5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
Bukan Salah Andra


__ADS_3

Adam mengepalkan sebelah tangannya, sedangkan tangan kanannya menggenggam erat ponselnya. Bibirnya bergetar, setelah di lakukan pencarian sampai ke Apartement yang menabrak Binar dan Andra, sang Asisten mengatakan kalau berkaitan dengan Ayu dan ternyata benar.


"Argh!"


"Adam!" papa Ardey langsung menuju ke arah Adam. Dia melihat kilatan kemarahan di kedua mata putranya.


"Ada apa? apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Papa Ardey.


"Aku tidak mau tahu, kau harus menemukannya di bandara dan di manapun entah itu mati atau hidup, aku tidak mau tahu!"


Papa Ardey langsung merampas ponsel Adam yang telah di matikan olehnya.


"Adam, kamu sudah mengetahui siapa?"


"Ayu, ternyata mereka bersekongkol dan masih belum menemukan mereka Ma," ucap Adam terdengar frustasi. Dia langsung meninju dinding di sampingnya. Sementara Binar telah di pindahkan ke ruangan rawat inap dan belum sadar.


Sedangkan Andra, dia mengepalkan kedua tangannya. Kenapa ibunya harus sejahat itu pada Mamanya dan adiknya?


"Aku ingin bertemu dengan Mama pa,"


Seketika semua orang menoleh. Adam tak mengubris, hatinya kembali sesak. Semuanya karena dirinyalah alasannya menyebabkan anaknya meninggal.


"Heh kau puas?" Mama Mahira menatap tajam.


"Ma, sudah. Ini di rumah sakit, jangan membuat keributan lagi," ucap Papa Ardey. "Sebaiknya Mama masuk ke dalam dan menunggu Binar. Mama harus menguatkan hatinya, Binar butuh kita Ma."


Mama Mahira melengos, dia langsung masuk. Duduk di samping Binar dan langsung menangis.


"Maafkan Mama sayang,"

__ADS_1


Perlahan kelopak mata itu bergerak dan suara lenguhan terdengar. Dia melihat sekelilingnya, sebuah langi-langit bercat putih dan ruangan yang tampak asing serta bau obat-obatan yang menyengat.


"Ma ..."


"Binar, kamu sadar sayang." Mama Mahira langsung memeluk Binar. Dia memeluk Binar dengan sebelah tangannya, lalu mengecup keningnya.


"Mama panggilkan Dokter, kamu mau Adam kan?"


Mama Mahira langsung menuju keluar dan memanggil Adam.


"Adam, Adam, Binar sudah sadar."


Adam menghapus air matanya, Papa Ardey pun mengikuti keduanya. Sedangkan Andra, dia masih duduk di kursi tunggu. Tidak beranjak sedikit pun, ia malu, ia malu untuk menemui Binar. Padahal ia sangat rindu dan ingin menemuinya.


"Mama, maafkan Andra."


***


"Sayang."


Adam mengecup kening Binar, ingin sekali dia mencium bibir pucatnya itu. "Maafkan aku."


Binar meraba perutnya. "Bagaimana dengan anak kita?"


Adam langsung menunduk, dia menenggelamkan kepalanya di leher Binar. Mulutnya terasa berat untuk mengatakan kalau mereka telah kehilangannya.


Binar mengelus kepala Adam. Sebagai seorang ibu hatinya, dadanya sangat nyilu, sakit, pedih dan kecewa pada dirinya sendiri.


"Bagaimana keadaan Andra?" tanya Binar dengan bibir bergetar. Dia tidak akan larut dalam kesedihan, karena Abra dan Andra membutuhkannya.

__ADS_1


Adam langsung mendongak, bisa-bisanya istrinya masih menanyakan keberadaan anak tirinya, padahal Ayu telah berbuat jahat.


"Apa dia baik-baik saja Mas?"


"Binar kamu apa- ..."


"Mama!" sentak Papa Ardey memotong perkataan yang ingin meluncur dari mulut istrinya.


"Papa," Mama Mahira sangat kesal, suaminya selalu menghentikannya. "Binar, ini semua gara-gara Ayu. Dia telah besekongkol untuk mencelakai mu dan sekarang mereka kabur." Mama Mahir berpindah, yang semula berada di samping suaminya. Kini berpindah di samping Binar. "Kalau Andra berada di sisi mu, hidup mu tidak akan tenang."


"Mama,"


Binar tersenyum Mama mertuanya sangat sulit menerima kehadiran Andra, tapi ia tidak akan membuang Andra. Bagaimana pun juga Andra adalah anaknya, putranya.


"Andra anak Binar Ma,"


"Kenapa? kenapa kau masih menerima Andra setelah apa yang di lakukan Ayu?" Adam semakin merasa menyesal dan bersalah. Terbuat dari apa hati istrinya? selain cantik, hatinya bagaikan malaikat yang mau menerima Andra.


"Hah, dimana Andra? aku ingin bertemu dengannya."


"Aku panggil sayang," ucap Adam. Dia pun memanggil Andra dan membujuk putranya untuk menemui Binar.


Andra pun tersenyum, dia langsung turun melewati Adam. "Mama!" Andra menatap Binar dengan hati yang sakit. "Maafkan Andra tidak bisa menjaga Mama."


"Huh," Mama Mahira berdecak tak suka.


"Mama maafkan Andra, Mama sayang Andra. Jadi jangan merasa bersalah."


Adam pun masuk. Dia menyela perbincangan Andra dan Binar. "Sayang, aku keluar dulu. Aku akan menemukan mereka." Ucap Adam. Tangannya sangat gatal ingin mencekik Ayu dan membunuh pria sialan itu.

__ADS_1


__ADS_2