
"Tuan, tuan bisa membunuhnya," ucap Reno. Dia menahan tangan sang tuan yang mencekik Ayu. Kini mereka berada di sebuah rumah yang tak di huni, sebuah rumah yang sudah di tinggalkan miliknya. Handy, pria itu justru membuang Ayu.
Beberapa jam yang lalu, Ayu telah di temukan dan kondisinya sangat mengenaskan. Jiwanya terguncang dan membuatnya tak waras, kadang menangis memanggil Adam dan Andra kadang tertawa.
Bahkan wanita itu mengakliem semua pria adalah Adam dan langsung memeluknya tampa rasa malu.
Sedangkan Handy, dia telah berada di tangan polisi. Untung saja polisi segera menembak sebelah kaki Handy, saat pria itu berusaha kabur dari kejaran mereka.
"Dia sudah membunuh anak ku, maka aku akan membunuhnya."
"Tuan pikirnya Nyonya Binar!" pekik Reno.
Adam langsung melepaskan leher Ayu, sedangkan wanita itu mendengarkan nama Binar, wajahnya langsung berubah marah.
"Binar, Binar, ya wanita sialan itu. Dia merebut Adam dan Andra dari ku."
Adam tersulut, dia langsung menarik kerah baju Ayu dan membuat wanita itu ketakutan.
"Ka-kau bukan Adam, Adam baik pada ku. Dia mencintai ku."
Reno semakin kembali khawatir, mempertemukan Ayu dengan Adam justru membuatnya ketakutan, takut Adam membunuh Ayu dan masalahnya tambah panjang.
"Kau yang wanita yang sialan, Adam yang kau bayangkan telah milik orang lain!" teriak Adam.
Dia melepaskan Ayu dan langsung menampar sebelah pipinya. Ayu memegang pipinya yang terasa panas, dia menoleh dan menatap pria di depannya. Sejenak dia mengingat pria di depannya adalah Adam.
"Adam!"
__ADS_1
"Kau membunuh anak ku Ayu,"
Reno menarik Adam ke belakang, sedikit menjauh dari Ayu.
Ayu tertawa di iringi air mata. "Iya aku membunuhnya, dia sudah menghancurkan aku. Dia merebut milik ku, kau dan Andra meninggalkan aku."
"Dasar sinting! jelas aku meninggalkan mu, karena Binar adalah wanita yang aku cintai, sedangkan kau ..." Adam menunjuk, "Sama sekali tidak aku cintai."
"Aku akan membunuh Binar, ya aku akan membunuhnya." Ayu bangkit ingin pergi dan Adam meronta, ia langsung mencegat Ayu.
"Kau mau kemana wanita murahan?" Adam mencekal lengannya dengan kuat dan menarik Ayu ke belakang sehingga tubuhnya terbentur ke dinding.
"Tuan, polisi sebentar lagi akan kesini."
"Aku tidak akan pergi sebelum aku membunuhnya." Adam tidak akan pernah meninggalkan Ayu sebelum kedua matanya melihat Ayu masuk ke penjara.
"Lepaskan aku!" teriak Ayu pada kedua polisi yang memegang kedua tangannya.
"Pak Adam biar saya sendiri yang menangani nyonya Ayu."
"Pastikan dia membusuk di penjara."
Adam berdecak pinggang, dia ingin membuang kemarahannya sebelum kembali ke rumah sakit.
Tepat pada jam 08.00, Adam telah sampai
di rumah sakit, dia pun memarkirkan mobilnya, lalu membuka mobilnya. Kini hatinya merasa lega, Ayu di nyatakan mengalami sakit kejiwaan dan kini berada di rumah sakit jiwa, ia berharap Ayu tidak sembuh dan membusuk di rumah sakit itu. Merasakan apa yang ia rasakan, tapi ia cukup kasihan pada Andra, memikirkan Andra, ia takut anaknya sedih. Akan tetapi ia harus mengatakannya, supaya Andra tahu keadaan ibunya.
__ADS_1
Adam berjalan dengan cepat, dia tidak sabar untuk menemui Binar, sampai di depan pintu ruangan Binar, dia melihat seorang wanita duduk di kursi roda menghadap ke luar jendela.
"Sayang,"
"Pelankan suaranya, Andra baru tidur." Ucap Binar.
Adam mengecup kening Binar dengan lama, lalu menuruni bibirnya, sedangkan kedua tangan kekar memeluk erat tubuh Binar, keduanya saling mengecap dengan cinta.
Emm
Binar melepaskan ciumannya, ia mengelus wajahnya Adam. Semenjak ia di rumah sakit, Adam kadang tidak tidur atau istirahat, segurat kekhawatiran dan ketakutan selalu terlihat di wajahnya.
"I Love You."
Binar tersenyum, sebagai jawabannya, dia mengecup bibir Adam.
"Bagaimana kabar Ayu?"
Adam berjongkok, dia pun mulai menceritakan semuanya dan membuat Binar menoleh pada Andra, sungguh ia kasihan pada putranya itu.
"Jadi Ayu beradu di rumah sakit jiwa?"
Adam mengangguk mengiyakan.
"Kasihan Andra,"
"Sudahlah sayank, dia saja jahat pada mu. Kenapa mesti kasihan, biarkan saja dia menuai hasilnya sendiri."
__ADS_1