
Tubuh Andra bergetar, dia memikirkan perlakuan Ayu tadi. Kedua mata ibunya memancarkan aura kebencian yang begitu dalam dan tajam. Bahkan Ayu meneriaki namanya untuk pergi.
"Andra, kau baik-baik saja kan sayang?" Binar memeluk Andra begitu dalam.
Dia juga teringat Ayu, bagaimana wanita itu melempar gelas yang berisi air ke arah mereka. Seandainya kebenciannya bisa di ukur, mungkin seperti lautan luas lah kebenciannya.
"Ayu benar-benar keterlaluan, bukannya merindukan Andra malah ..."
Mereka masih berada di halaman rumah sakit, duduk di kursi putih untuk menenangkan Andra dan Binar berada di sampingnya menggenggam kedua tangan Andra. Sedangkan Adam berdiri di hadapan mereka.
"Mama begitu membenci ku dan aku justru kecewa padanya. Dia tidak berubah,"
"Mama mu terguncang sayang,"
"Justru karena itu Ma, seandainya Mama berubah dan menerima semuanya tidak akan terjadi." lirih Andra dengan pilu.
"Sudahlah sayang, ayo kita pulang."
__ADS_1
****
Lima Bulan kemudian.
Kehidupan Binar, Adam, Andra dan Abra tampak manis seperti madu. Mereka menjalani kehidupan ini setelah badai yang mereka lalui, Binar yang memperjuangkan Adam dan Adam yang memperjuangkan Binar, sedangkan Andra memperjuangkan untuk kehidupan bahagia Binar setelah melukainya.
"Sayang, mau lagi?" tanya Binar. Andra memakan sarapannya dengan semangat.
"Iya Ma," jawab Andra. Dia menyodorkan piringnya ke arah Binar yang berada di depannya. Binar dengan cepat menaruh secentong nasi goreng ke atas piring Andra.
Dia sangat menyukai nasi goreng buatan Binar yang menurutnya tidak tertandingi dan selama sebulan ini, dia tidak lagi berkunjung ke rumah sakit dan ingin fokus pada sekolahnya agar mendapatkan juara. Dia ingin membuat Binar bangga kepadanya.
Adam mengangguk. Binar pun beralih melayani Adam. Sedangkan Abra duduk dengan tenang di samping Binar dan sarapannya pun belum habis. Meskipun belepotan, tapi Binar sangat kagum. Anaknya mau makan sendiri dan jika ingin di suapi, dia Abra akan menolak kalau bukan keinginannya.
"O iya, akhir pekan ini kita ke kebun binatang." Ucap Adam.
"Yeee ... beneran Pa?" tanya Andra memastikan. Ayahnya selalu sibuk dan ia pun sudah jarang bermain bersama.
__ADS_1
"Iya sayang, Abra mau tidak ke kebun bintang lihat kuda tinggi itu," ujar Adam. Putranya memang sanga suka dengan jerapah, ketika ia mengatakan Jerapah, maka Abra akan mengatakan kuda tinggi.
Abra hanya mengangguk, beginilah dia kalau sudah fokus ke sesuatu, tidak ingin di alihkan ke yang lainnya.
***
Tangan kecil Abra terulur ingin menggapai kepala hewan di depannya sambil tertawa. Hari ini dia sangat senang, sudah lama dia tidak pergi ke kebun binatang.
"Pa, pa coba lihat. Jerapahnya besar," ucap Andra tangannya menyerupai huruf O.
Binar duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari sana, akhir-akhir ini ia merasa lelah dan tak ingin melakukan apa pun. Tapi ia tidak ingin menuruti nafsu malasnya, Andra, Abra dan Adam butuh dirinya untuk melayaninya, sekalipun Adam hanya melayaninya saat makan, saat berpakaian saja dan di ranjang.
Adam menoleh ke arah Binar, ia menatap istrinya yang kadang mengeluh capek. Padahal baru beberapa langkah saja.
"Sayang, ayo kita ke Mama," ucap Adam. Pria itu pun menggenggam tangan Andra, sedangkan lengan satunya menggendong Abra.
"Sayang kamu sakit?" tanya Adam.
__ADS_1
"Tidak, aku lelah sayang. Maaf ya, kamu temani Abra dan Andra. Aku rasanya capek," ucap Binar. Ingin sekali dia tidur saat ini. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.
##Sudah mau End yaa...