
"Sayang,"
Binar mendekat, dia mengambil alih kemeja suaminya dan menaruhnya di keranjang pakaian kotor.
"Hey,"
Binar memutar tubuh suaminya yang membelakangi dan menghadapnya. Dia pun merangkup kedua pipi suaminya. "Dengar, kita sebagai orang tua harus membimbingnya. Kau tentu tahu kalau Andra kurang kasih sayang mu."
Adam menunduk, dia pun semakin mendekat. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Binar.
"Sayang, aku minta maaf. Aku sangat marah,"
"Kamu boleh marah, tapi jangan seperti ini. Andra butuh kita. Kita harus membuktikan kalau kita orang tua yang baik untuk Andra."
"Iya, kau benar. Aku minta maaf."
Binar mengelus kepala suaminya. "Setelah ini, ajaklah Andra jalan-jalan."
Tok
Tok
Tok
"Pa, tante," sapa seseorang dari luar pintu.
"Itu suara Andra," ucap Binar membuat kening Adam berkerut. Tidak biasanya Andra datang ke kamarnya. Dia pun menarik kepalanya dan menatap ke arah pintu.
__ADS_1
"Andra," sapa Binar. Dia melihat Andra membawakan dua gelas susu.
Binar tersenyum, cairan itu. Untung saja Adam sudah menukarnya dengan botol yang sama persis. "Kenapa sayang? buat tante sama Papa?" tanya Binar.
Andra mengangguk ragu, dadanya berdebar ketakutan.
"Masuklah, Papa ada di dalam." Binar memberi Andra jalan, dia melangkah kesamping dan melihat ke arah Vas bunga di ujung tangga. Dia melihat Ayu yang tengah mengawasi mereka.
"Andra,"
"Pa ..." Andra berkata lirih.
Adam mendekat dan berjongkok. "Maafkan Papa ya sayang, Papa lagi sibuk dan ada masalah sehingga Papa pusing dan Andra merasa di abaikan. Tetapi percayalah, Papa sangat mencintai Andra." Jelas Adam, jauh di hati kecilnya memang sangat menyayangi Andra. Dia tidak membeda-bedakan buah hatinya, tapi ia kecewa karena Andra menuruti semua perkataan ibunya.
"Andra mengerti," Kedua tangannya bergetar, ia gugup. Apa ia harus menghentikan semuanya? ia ragu dengan kedua obat itu.
"Benar, Mas. Andra membawakan kita susu, berarti dia sangat mencintai kita. Benar kan sayang,"
Andra mengangguk dengan cepat dan menunduk lekat.
"Susu buat tante mana sayang?" tanya Binar.
Andra melirik sekilas, dia ragu ingin mengatakannya. Ia teringat ibunya yang menaruh gelas kanan untuk Binar dan gelas kiri untuk Adam. Bahkan nanti dia harus meminta Adam untuk mengajaknya ke kamarnya.
"Su-su-sunya dingin, lebih baik Andra buatkan lagi," ucapnya terbata. Padahal Binar tahu, susu itu masih hangat. Ia juga tidak khawatir untuk meminumnya.
Binar meraba segelas susu itu. "Ini masih hangat sayang,"
__ADS_1
"Boleh tante minum, tante merasa haus."
"Buat tante di sebelah kanan," ucap Andra menunduk.
Binar melirik Adam dan mengangguk. Adam menghela nafas, seminggu ini dia menunggu Andra untuk jujur, tapi selama seminggu ini Andra tidak mau jujur. Bahkan dia sering mendekati Andra dan berbicara dengan lembut, dan sampai kesabarannya mau habis. Ia mengabaikan Andra. Hingga akhirnya anak itu marah padanya.
Adam langsung berjongkok, kini ia menggunakan kaos santai. "Maafkan Papa sayang, kalau papa bukan papa yang baik."
Pipi Adam langsung di basahi oleh air mata yang ia tahan sejak tadi. Ia menyesal dan merasa bersalah, meskipun hatinya masih di liputi rasa kecewa.
Binar mengambil alih nampan yang berada di tangan Andra. Bocah itu pun langsung berhambur memeluk Adam.
"Maafkan Papa sayang, papa salah."
"Papa tidak salah, Andra yang nakal."
"Bagaimana kalau malam ini Andra tidur di kamar ini? Ya tante mohon, tante pengen tidur sama Andra."
Andra melepaskan pelukannya, Adam langsung menghapus air mata Andra. Ternyata ia sebagai seorang ayah menyakitinya terlalu dalam.
"Bagaimana? Mama mu ingin tidur dengan mu." Bujuk Adam.
"Baiklah," ucap Andra mengangguk dan membuat Adam dan Binar terkekeh geli.
***
Sedangkan di kamar Andra, Ayu menggigit kukunya. Jantung berdetak lebih cepat, ia tidak sabar menunggu kedatangan Adam.
__ADS_1
"Sudah lama aku menunggu hari ini."