
Andra mematung melihat wanita yang melangkah ke arahnya, ia teringat perkataan seorang wanita beberapa jam yang lalu.
"Andra sayang, dengar! kalau Mama mu menanyakannya, kamu bilang Mama Binar sudah minum dan Papa mu belum meminumnya, jadi tadi malam kamu menunggu Papa mu dan terpaksa tidur bersama."
"Iya Ma, Maaf. Andra tidak tahu, percayalah pada Andra."
"Iya sayang, Mama percaya pada mu. Andra anak yang baik." Ucap Binar seraya tersenyum pada Andra.
Ternyata Mama sejahat itu? kenapa Ma? Sebenci-bencinya Mama pada Mama Binar dan Papa, tidak harus membuat mereka celaka.
"Andra!"
Ayu langsung menyeret Andra sampai di halaman samping dan membuat anak lamunan anak itu buyar, dia hanya menurut dugaan Mama Binar memang benar, kalau Mamanya akan menanyakannya perihal tadi malam.
"Andra kamu kemana saja tadi malam?" tanya Ayu kesal. Bagaimana tidak kesal? tadi malam dia menunggu dan salah satu kakinya sakit.
"Kenapa Ma?" tanya Andra tersenyum getir. Mama yang ia sayangi kenapa harus berubah menjadi orang jahat.
__ADS_1
"Sudahlah lupakan, bagaimana kejadian tadi malam? apakah Binar meminumnya?" tanya Ayu. Dia berharap Binar meminumnya, kalau masalah Adam tidak meminumnya, bisa lain waktu.
Kalau sampai Mama Binar meminumnya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku. Di dalam perut Mama Binar ada adik ku, Adik yang harus aku jaga.
'Andra, di dalam perut Mama Binar ada Adik mu dan Abra juga butuh sosok kakak seperti mu. Papa harap, kamu bisa menjaga mereka dengan baik, ini sudah tugas mu sayang'
Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakiti mereka.
"Hanya Mama Binar meminumnya."
Ayu tersenyum puas, setidaknya ia memusnahkan keturunan Adam yang berikutnya. Namun beberapa menit kemudian senyumnya langsung hilang ada kejanggalan di ucapan Andra tadi.
"Dia sudah menikah dengan Papa, jadi aku harus memanggilnya Mama."
"Andra!" Nada Ayu naik satu oktaf. Tentu saja ia tidak terima anak yang ia rawat selama ini malah memanggil musuhnya sebutan Mama.
"Dia itu perusak, kamu bukan anak yang lahir dari rahimnya."
__ADS_1
"Mama Binar baik Ma, kenapa Mama tidak rukun saja?"
Ayu menaikkan sebelah alisnya, ia merasa ada yang salah dengan Andra. Tidak mungkin putranya sudah menerima Binar, ia tidak bisa membiarkannya..
"Dengar Andra, sampai kapan pun dia bukan Mama mu, hanya aku Mama mu dan berhak atas apa dalam dirimu. Aku yang membesarkan mu dan melahirkan mu, ingatlah kalau Nenek dan Kakek mu tidak menyukai mu. Begitu pun dengan Binar, dia hanya baik di luarnya saja."
Andra tentu tidak mempercayai perkataan Mamanya, Binar sangat baik padanya. Ia merasa kehangatan dan ketulusan. Kalau masalah kakek dan neneknya tidak menyukainya, ia akan meminta pada Binar untuk membantunya.
"Aku ingin Mama berhenti saja?"
"Jadi kau mau membiarkan ular itu berkuasa di depan mu?" Ayu berjongkok, ia tidak rela kehilangan Andra. "Mama sakit hati karena wanita itu, Nak." Ayu meneteskan kedua air matanya, berharap Andra percaya.
"Mama, carilah kebahagiaan Mama. Andra lihat Papa sangat bahagia."
Seketika Ayu berdiri, darahnya mendidih seketika. Dia tidak bisa membiarkan Adam mencintai orang lain, sekalipun dia pergi.
"Kau melawan Mam karena dia."
__ADS_1
Ayu langsung melayangkan pukulannya tepat di pipi kiri Andra, dan membuat anak itu menatapnya dengan tatapan kecewa dan sakit hati.