5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
#Kadar Cinta dan Kadar Kebencian


__ADS_3

"Andra, kenapa? apa butuh sesuatu? apa ada yang membuat mu tak nyaman?" tanya Binar seraya berjongkok, menjajarkan tubuhnya dengan Andra yang duduk di sofa dan menekuk wajahnya.


Andra tak bergeming, dia langsung menatap tajam Binar. "Iya, aku tidak nyaman."


Menyadari jawabannya, Andra menunduk. Kalau sang ayah menyadari perkataannya, dia pasti akan kenak amukan cerewet ayahnya, Adam.


"Apa?" tanya Binar. Sesuatu di hatinya telah berkata, bahwa Andra mentargetkan dirinya.


"Tidak ada yang bisa aku lakukan,"


Sebelah alis Binar tertarik ke atas, ia tidak percaya Andra bisa memendamnya dan mengalihkan perkataannya. Biasanya Andra akan menancapkan gas padanya.


Dia pun berpikir sesuatu, sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran Andra. "Andra suka menggambar?"


Andra mengangguk, dia tidak mengerti kenapa ibu tirinya menanyakan kesukaannya. Tanpa sadar dia mengiyakan walaupun sebatas anggukan. Dia jadi teringat beberapa bulan lalu, kalau ibunya mengomelinya lantaran dia suka menggambar di tuntut untuk mengambil jurusan perusahaan. Bahkan hoby nya yang menggambar pun telah melekat di hatinya.


"Sayang, bagaimana kalau Andra menggambar saja," usul Binar.


Wanita itu selalu bisa membuat terang hati Adam, senyumannya yang indah mempesona, bahkan bunga mawar pun yang di katakan bunga cantik akan kalah dengan istrinya.


"Ya, apa Andra suka menggambar?"


Andra tak mengangguk, dia bungkam dan takut kalau pada akhirnya Adam akan menyuruhnya belajar yang rajin tanpa menggambar.


"Kenapa sayang? tadi kamu mengatakan iya kan? katakan saja pada Papa mu,,"


Seakan menenangkan hati Andra, bocah itu mengangguk saat kedua mata Binar memancarkan cahaya.


"Oh ya sudah, Papa akan suruh Asisten Papa untuk membelikan buku gambar dan peralatannya," ucap Adam.


Dalam hatinya selalu berdoa, Andra secepatnya menerima Binar. Ia ingin kehidupan keluarganya jauh lebih baik lagi dan juga berdoa agar Ayu cepat sadar dan tidak mengusiknya, mengingat tabiatnya yang mengungkit masalah warisan, Ayu sepertinya tidak akan menyerah begitu saja padanya..


Binar mengelus kepala Andra, tanpa sadar Andra tersenyum. Dia merasa kehangatan di atas kepalanya, lalu menjalar ke hatinya. "Tunggu sebentar sayang,,"


"Kita makan dulu, Papa mu pasti lapar."


Binar membuka satu persatu kotak bekal itu, dia sengaja membawa 5 kotak bekal, Agar suaminya kenyang karena giat bekerja dan berjaga-jaga untuk Andra, bisa jadi Andra tergiur dengan masakannya.


"Sayang, suapi." Manja Adam. Dia duduk memangku putranya.


"Uyun," ucap Abra. Dia meringsek untuk turun dan Adam menurunkannya.


"Adek juga mau makan?" tanya Binar. Jika dulu dia menggunakan panggilan kakak atau sayang, tapi karena sekarang sudah ada Andra yang menjadi putra pertama, jadi ia merasa sebutan seorang kakak pantas untuk Andra.


"Kak Andra juga mau makan?"

__ADS_1


Andra melihat beberapa menu makan siang itu dan membuat perutnya keroncongan.


Adam dan Binar tertawa renyah, sedangkan yang di tertawai malah menunduk dengan pipi bak kepiting rebus menahan malu.


"Jangan menertawakan ku, tante Binar tidak memberi ku makan. Seharusnya Papa memarahinya," ucap Andra yang tidak terima.


"Maaf sayang, ya sudah sekarang makan. Tante akan suapi kamu, sama Papa dan juga Abra."


Jadilah Binar menyuapi ketiga laku-laki berbeda umur itu, mereka bergantian menunggu suapan dari Binar dan beberapa menit kemudian, bekal yang di bawa olehnya ludes, kandas tanpa tersisa sedikit pun.


"Uh, masakannya enak banguet," ucap Adam. Ia merasa perutnya semakin membesar saat makan masakan istrinya.


