
Ayu berjalan dengan lenggak lenggok, dres merah itu melekat elastis di tubuh rampingnya dan menampilkan betapa bohay dan sexy tubuhnya. Sebuah pakaian yang Adam berikan padanya, sekaligus parfum dan tas, serta sepatu heels berwarna merah senada dengan dresnya.
"Adam," sapa Ayu.
Hening
Tidak ada yang menyambutnya, bahkan Art pun tidak ada yang menyapanya.
"Kamu!"
Bi Lia pura-pura tidak tahu, dia terus mengepel lantai dengan khusuk. Pagi mengepel, sore mengepel karena majikannya, Adam, tidak suka dengan lantai atau kamar kotor, jadi satu hari dua kali mengepel. Bahkan Art lain pun juga memeriksa kamar lainnya kecuali kamar utama, Binar yang tidak mengijinkan siapa pun masuk dan membersihkannya karena ingin membersihkan sendiri.
Brak
Satu ember air itu mengalir begitu saja di depannya. Bahkan ia sudah bersusah payah mengepelnya sejak tadi.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Bi Lia. Kalau bukan karena ibu dari tuan muda Andra, sudah ia pukul dengan alat pel di tangannya.
"Aku bertanya pada mu dan kau malah mengabaikan ku, dasar pembantu belagu."
"Anda mencari tuan Andra kan? tuan muda Andra tidak kesini, dia ikut nyonya Binar ke kantor tuan Adam."
Dia melengos dan membersihkan kembali air yang sengaja Ayu tumpahkan. Dia benar-benar kesal dan ingin memukulnya kalau tidak melampiaskan dengan air di depannya.
plak
plak
__ADS_1
"Kau sengaja?" bentak Ayu. Cipratan air lantai itu bahkan mengenai dres dan wajahnya.
"Salah nyonya sendiri yang ke sini, sudah tau kalau saya lagi mengepel." Kesal Bi Lia.
Ayu pun menghentakkan kakinya, ia tidak terima dirinya di hina oleh pembantu murahan seperti Bi Lia. Dia mendaratkan bokongnya ke arah sofa dengan kasar, sambil bersendekap dan menatap sengit Bi Lia.
"Lihat saja kalau aku sudah menikah dengan Adam, aku pasti akan mengusir mu dari sini."
Beberapa jam kemudian, Ayu melihat jam yang melingkar di tangannya, ini sudah jam 5 sore, tapi Adam dan Binar belum kembali. Sepertinya ia harus bertindak lebih cepat.
Entah bagaimana dengan putranya? ia merasakan Andra sudah dekat dengan Binar dan ia pun mengepalkan kedua tangannya. Andra tidak boleh dekat dengan Binar, Adam dan Andra adalah miliknya.
Tepat jam 8 malam, suara mobil memasuki are rumah Binar. Ayu langsung bergegas dengan perasaan berkecambuk, kecewa, marah, sedih, ingin sekali perasaan ini ia hancurkan saja. Seandainya bisa, sudah pasti dia memusnahkan perasaannya sejak tadi. Bersabar menunggu Binar, Andra dan Adam membuatnya berada di puncak kemarahan.
"Wah Andra hebat," puji Adam. Dia mengelus pucuk kepala Andra. Ia sangat bangga, Andra bisa menyalurkan hobinya dan membuat anaknya begitu senang.
"Andra harus belajar yang rajin menggambarnya, siapa tahu nanti Andra akan sukses."
"Apa Andra bisa memiliki uang dengan menggambar?" tanya Andra dengan polos. Kedua matanya berbinar, ia tidak sabar menghasilkan banyak uang untuk ibunya.
Adam berjongkok, sedangkan Binar memperhatikan interaksi keduanya. Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyenangkan ketika melihat kebersamaan suami dan anaknya.
"Kau tidak perlu menghasilkan banyak uang, cukup Andra menyalurkan hobi Andra. Buat apa Papa berkerja siang dan malam? buat Andra, Mama Binar dan adik Abra."
Binar tersenyum, dia menepuk bokong Abra walaupun tidurnya sangat pulas, tapi ia takut Abra terusik. "Iya sayang, cukup kau belajar yang rajin, tapi jangan sampai tertekan. Kami tidak menekan mu, Nak. Terserah dirimu nanti kau ingin menjadi apa."
Andra tersenyum kecut, seandainya yang mengucapkannya adalah ibunya, ia pasti akan begitu senang.
__ADS_1
"Andra,"
Serempak ketiga orang itu menoleh, satu tatapan itu menghunus sebuah buku di tangan Andra. Dia pun merampasnya.
"Apa ini Andra?"
Andra menunduk ketakutan, dia menggeser tubuhnya ke belakang kaki Adam.
"Mama sudah bilang jangan menggambar lagi, apa gunanya semua ini Andra?"
"Jangan pernah membentak anak ku seperti ini Ayu," ucap Adam dengan nada menekan. Dia tidak suka siapa pun mengusik anaknya, justru hatinya merasa bersalah setiap saat karena tidak menemukan Andra lebih cepat.
"Apa hak mu berbicara seperti itu? aku tahu betul apa yang terbaik untuk Andra?"
"Kau tidak tahu selama lima tahun perjuangan ku dengan Andra." Ayu tentu saja tidak terima, ia tidak terima kalau Andra harus bermain-main dengan masa depannya.
"Ayu, kalau saja aku tahu Andra ada, aku sudah pasti bertanggung jawab tanpa menikahi mu dan satu hal, kalau kau masih ingin menemui Andra dan datang kesini, jaga bicara mu, aku muak pada mu."
Adam langsung menggendong Andra masuk ke dalam pelukannya, Andra menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Adam, ia takut dengan kemarahan ibunya, ia lebih memilih untuk tidak melihatnya.
Sedangkan Binar, dia tersenyum mengejek dan melewati Ayu begitu saja, hingga sebelah bahunya membenturkan sebelah bahu Ayu.
"Kau!"
"Argh!!! sial!!!"
Ayu memukul udara, ingin sekali tangan mencabik-cabik wajah Binar yang sangat menjengkelkan di depan matanya. "Sial!!! kenapa aku bisa lupa tentang obat itu?"
__ADS_1
"Argh!!! kacau, semuanya kacau." Pekik Ayu, dia menggertakkan giginya sekuat mungkin.