5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
#Perisai Dan Belati


__ADS_3

Kedua mata Adam seakan ingin keluar dari tempatnya, tentu saja ia tak habis pikir dengan wanita di depannya.


"Aku mau jadi istri kedua, madu untuk Bi ..."


"Cukup! sampai kapan pun aku tidak akan pernah menduakan Binar," sentak Adam. Bahkan hatinya panas membayangkan kekecewaan Binar yang kedua kalinya.


"Tapi aku mencintai mu, aku,"


Tangan Adam terkepal, ingin sekali dia mencekik leher Ayu agar menghentikan pembicaraannya yang konyol.


"Ma, Pa," sapa seorang anak. Kedua telinganya mendengarkan sentakan seseorang dan membuatnya membuka kedua matanya.


"Sayang." Ayu mendekat dan tersenyum lembut.


"Mama menangis?" tanya Andra yang melihat sisa air mata di kedua pipinya.


Adam mendekat ke arah sang anak. "Apa Andra butuh sesuatu?" tanya Adam mengalihkan pembicaraannya.


"Apa Mama dan Papa bertengkar? Apa kalian tidak bisa berbaikan?" tanya Andra. "Apa kalian tidak bisa bersama?"


"Lihat Mas, Andra ..."


"Jangan mengulanginya lagi," ancam Adam mendekik tajam. Seketika air mata Ayu menetes, jika dulu Adam akan segera menghapusnya tapi tidak sekarang, dunianya seakan sudah runtuh.


"Jangan memarahi Mama, Pa?"


Adam menarik nafasnya dalam-dalam, dia pun langsung keluar. Bersama Ayu membuatnya sesak, bukan karena sakit hati, melainkan tidak nyaman..


"Andra lihat, Papa mu mengabaikan kita, kamu harus merebut Papa mu."

__ADS_1


"Mama tenang saja, aku akan merebut Papa ku," ucap Andra. Sorot tajam kedua matanya memendam kebencian yang mendalam, ia akan merebut papanya dari Binar dan Abra.


***


Karena merasa stres, Adam menghubungi Binar. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, di sini ia sendiri. Bersama Binar, menghilangkan semua beban di hidupnya.


"Sayang," sapa seorang wanita di seberang sana. Seketika penak di pikiran Adam langsung sirna.


"Aku merindukan mu," ucap Adam. tersenyum dengan hati berbunga-bunga.


Binar mengelus dahi Abra, putranya tengah tertidur lelap dan kebetulan dia tidak bisa tidur melihat kebencian di kedua mata Andra. Apa ia egois? tapi ia lakukan demi Abra dan lebih lagi, Ayu hanya masa lalu suaminya.


"Baru beberapa jam yang lalu dan sekarang kau merindukan ku."


"Iya, tidak melihat mu aku merasa dunia ku sepi Binar."


"Kau suka menggoda ku,"


"Sebentar," ucap Adam, lalu mematikan ponselnya.


Senyum Binar langsung memudar, ia menghembuskan nafas kasarnya dan berpikir suaminya pasti sedang sibuk dengan Andra. Namun beberapa detik kemudian, suaminya kembali menghubunginya dengan Vidio Call.


"Mas,"


Adam tersenyum, dia kembali melihat wajah wanita yang di cintainya dan selalu berharap, hati wanita itu tidak akan berubah padanya. "Maaf, aku merindukan mu."


"Aku kira kamu sibuk, bagaimana keadaan Andra."


"Cukup baik," jawab Adam.

__ADS_1


"Syukurlah,"


Sedangkan Ayu, dia menekan kekesalannya pada Adam, karena pria itu selalu memikirkan Binar, bahkan di sini anaknya membutuhkannya.


"Mas Adam,"


Pria yang sedang tersenyum pada sosok wanita di layar ponselnya itu menoleh.


"Andra memanggil mu, katanya dia ingin di temani oleh mu dan aku harap kau lebih memperhatikannya," ucap Ayu sedikit menyindir, ia berharap Binar mendengarkannya.


"Mas, sepertinya Andra membutuhkan mu. Ya sudah, aku matikan dulu," ucap Binar.


"Baiklah, Aku mencintai mu."


"Aku juga mencintai mu," jawab Binar dan membuat hati Ayu semakin panas.


Dia semakin ingin berusaha memisahkan Adam dan Binar. Kalau ia tidak bisa mendapatkan Adam, tentu saja Binar tidak boleh mendapatkannya.


Sementara Adam, dia melewati Ayu begitu saja dan enggan berbicara dengannya. Dia pun duduk di samping Andra yang tengah menunggunya sejak tadi.


"Kenapa sayang? apa butuh sesuatu?"


"Pa, setelah sembuh Andra ingin di rawat di rumah Papa, Andra tidak mau jauh dari Papa," ucap Andra. Dia ingin memata-matai hubungan ayah dan ibu barunya. Apa lagi ia dan ibunya tengah merencanakan untuk memisahkan mereka.


"Tentu boleh sayang, kapan pun Andra mau, Andra bisa menginap. Mama Binar pasti senang," ucap Adam sambil mengelus kepala Andra.


"Iya Pa,"


Bagus Andra, kau harus bisa memisahkan mereka, memicu pertengkaran mereka. Aku ingin mereka berpisah, kau adalah perisai sekaligus belati ku batin Ayu tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2