"Benar Pa," ucap Andra. Bocah kecil itu menyandar di sandaran sofa sambil mengelus perutnya yang membuncit.


"Justru ini yang paling aku suka, kalian makan dengan lahap sudah membuat ku senang."


"Emm, sayang, aku bisa gendut kalau begini," ucap Adam. Ia membayangkan tubuh idealnya menjadi gendut dan semua pakaiannya tidak terpakai, apa lagi Binar, ia takut istrinya akan berpaling.


"Tidak masalah, selama ini aku tidak mempermasalahkan fisik mu, Mas. Ya biarkan saja kalau gendut, cinta ku tidak akan berkurang."


"Sayang, aku semakin mencintai mu," goda Adam. Dia menaikkan dan menurunkan kedua alisnya.


Ehem


***


"Sayang, kalau daun di kasik warna hijau," ucap Binar. Dia begitu telaten membimbing Andra agar tidak salah memilih warna. Dia pun begitu terpukau dengan lukisan Andra, yang terbilang sangat layak untuk di lihat di seusia umurnya.


Binar menoleh ke sampingnya, entah apa yang di lakukan putranya? hanyalah sebuah coretan di buku gambarnya.


"Dak au," ucap Abra. Dia merasa bosan dan malah melangkah ke arah sang Papa yang tengah sibuk memeriksa dokumen.


"Pa, pa ..."


"Iya sayang, kenapa?" tanya Adam. Sesibuk-sibuknya ia, ia tidak bisa mengabaikan buah hatinya.


"Sini,"


Adam melingkarkan kedua kaki Abra ke tubuhnya, lalu duduk di pangkuannya. Dia pun menepuk pelan bokong Andra agar bocah menggemaskan itu tidur.


"Sayang dia ..."


"Sudah biarkan saja, kamu temani Andra. Sepertinya Abra mengantuk,"


Binar melanjutkan tugasnya, dia kembali membimbing putra tirinya itu.

__ADS_1


"Selesai, wah bagus sekali sayang." Kagum Binar, dia pun langsung menghadiahi Andra pelukan dan membuat Andra tersenyum tipis, ia tidak pernah melihat ibunya begitu memuji gambarnya, tapi sekarang justru orang lain yang memujinya.


"Ini di bawa pulang ya sayang, biar nanti Andra enak di waktu luang menggambar lagi." Binar melepaskan pelukannya dan menyerahkan buku gambar milik Andra.


"Iya," ucap Andra. Dia pun juga senang, akhirnya ia bisa menggambar lagi dan lagi.


***


"Hey Yu," sapa Reni tersenyum lebar. Dia mempersilahkan Ayu untuk duduk di depannya.


"Bagaimana kabar mu? aku rindu lho,, semenjak kapan kamu pulang ke Indo?" tanya Rania. Ada sekitar 10 orang dari teman kelasnya dan teman kuliahnya dulu.


"Beberapa hari yang lalu,"


"O iya Adam katanya sudah menikah ya?" tanya Amanda. Seluruh teman Ayu langsung menatap ke arah Ayu.


"Ya, dan aku sudah memiliki anak dengan Adam."


"Hah!"


Semua orang tercengang, Ayu memperhatikan satu per satu temannya itu.


"Aku hamil setelah kepergian ku dan aku baru menyadari, sekarang aku pulang setelah lima tahun lamanya untuk meminta pertanggung jawaban dari Adam."


"Lalu?"


"Istrinya pasti tidak akan mengijinkan Adam menikah lagi?"


"Iya benar,"


"Tapi Adam tidak mencintainya, istrinya yang berkata begitu saat aku menemuinya waktu itu?"


"Berarti masih ada harapan buat kamu kembali?"


Perkataan Amanda serempak di angguki teman Ayu yang begitu penasaran dengan riwayat hidup Ayu. Bahkan mereka dulu sempat iri, hubungan Ayu dengan Adam yang sangat melodrama, begitu romantis.


"Dimana ada Ayu, pasti ada Adam." Semua orang pun tertawa membenarkan ucapan mereka.


"Tapi mertua ku sama seperti dulu, tidak menyukai ku. Sekalipun aku sudah membawa cucunya, kalian tahu? bahkan dia masih merendahkan ku."


"Binar berhasil mencuci otaknya,"


"Oh namanya Binar? cantik, pasti orang juga cantik," celutuk seseorang yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ayu.


"Orangnya cantik belum tentu hatinya cantik." Ayu meneguk jus jeruk di depannya. Ia merasa panas dengan salah satu ucapan dari temannya. "Aku akan merebut Adam darinya, karena memang hak ku."

__ADS_1


__ADS_2