
9 Bulan Kemudian.
Seorang wanita tengah mengejan kuat, dia memegang tangan suaminya, hingga tanpa sadar kuku cantiknya menancap di kulitnya.
Seluruh uratnya terasa di tarik, sakitnya di bawah sana seakan mengambil seluruh nafasnya.
"Sayang, kau kuat!" Bahkan Adam menangis melihat Binar yang terus mengejan. Dia tidak tega melihat istrinya berjuang mempertaruhkan nyawanya, seandainya bisa di tukar. Dia lah yang ingin menggantinya.
"Sayang."
Adam menghapus kedua air matanya. Mulai saat ini ia hanya ingin mempunya dua anak saja. Ia tidak ingin lagi menambah lagi. Perjuangan Binar pun yang membuat nafasnya seakan di ujung tanduk. Ia tidak ingin melihatnya lagi.
"Arghhh....."
Binar terus mengejan, ia terus mendengarkan perkataan suaminya yang terus menyemangatinya. Hingga akhirnya suara tangisan bayi mungil itu menggema di ruangan itu. Binar mengatur nafasnya, rasa sakit yang tadi ia alami kini tergantikan dengan kebahagian.
Adam mencium seluruh wajah Binar, dia mencium kedua pipinya, lalu keningnya. Menciumnya sangat dalam hingga menangis. "Sayang."
Binar merasakan tangisan suaminya. Dia paham bagaimana ketakutan Adam. "Jangan lagi, jangan lagi hamil. Aku tidak mau lagi melihat mu seperti, tapi kalau mendonan aku mau."
"Aaaaa ... sakit sayang."
Awalnya Binar terharu, malah saat mendengarkan kata mendonan ia ingin menjewer telinga suaminya itu. Selama ini, suaminya selalu rutin, bahkan kadang hanya berjarak satu hari, melakukannya dan melakukannya.
__ADS_1
"Sayang,"
"Kau ini,"
"Selamat ya Bu, anaknya perempuan sehat dan sempurna."
Dokter itu pun menaruh di atas perut Binar, bayi perempuan itu pun mencari asupan makanannya. Binar mengelus kepala putrinya yang rambutnya pun belum tumbuh banyak.
Setelah itu, Adam langsung menggendong putrinya untuk mengadzaninya. Setelah Dokter memakaikan perlengkapan bayi.
"Alhamdulillah."
Cup
Adam merasa putri kecilnya itu mirip dengan Binar. Bahkan tidak ada cetakan dari wajahnya. Ia bersyukur, setidaknya ia bisa melihat Binar kecil dan Binar dewasa.
***
"Adam," Mama Mahira mengambil bayi perempuannya itu yang tidur di box bayi. Dia mencium salah satu pipinya. Lengkap sudah hidupnya, memiliki dua cucu laki-laki dan cucu perempuan.
Sedangkan Nadira dan Farhan mendekati Binar, kakaknya. "Selamat ya kak, telah melahirkan bayi yang lucu," ucap Nadira.
"Nambah juga donk keponakan ku." Farhan menimpali sambil tersenyum.
__ADS_1
Farhan dan Nadira sudah pun menghampiri box bayi yang tak jauh dari mereka.
"Nek, boleh lihat adik." Ucap Andra. Dia pun tak canggung lagi meminta sesuatu, karena Mama Mahira telah menerimanya.
"Abra, Abra."
Papa Ardey meraih tubuh Andra, lalu Abra. Dia pun menggendong cucu pertamanya dan cucu keduanya "Lihat, ini adik kamu."
"Cantik, seperti Mama."
Binar yang terbaring pun hanya tersenyum. Adam bahkan tidak menyuruhnya bergerak kecuali ke kamar mandi.
"Tidak mirip Adam," ujar Mama Mahira.
Adam yang sedang mengupas kulit apel pun menoleh. "Biarkan saja Ma, ada Binar kecil di rumah." Adam menyela.
"Iya juga sih,"
Mama Mahira mendekati Binar. Dia sangat beruntung memiliki menantu seperti Binar. Seandainya dulu Binar tetap mempertahankan keinginannya untuk bercerai, mungkin dia tidak akan sebahagia ini. "Terima kasih Binar, kamu sudah memberikan Mama cucu seperti Abra dan Andra. Kini kamu juga memberikan cucu pada Mama. Seandainya kakaknya adam masih hidup. Aku yakin, dia pun pasti bahagia."
Adam merangkul bahu Mama Mahira. Setelah tau semuanya, ia merasa kehilangan. Melihat beberapa orang memiliki saudara, ia ingin juga merasakan memiliki saudara. "Tapi sekarang kita harus bahagia, kakak pasti melihat kita Ma."
Mama Mahira menyentuh dagu Adam. "Benar sayang, kita harus bahagia dan Mama memang bahagia."
__ADS_1
###sudah End ya kak, ceritanya emank kagak panjang. Kalau ceritanya kurang cocok author minta maaf, dan silahkan mampir ke cerita sebelah, #Menjadi Selir Mantan Mertua, #Istri Reinkarnasi Sang Daddy