
Binar telah selesai di periksa, beginilah Adam jika menyangkut Binar. Dia akan terus mengawasi kesehatan Binar. Padahal Binar sudah di nyatakan sembuh, namun Adam tetap memeriksa kesehatan Binar. Ya selama sebulan ini, satu minggu sekali. Adam akan mengantar Binar ke rumah sakit. Menanyakan tentang perihal kesembuhan Binar bagi Adam dan Binar ingin secepatnya mendapatkan momongan.
Semalaman Binar menginap di rumah sakit, karena permintaan Adam. Padahal Binar sudah mengeluh ingin pulang, tapi Adam selama satu hari. Bahkan berjalan pun selama satu bulan dia tidak boleh, katanya takut terjadi apa-apa pada perut Binar.
Seperti saat ini, Adam yang heboh sendiri dan meminta Dokter memeriksa kembali tubuh Binar. Padahal Binar sangat malu, karena perlakuan Adam.
"Benarkan Dok? istri saya baik-baik saja, tidak terjadi apa pun lagi."
.Binar menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Benar pak, bu Binar sudah sembuh dan hanya perlu istirahat total." Jelas sang Dokter, walaupun kadang ia ingin marah karena Adam yang selalu memintanya datang tepat waktu.
"Tu kan sayang, kamu tidak percaya. Aku juga bosan berada di rumah sakit, aku ingin pulang." Rengek Binar.
"Baiklah," ucap Adam. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada istrinya itu. "Pakai kursi roda ya sayang."
"Mas, aku ini bukan orang lumpuh," ucap Binar. Ingin sekali dia menangis. Selama sebulan ini dia sudah menurut pada Adam, kalau tidak di turuti. Adam akan marah dan mendiaminya, tapi Adam tetap memperhatikan kesehatannya.
"Kamu juga gak kasihan pada Andra, kamu juga nyuruh dia jaga aku kalau kamu ke kantor." Tunjuk Binar pada Andra. Dia kasihan pada putranya yang selalu menurut perkataan ayahnya. Di suruh menjaganya di rumah sakit, Andra pun menurut.
"Ma, ini kewajiban Andra yang menjaga Mama." Ucap Andra.
Binar dan Adam saling pandang, mereka juga belum memberitahukan keadaan Ayu.
"Iya sayang,"
"Adam, Binar." Sapa seseorang yang tak lain Mama Mahira dan Papa Ardey. Mereka baru di hubungi tadi pagi oleh Adam, mereka kira terjadi sesuatu pada Binar ternyata hanya untuk mengecek keadaan Binar saja. Di belakangnya ada Nadira dan Farhan. Papa Ardey menghubungi si Kembar untuk ikut menjemput Binar.
"Kalian sudah mau pulang?" tanta Mama Mahira. Ternyata dia datang terlambat melihat tas yang sudah siap.
__ADS_1
"Iya Ma,"
***
Sesampainya di rumah. Binar merasa senang, akhirnya dia kembali meskipun hanya menginap satu hari di rumah sakit. Dia rindu pada rumahnya itu, dan Abra.
"Mama!" teriak Abra di depan pintu. Bocah kecil itu berlari meskipun tidak cepat.
"Anak Mama, nunggu Mama ya sayang?" tanya Binar.
Abra mengerucutkan bibirnya, dia sangat merindukan Binar.
"Benar Nya, tadi malam den Abra sulit tidur."
"Maafkan Mama ya sayang," ucap Binar. Seperti biasa dia akan mencium kedua pipi gembul Abra.
Adam mendorong kembali kursi roda Binar, setelah sampai di dekat sofa. Binar berdiri dan beralih duduk di sofa sambil memangku Abra.
"Aku kan khawatir sayang," ucap Adam sambil mengelus lengannya yang terasa sakit.
"Mas, sudahlah. Aku sudah sembuh."
"O iya, ada yang Papa ingin bicarakan dengan Andra." Ucap Binar sambil menatap Andra kemudian beralih menatap Adam.
"Benar sayang, o iya Mama kamu sakit," ucap Adam.
"Sakit?" tanya Andra bingung.
"Syukurlah," ucap Mama Mahira yang langsung mendapat tatapan tajam dari Papa Ardey.
__ADS_1
"Sakit apa Pa?" tanya Andra?" Dia merasa khawatir pada Ayu meskipun hatinya masih marah.
"Sakit jiwa, Mama kamu stres sayang."
"Bagus donk, itu karma," ucap Mama Mahira.
"Ma, bisa gak? gak usah sanggah perkataan Adam," ucap Adam. Dia kasihan pada Andra, tapi sejujurnya dengan keadaan Ayu yang sekarang. Seharusnya wanita itu mendekam di rumah sakit jiwa dan tidak mengganggu kehidupannya lagi.
Mama Mahira diam, sedangkan Nadira dan Farhan menyimak saja. Walaupun mereka kasihan pada Andra yang tidak di terima oleh keluarga kakak iparnya.
"Benar, Papa baru menemukannya."
"Dan Mama mu hamil, tadi Reno mengabari Papa."
"Hah?"
Semua orang terkejut, Andra mengepalkan kedua tangannya. Ibunya hamil, lalu hamil dengan siapa?
"Siapa yang menghamili Ayu?" tanya Binar.
"Preman itu, Handy mereka pasti sudah melakukannya."
"Lalu bagaimana dengan keadaan bayinya?" tanya Binar.
"Rumah sakit pasti menjaganya sayang," ucap Adam. Ada rasa kasihan dan benci pada hatinya, tapi ia cukup kasihan pada kehidupan Ayu saat ini. Hamil di saat orangnya tak waras.
"Itu namanya buah hasil petikan Ayu sendiri." Ucap Mama Mahira. Semua orang pun tak menanggapi perkataan Mama Mahira karena mereka tahu, Mama Mahira tidak akan berhenti selama menyangkut nama Ayu.
"Aku ingin bertemu dengan Mama Pa," ucap Andra.
__ADS_1
"Besok Papa akan mengantar mu, kamu istirahatlah dulu," ucap Adam, dan Andra pun langsung menuju ke lantai atas.