5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
Mama ...!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Binar dan Adam mengantar Andra ke Tk. Binar pun memilih duduk di belakang dan memangku Andra. Sedangkan Adam menjadi sopir untuk keduanya.


"Ma, bagaimana kalau Andra tidak tau?"


Binar mengecup kepala Andra. "Kenapa harus takut sayang? Bu guru tidak akan makan Andra, namanya juga belajar sayang, ya wajar kalau tidak tau," ujar Binar. Sebagai seorang ibu dia harus membimbing Andra kalau tidak tahu dan menyemangatinya.


"Benar sayang, jangan takut." Sanggah Adam. Dia melirik Andra yang tampak gelisah dan Binar memeluknya.


"Ibu guru tidak akan marah kalau Andra tidak tau."


"Tapi Mama jangan jauh-jauh sama Andra ya?"


"Iya sayang."


Selang beberapa saat, mobil yang di tumpangi Andra dan Binar berhenti di pinggir jalan. Adam pun turun, lalu membukakan pintu untuk istri dan anaknya. Andra meraih tangan kanan Adam untuk salim, lalu Binar.


"Ayo sayang, Mama temani dulu."

__ADS_1


Andra mengangguk, Binar masuk sambil menggenggam tangan Andra dan Adam tersenyum, ia bahagia melihat keluarga kecil tak lagi do ganggu Ayu, tapi mengingat wanita itu masih ada keresahan di hatinya.


Sedangkan Ayu dan seorang pria tengah mengintai Adam dan Binar, sejak tadi mereka memang mengintai Adam dan Binar mulai dari rumah sampai ke sekolah Andra.


"Lihat, itu putra mu kan? tampaknya putra mu sudah melupakan mu," ucap pria di sampingnya, yang bernama Handy. Seorang Preman yang entah bagaiman Ayu tahu nomor ponselnya.


Sedangkan Ayu, mengetahui nomor ponsel Handy dari beberapa teman sekolahnya.


"Itu semua gara-gara Binar, entah sihir apa yang membuat Andra lengket padanya."


Dia menatap sengit Handy. "Kapan kau akan melenyapkannya? kau selalu saja berjanji," ucapnya dengan nada membentak.


Handy meraih tangan Ayu, lalu mengecupnya. "Kita balik, aku tidak sabar melihat tubuh polos mu."


Waktu terus mengalir, tak terasa Andra dan Binar keluar dari pekarang sekolah. Binar menghubungi sopirnya, dia ingin menghubungi Adam karena Adam sudah berpesan untuk menghubunginya saat pulang.


"Kita tunggu di sini ya sayang," ucap Binar. Di masuk kembali ke halaman sekolah, duduk di kursi menghadap ke jalan.


"Ma, Andra haus."

__ADS_1


"Andra tunggu di sini, ya?"


"Gak mau, Andra mau ikut," ucap Andra.


Kebetulan di depan sekolahnya ada Indomaret. Sehingga memudahkan dirinya yang tak harus berjalan jauh.


"Ya sudah, tapi gandeng tangan Mama ya sayang."


Andra mengangguk, Binar pun menggenggam tangan Andra agar jangan sampai terlepas dari tangannya. Dia melihat beberapa motor dan mobil yang melintas dengan pelan.


Seorang pria pun menyeringai. Dia langsung menghidupkan mesin mobilnya. Tepat saat Binar dan Andra berhenti sejenak melihat mobil yang berjalan pelan. Keduanya pun melangkah dan tanpa sadar dari arah kanan sebuah mobil melaju dengan kencang.


Binar memegang tangan Andra dengan erat, dia langsung mendorong tubuh Andra. Namun, anak itu justru menarik Binar dan mobil itu tepat menabrak punggung Binar, sedangkan Andra tersungkur ke aspal.


"Ma ..." Tubuh Andra bergetar, dia tidak memikirkan lagi sakit kedua lututnya. Dia pun menoleh dengan mata memerah.


"Mama ...!!!" teriaknya menjerit. Dia merangkak sehingga darah di kedua lututnya berceceran di jalan.


"Mama ..!!" Andra kembali berteriak mengguncang tubuh Binar.

__ADS_1


Sedangkan mobil milik Handy melaju dengan kencang meninggalkan Andra yang menangis dan Binar yang tak sadarkan diri.


__ADS_2