5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
#Menemukan Ayu


__ADS_3

"Kakak!" teriak sepasang anak Kembar, Nadira dan Farhan langsung berhembur memeluk Binar yang terbaring lemah. Setelah beberapa hari pindah ke rumah Adam, merekapun pindah ke Asrama yang dekat dengan sekolah mereka. Nadira dan Farhan tidak ingin terlalu merepotkan Adam, kakak ipar mereka. Walaupun Binar awalnya tidak setuju, tapi mereka tetap memaksa Binar dan meyakinkannya. Sehingga mereka memilih untuk belajar mandiri. Tetapi uang bulanan mereka, Adam tetap mengirimnya.


"Ini semua salah dia," Mama Mahira melirik sinis Andra. Sedangkan yang di lirik hanya memasang muka tebal, Mamanya Binar dan Papa Adam telah mengatakan kalau dia tidak bersalah.


"Maksudnya Tante?"


"Ayu bersekongkol untuk mencelakai Binar,"


Farhan dan Nadira saling tatap, mereka tidak percaya kalau Ayu memiliki ide sejahat itu. Tapi Andra juga korban keegoisan Ayu.


***


Sedangkan Adam.


Dia sebuah ruangan yang mencekam, dia menatap sekeliling Apartement itu. Di ruang depan atau lebih tepatnya ruang tamu terlihat sebuah pakaian dalam. Dia merasa jijik dengan pakaian itu yang ia kira milik Ayu.


"Menjijikkan!" umpetnya sambil memandang rendah pakaian itu.


Ia kira Ayu wanita baik-baik yang selama ini ia cintai sebelum cinta itu memudar dan di gantikan oleh cinta untuk Binar.


Beberapa pengawalnya serta Reno membiarkan pakaian itu. Mereka lebih fokus pada pencarian mereka.

__ADS_1


Adam pun berlanjut ke lantai atas, dia membuka satu kamar dan langsung ingin muntah. Kamar yang sangat berantakan, bau asap rokok langsung menyeruak masuk ke dalam hidungnya, selimut yang separuhnya berada di atas, separuhnya berada di lantai dan pakaian kotor berserakah di mana-mana?


"Apa mereka melakukannya sebelum mereka kabur?" Adam berbalik, dia tidak mau masuk. Sudah cukup perkataan Reno padanya. Kini Reno bersama beberapa polisi masih mencari titik keberadaan Ayu. Karena yang terakhir, Reno mengabari kalau mobil Ayu dan Handy berhenti tepat di pinggir jalan. Setelah di cek, ternyata Ayu dan Handy tidak berada di dalam mobil dan justru telah pergi.


***


Satu Bulan Kemudian.


Tubuh Binar tampak sehat kembali, meskipun hatinya masih di liputi dengan kesedihan yang mendalam. Namun Binar tidak pernah memperlihatkan wajah kesedihan pada siapa pun, sekalipun dia kadang malam hari menangis mengingat anaknya yang belum lahir menjadi korban keegoisannya. Selama satu Bulan ini Mama Mahira dan Papa Ardey memperhatikan keadaan Binar dengan mendatanginya seminggu sekali.


Andra, bocah berusia lima tahun itu tahu, tapi dia pura-pura tidak tahu dan berusaha menghibur Binar atau mengalihkan perhatiannya ke sesuatu yang lain. Sama halnya dengan saat ini, dia dan Abra sedang bermain di ruang keluarga sambil menonton acara kartun.


Abra mengangguk tanpa melihat ke arah sang kakak. Dia pun langsung pergi ke lantai atas.


"Abra, kau mau kemana?" tanya Nadira sambil membawa jus jeruk. Selama sebulan ini dia berada di rumah kakaknya untuk menjaganya dan tidak berniat kembali ke Asrama. Sedangkan Farhan, pria itu memilih berenang sebagai aktivitas hari liburnya.


"Mau ke Mama,"


"Oh, ya sudah kamu ajak turun." Ucap Nadira. Dia duduk di sofa setelah menaruh nampannya di atas meja kaca di depannya, lalu mengambil remot dan mengganti chanel.


"Tante jangan di ubah," rengek Abra. Nadira menghembuskan nafas kasarnya. Selalu saja dia mengalah untuk Abra perihal film di layar tv.

__ADS_1


"Ok baiklah,"


Sedangkan Andra, dia terus menaiki lantai atas, saat hendak membuka pintu dengan lebar yang terbuka sedikit. Dia menghentikannya mendengarkan ucapan Binar.


"Sayang, maafkan Mama. Mama gagal melindungi mu." Ucap Binar menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Adam.


"Sayang, sudah. Kita masih memiliki anak lagi," ucap Adam menenangkan. Selama sebulan ini ia tidak pernah lelah mencari keberadaan Ayu. Ia ingin Ayu mendapatkan balasannya.


"Aku akan membalas semua perbuatan Ayu," ucap Adam. Dia bersumpah dalam hatinya akan membuat Ayu menerima ganjarannya karena membuatnya kehilangan anaknya.


Andra mengepalkan kedua tangannya, setiap hari ia mendengarkan dan diam-diam melihat Binar yang mengeluarkan air matanya dalam isakannya. Kalau di tanya, mamanya selalu mengatakan alasan yang lain, kelilipan dan menghindarinya.


Mama, aku berjanji akan membahagiakan mu. Maaf, aku tidak bisa menjadi anak yang berguna batin Andra.


Kedua air matanya mengalir, ia pun segera menghapus air matanya itu.


Drt


Adam mengambil ponsel di atas nakas, terdapat panggilan dari sang Asisten. Tanpa berpikir panjang dia pun langsung mengangkatnya, berharap Ayu telah di temukan.


"Tuan, saya sudah menemukan keberadaan nyonya Ayu, tapi .."

__ADS_1


__ADS_2