
Karena tidak mau diam, Binar memilih mengajak putranya jalan-jalan, hal yang sering ia lakukan agar putranya diam. Ia pun mengajak Hana, salah satu Art yang sering ia ajak keluar untuk naik sepeda.
"Hana, kamu bisa menemani ku kan keluar, sepertinya Abra butuh udara segar," ucap Binar. Kebetulan sekali Hana datang dan membawakan buah apel untuknya. Lalu menaruh sepiring buah apel itu ke atas meja kecil. Kini ia dan Abra berada di halaman samping.
"Seperti biasa Nyonya," ucap Hana tersenyum. Ia merasa kasihan pada sang majikan, jika putra kecilnya sangat rewel dan susah di diamkan. Apa lagi kalau sudah Abra menginginkan bersama sang ayah, ia juga sampai bingung harus cara apa, tapi sepertinya sangat ampuh mengajaknya jalan-jalan.
"Saya akan menyiapkan keperluan tuan muda dulu Nyonya," ucap Hana.
Hana pun bergegas membawa perlengkapan baby Abra. Sesampainya pertengahan anak tangga, dia berpapasan dengan Adam yang hendak melihat ibunya.
"Kau mau kemana?" tanya Adam. Dia melihat sebuah tas yang di khususkan untuk menyimpan semua keperluan baby Abra.
"Anu tuan, nyonya mengajak tuan muda jalan-jalan, sepertinya tuan muda tidak mau diam," jawab Hana.
"Dimana dia?"
"Tuan muda dan Nyonya berada di halaman samping."
__ADS_1
Adam seperti memikirkan sesuatu, dia pun mengurungkan niatnya untuk menemui sang ibu. Dia berbalik menuju halaman samping.
"Papa!" teriak Andra, sang papa tadi meminta ijin padanya untuk menemui neneknya, dia pun menurut, tapi melihat sang ayah yang turun lagi, ia pun memanggilnya dengan berharap bermain bersamanya. "Papa, Andra bosan main sama Mama, pengen main sama Papa."
Karena merasa tak enak hati, Ayu menghampiri putranya. Sepertinya Adam sedang terburu-buru di lihat dari langkahnya yang tergesa-gesa.
"Sayang, Papa sedang sibuk." Bujuk Ayu pada putranya.
"Gak mau,"
"Andra, Papa lagi sibuk," ucap Adam yang membuat hati Ayu menghangat, sepertinya Adam sudah mengakui Andra sebagai putranya.
"Andra!" tegas Adam menatap tajam dan membuat nyali Andra menciut. Kedua tangannya terlepas dari kaki Adam dan mundur.
Tanpa sepatah kata apa pun, Adam melanjutkan langkahnya. Dia tidak mendengarkan tangisan baby Abra, dia mempercepat langkahnya, tapi di halaman itu tidak ada siapa pun. Hatinya semakin pias, dia menuju ke arah garasi dan melihat Hana yang memakai helm pink dan Binar yang menggendong Abra juga memakai helm berwarna hijau. Wanita itu siap menumpangi sepeda yang telah menyala itu.
Adam berlari, dia ingin menghentikan kedua wanita itu. "Binar,"
__ADS_1
Binar langsung menoleh, baby Abra sudah berhenti menangis dengan iming-iming jalan-jalan. "Apa yang kau lakukan? membawa Abra jalan-jalan naik sepeda motor, kau bercanda. Bagaimana dengan polusi udara?"
"Kau masih memikirkan polisi udara, aku hanya berjalan-jalan mengeliling komplek ini. Jadi kau tidak perlu khawatir, oh iya kau tidak pernah mengkhawatirkannya dan kau tidak pernah tahu apa yang di inginkan Abra,"
Binar kembali memutar arah, dia hendak menaiki sepeda motor itu. "Abra ingin bersama ku, Hana kau pergilah biar aku yang mengantar merek," ucap Adam.
Binar melotot, telinganya seakan terlepas dari kepalanya, hampir ia mempercayai apa yang tidak ia dengar, seumur hidupnya baru kali ini ia mendengarkan suaminya ingin mengajaknya jalan-jalan, rasanya ia ingin mau muntah.
"Tidak," tolak Binar dengan tegas. "Seorang anak membutuhkan dirimu di rumah ini,"
"Papa!" teriak anak kecil dari jauh, dia berlari menghampiri Adam. "Lihatkan, ayo Hana."
"Hana!" bentak Adam, ia geram lantaran Hana tidak mau mendengarkannya.
"Ayu, apa yang kau lakukan disini? bawa Andra masuk ke dalam."
"Andra, kau tidak lihat Adik mu menangis?" tanya Adam dengan mata tajam, seketika nyali anak itu menciut.
__ADS_1
"Mas, kamu tidak perlu membentak Andra seperti itu, sayang ayo kita pulang," ucap Ayu yang tidak terima anaknya di bentak oleh Adam, seumur hidup dia tidak pernah membentak Andra.
Ayu menggendong Andra pergi menjauh dari Adam dan membawanya pulang.