
"Kemana Andra, dia lama sekali." Gerutu Ayu. Sejak tadi dia mondar-mandir sambil melihat ke arah pintu, berharap seseorang akan datang padanya.
"Andra!" geram Ayu tertahankan. "Apa dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik? jangan sampai anak bodoh itu mengacaukan semuanya."
Ayu kembali melihat ke arah pintu. Kesabarannya di ambang batasnya. Dia pun melangkah dengan lebar dan membuka pintu itu. Padahal tadi ia sudah memastikan kalau Andra masuk ke kamar Binar.
Dia menatap pintu kokoh itu dengan wajah kesal. Ingin sekali ia menobrak pintu itu.
"Ada apa Nya?" tanya Bi Lia. Dia memang di tugaskan untuk mengawasi Ayu dan Andra.
"Kau tidak bisa? tidak mengagetkan orang? hah!" bentak Ayu. Dia berdecak pinggang pada wanita di depannya.
"Saya kira Nyonya maling, tadi nyonya berjalan mengendap-ngendap kan? memangnya Nyonya mau apa berdiri di ambang pintu?"
"Aku mau lihat Andra, sudah lah sana pergi, jangan ikut campur urusan ku."
"Paling juga tuan Andra sudah tidur, seharusnya nyonya yang pulang karena nyonya tidak di butuhkan di sini," ucap Bi Lia.
Ayu hendak menampar Bi Lia, namun wanita itu menangkap tangannya.
__ADS_1
"Jangan coba-coba menampar saya ya, mau saya adukan pada nyonya dan tuan. Supaya Nyonya tidak bisa kesini?"
Bi Lia langsung menghempaskan tangan Ayu dan memutar tubuhnya menuruni anak tangga. "Dasar!!"
Karena kesal, Ayu menendang dinding di depannya dan seketika membuat jari kakinya berdenyut sakit. "Sial!!! hidup ku selalu sial kalau menyangkut Binar,"
Ayu mencoba berdiri, rasa sakit itu seakan menarik seluruh nafasnya. Dia mencoba berdiri dan melangkah dengan pincang. Sedangkan Bi Lia, bersembunyi di belakang dinding tepat berada di samping tangga. Dia terkekeh geli melihat Ayu yang meringis.
"Rasakan, makanya jangan jadi pelakor."
***
Sedangkan di dalam kamar.
Binar melirik Andra, dia pun menutup buku yang bercerita tentang kancil itu. Lalu menaruhnya di atas nakas.
"Honey, terimakasih. Kau wanita yang terbaik yang pernah aku temukan. Kau bertahan di saat aku mengiris hati mu dan sekarang kau memberikan kasih sayang pada kedua putra ku."
Binar memposisikan tubuhnya miring ke samping, menghadap Adam yang meskipun di tengah-tengahnya ada Andra.
__ADS_1
"Kewajiban ku, mencintai suami ku dan mencintai anak-anak ku."
"Kau menerima Andra tampa alasan, bahkan kalau orang lain. Mungkin dia akan meminta untuk aku memilih, kau sama sekali tidak melakukannya. Malahan kau meminta untuk sama-sama merawat Andra."
Tangan Binar terulur mengelus pipi Adam. "Karena aku mencintai mu, sangat mencintai mu."
"Aku harap kebahagiaan kita tidak sementara,"
"Aku berjanji akan membahagiakan mu dan anak-anak kita."
Binar mengangguk, dia percaya kalau Adam sudah berubah. "Aku percaya pada mu, Mas."
"Sayang, aku ingin memiliki anak lagi."
"Ih, masih ada Andra."
Adam terkekeh, padahal dia meminta anak bukan ingin menyentuh Binar. "Aku hanya meminta anak bukan ingin ... kau berpikir ke arah lain ya," goda Adam.
Seketika wajah Binar langsung memerah seperti tomat matang. Jantungnya berirama dengan kuat. "Kau menggoda ku, haih. Tapi .."
__ADS_1
Binar tampak berpikir, bahkan bulan ini dia datang terlambat dan sudah lewat beberapa hari.
"Mas, aku sepertinya telat datang bulan."