
"Andra!"
Adam memegang kedua bahu Andra. Dia melihat kedua lututnya telah di perban, namun anak itu tetap menangis.
"Mama ... Pa,"
"Kenapa bisa?"
"Maafkan Andra Pa, Andra yang ngajak Mama." Andra mendongak. "Andra salah Pa,"
Adam langsung memeluk Andra, kejadian ini bukan salahnya, dan sekarang ia tidak tahu bagaimana keadaan Binar dan anaknya. Jangan sampai terjadi sesuatu.
"Tuan, saya akan menyelidiki kecelakaan ini," ucap sang Asisten, dia bernama Reno. Asisten yang telah menemani Adam selama bertahun-tahun.
"Aku mau orang yang membuat istri ku dan anak ku membayar apa yang telah mereka lakukan."
"Baik Tuan Adam, saya akan berusaha." Sang Asisten pergi menjalankan perintah atasannya, dia merasa kasihan pada atasannya. Karena saat rumah sakit menghubungi Adam, ternyata masih ada ruang rapat dan untungnya ada Resepsionis yang menerobos masuk, biasanya atasannya memang mematikan ponselnya saat ada rapat dan begitu pun peraturannya.
"Papa ...."
Andra menangis dalam pelukan Adam, ia tidak mau terjadi sesuatu.
"Adam!" Mama Mahira mendekat.
Adam dan Andra melepaskan pelukannya, saat berada di jalan Adam menghubungi Mamanya itu..
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Binar?" tanya Mama Mahira.
Adam menggeleng, Mama Mahira langsung mendekat ke arah Andra, dia mengguncangkan tubuhnya.
"Ini semua gara-gara kamu anak sialan," Mama Mahira memberontak, dia ingin mencekik seorang anak laki-laki yang memang ia benci mulai dari ibunya.
"Ma, hentikan." Papa Ardey memeluk tubuh istrinya yang terus meronta.
"Tidak Pa, ini semua gara-gara dia, Binar terlalu baik padanya, Binar terlalu baik padanya sampai dia ngelunjak memanfaatkan Binar."
"Ma, Stop! ini bukan salah Andra, Andra juga terluka." Adan menyela, dia memeluk Andra, menghalangi mamanya untuk menghajar Andra.
"Dasar anak pembawa sial! pergi! jangan muncul di kehidupan menantu ku lagi,"
"Kau juga membelanya Pa? sadar Pa, gara-gara ibunya, gara-gara kakeknya, kita kehilangan anak pertama kita dan sekarang kita terancam kehilangan menantu kesayangan kita juga karena dia," tunjuk Mama Mahira.
Andra mendongak, dia menatap Mama Mahira dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, ia mengerti, ia paham, jadi kini ia menemukan alasan kenapa kakek dan neneknya tidak mau menerimanya dan juga mamanya.
"Benar! kakek mu itu mencelakakan anak ku,"
"Ma! Andra masih kecil, jangan mencuci otaknya. Saat ini bukan waktunya untuk kita bertengkar, doa kitalah yang di butuhkan Binar." Papa Ardey menyela. Dia menatap Andra, lalu mengalihkan pandangannya. Dia mengusap wajahnya, lampu operasi masih menyala. Dia mondar-mandir di depan pintu operasi.
Lampu operasi pun mati, seorang Dokter pun keluar dengan memakai baju operasi dan masker.
"Dokter bagaimana keadaan menantu ku?"
__ADS_1
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?"
Dokter pria itu menatap kedua pria dan satu perempuan, lalu menggeleng pelan dan menghela nafas panjang.
"Nyonya Binar sudah melewati masa kritisnya, tapi, maaf kami tidak bisa menyelamatkan anaknya."
Tubuh Adam langsung melemas, urat-uratnya seakan di tarik begitu saja. Sedangkan Mama Mahira dia hampir pingsan, untung saja Papa Ardey menangkapnya.
"Aku punya cucu, tapi ..."
Sedangkan Andra, dia langsung menangis. Ia telah kehilangan adiknya, adik yang selalu ia tunggu-tunggu dan menantikannya. Hari ini, di detik ini juga ia merasakan sakit luar biasa di hatinya.
"Dokter bohong,"
Andra mengguncangkan pakaian Dokter di depannya. "Kembalikan adik ku, dia menunggu ku, dia menunggu ku untuk bermain, aku ingin bermain dengannya, aku berjanji akan menjadi kakak yang baik, aku akan menuruti semua kemauannya, tapi tolong kembalikan adik ku."
Dokter pria itu pun menghapus air mata di kedua sudutnya. Hatinya sangat teriris melihat isakan anak kecil di depannya, yang ia duga adalah anak dari pasiennya.
"Kembalikan adik ku, aku mohon." Andra berbalik, dia mengangkat wajahnya menatap ke arah Adam. "Papa katakan pada Dokter kembalikan Adik ku, kembalikan, suruh Dokter mengembalikannya Pa, aku berjanji akan menjadi anak yang baik, aku akan menuruti semua keinginan adik ku. Aku mohon Pa."
Adam melangkah lunglai ke kursi tunggu, air matanya terus mengalir. Ia kehilangan sosok yang ia nantikan, ia kehilangan jiwanya yang lain.
"Sayang, maafkan aku, aku gagal menjadi seorang ayah yang baik." Adam menangis pilu. Dadanya terasa di hujani oleh ribuan belati.
"Aku gagal menjadi seorang kakak," gumam Andra yang melihat semua orang terisak dalam tangisnya kehilangan seorang anak, cucu dan juga dirinya yang kehilangan seorang adik.
__ADS_1