau aku tidak mengakui ibunya berarti aku tidak mengakui anaknya."
Dada Ayu semakin sesak, selama bertahun-tahun dia tersiksa dengan kehamilannya. Sedangkan Binar malah makan enaknya saja.
"Baik, jangan harap Mama bisa bersama Andra. Ayo sayang, kita pulang. Kita tidak di butuhkan di sini," ucap Ayi langsung menyeret Andra.
Mama Mahira menghapus air matanya melihat punggung kecil itu, hatinya begitu sakit melihat anak itu yang mengingatkan putranya.
Dia memegang dadanya yang terasa nyilu. "Sebaiknya aku bertemu dengan Abra, mungkin dengan bertemu dengannya bisa menghilangkan semua kegelisahan ku."
__ADS_1
Sedangkan Ayu, dia memukul stir mobilnya. Bagaimana caranya ia bisa mendapatkan pengakuan dari kedua mertuanya. Ia tidak bisa diam seperti ini, sementara nasib Andra di pertaruhkan. Ia ingin putranya hidup layak dan lebih berhak dari anak Binar karena Andra anak pertama Adam, seharusnya dia lah yang berhak.