
Siang ini, Binar begitu senang. Dia berkutat di dapurnya, menyajikan beberapa hidangan untuk di bawa ke kantor suaminya. Bahkan saat memasak pun senyumannya tak pernah luntur, pasalnya hari ini suaminya yang memintanya untuk membawakan makan siang. Jika dulu, suaminya tidak pernah memintanya, bahkan dia pun sering membawakannya, namun suaminya tidak pernah menyentuh barang sedikit pun.
"Bi, tolong kamu pindahkan ini ke kotak bekalnya. Aku mau mandi dulu,"
"Iya Nyonya," ucap Bi Lia.
Sebelum memasuki kamarnya, dia mengetuk kamar Andra dan ingin mengajak anak itu ikut bersamanya.
Tok
Tok
Tok
"Andra, ini tante, boleh tante masuk,"
Andra yang sedang membaringkan tubuhnya pun membuka kedua matanya, ia sangat bosan berada di kamar ini, sekalipun ada beberapa mainan di kamarnya, tapi ia tidak tertarik sedikit pun. Hatinya gelisah, ia ingin bermain dengan Abra, tapi jiwa egonya pun sangat tinggi.
"Masuklah!"
Mendapatkan sahutan, Binar pun masuk. Dia menghentikan langkahnya tepat di samping putranya. Rasa bersalah pun mulai keluar, ia melihat Andra yang sedang berbaring dan sepertinya ingin tidur siang.
"Maaf, kalau tante mengganggu mu. Siang ini tante akan mendatangi kantor Papa mu, kau mau ikut?" tanya Binar. Kalau ia meninggalkan Andra sendiri, ia merasa bersalah. Sekalipun Andra tidak mau ikut, itu terserah Andra, yang penting ia sudah mengajaknya.
"Kenapa mengajak ku??" tanya Andra mengalihkan pembicaraannya. Ia belum yakin wanita di depannya baik padanya, di televisi banyak ibu tiri yang berkedok baik. "Seharusnya kau tidak mengajak ku kan? kau tidak perlu berpura-pura."
Seandainya bukan anak suaminya, ia akan tenggelamkan di air es kutub utara.
Sabar Binar batinnya.
"Kau mau ikut tidak?" tanya Binar. Dia begitu enggan menjawab perkataan Andra.
__ADS_1
"Boleh, aku mau ikut bertemu dengan Papa, tapi bukan karena ajakan mu." Ucap Andra dengan datar.
"Hana yang akan membantu mu untuk bersiap-siap." Ucap Binar. Dia selalu menahan emosinya setiap kali berbicara dengan Andra, tapi ia kasihan pada Andra yang sepertinya selalu di tekan oleh Ayu.
***
Binar telah selesai bersiap, dia menggunakan Dres berwarna maron dan ikat pinggang yang melinggkar di bawah dadanya dan sepatu heels kaca. Lalu Bi Lia yang menggendong Abra dan Hana yang menuntun Andra, bocah itu kini tak lagi menggunakan kursi roda lantaran malas dan tidak membuatnya leluasa.
"Ya sudah, ayo kita berangkat."
Diam-diam, Andra melirik Abra. Ingin sekali dia menggandeng tangan kecilnya itu, tapi ia takut Binar akan memarahinya. Ia begitu rindu sosok adiknya itu.
Sesampainya di mobil hitam dengan seorang supir yang berdiri di samping pintu mobil yang terbuka sambil tersenyum menyambut sang nyonya.
"Andra masuk dulu,"
Andra masuk dengan di bantu Hana, kemudian Abra. Anak itu berjalan menghampiri tempat duduk yang di duduki oleh Andra.
"Sini duduk sama Kakak,"
"Gak au," ucap Abra dengan suara cadelnya. Dia menarik tangannya yang di genggam Andra.
"Sayang, tidak boleh begitu. Kakak Andra sayang sama Adek, jadi harus nurut sama Kakak."
Abra hanya menunduk, memainkan sesuatu di tangannya. Entah apa yang bocah itu perhatikan dan tidak mendengarkan Binar.
"Ma, Ma, "
Abra berhambur memeluk Binar, dia pun duduk di atas pangkuannya sambil menyandarkan kepalanya di dada Binar.
Andra menatap penuh kecewa? padahal ia selalu menggenggam rindu untuk adiknya, berharap adiknya mau bersamanya. Sepertinya ia harus berjuang sedikit lagi.
__ADS_1
"Jalan Pak," titah Binar. Dia belum menyadari kalau Andra menatap Abra penuh kecewa.
Selama perjalanan pun Binar dan Andra diam, hanya celoteh Abra yang menghiasi perjalanannya, Binar sering melirik Andra, takut bocah itu mabuk atau merasa tidak nyaman karena belum sembuh 100%.
"Ma, Ma,"
"Pa, Pa,"
Celoteh Abra yang kadang memanggilnya dan memanggil Adam membuat suasana di dalam mobil itu sedikit mencair. Abra kembali berdiri dan Binar membiarkan saja anaknya bermain, memegang sandaran tempat duduk itu, lalu mengguncangkan tubuhnya.
Andra memutar bola matanya, ia seakan tidak terima Abra di sayang seperti itu, hatinya seolah ingin mengatakan kalau ia cemburu. Bahkan ingin sekali Binar menyapanya.
Ehem
Derheman Andra membuat Binar menoleh.
"Iya sayang, apa kau butuh sesuatu?" tanya Binar.
"Tidak!" ketusnya.
***
"Sayang," sapa Binar. Dia pun masuk di ekori Andra.
Adam langsung mengambil alih Abra, sejak tadi ia memang menunggu kedatangannya dan Binar pun telah menghubunginya setelah sampai.
"Andra, kau juga ikut?"
"Hem, iya." Jawab Andra. Dia pun melangkah ke arah sofa dan duduk dengan wajah sungut.
Kenapa selalu Abra
__ADS_1