5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
kejujuran Andra


__ADS_3

"Andra," sapa Adam.


Andra turun dari kursi tunggu, lalu menatap pasangan itu sambil mendongak. "Apa terjadi sesuatu pada tante?" tanya Andra khawatir.


Adam berjongkok, memegang kedua bahu putranya. "Kau akan menjadi seorang kakak,"


Andra bingung, bukankah dia sudah menjadi kakak semenjak ada Abra?


"Kakak?" tanya Andra semakin kebingungan.


"Kau akan memiliki adik lagi dari Mama Binar, ya kau akan memiliki adik, adik kedua mu."


Andra menatap tak percaya pada Binar. "Benarkah?" tanya Andra.


"Iya sayang, apa Andra bahagia atau kecewa? maaf kalau Tante membuat mu kecewa, tapi ..."


"Tidak, justru Andra bahagia. O iya, Ma, Andra ingin meminta adik perempuan. Masak iya adik laki-laki lagi kan gak seru," ucap Andra sambil bersendekap dada. Sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Amiin, berdoa saja, tapi kalau cowok, gak masalah kan? Andra tetap menyayanginya kan?" tanya Adam. Sementara Binar tertegun, ia terharu. Andra memanggilnya sebutan 'Mama'


"Iya tetap donk Pa, namanya juga adik Andra."


"Iya sayang, ayo kita pulang. Mama Binar pasti lelah,"


Andra mengangguk, dia menggandeng tangan Binar dan tangan Adam, berada di tengah-tengah pasangan suami istri itu.


Selesai dari rumah sakit, Adam mengajak keluarganya menuju sebuah Restaurant terdekat. Dia tidak mau Binar sampai kelaparan, apa lagi sekarang ada buah hatinya di rahim istrinya. Seperjang perjalanan, dia menggenggam tangan Binar, seakan tidak ingin di lepaskan.


"Apa sih sayang? ada Andra," tegur Binar.


Adam menatap Andra yang tengah bermain dengan kedua robot di tangannya melalui kaca spion. Dia jadi teringat obat itu, akankah anak itu akan diam.


"Andra, kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada Papa?"


Binar menoleh ke belakang, dia melihat langsung ke arah Andra. "Benar sayang, tidak ada yang mau kau katakan?"

__ADS_1


"Apa ya Ma?" tanya Andra. Mulai sekarang dia ingin memanggil Mama saja, semenjak tadi ia memang gugup, tapi setelah mengucapkannya, ia tidak lagi gugup justru hatinya menghangat.


"Masalah obat di botol itu?"


Seketika robot yang berada di tangan Andra terjatuh. Ia baru ingat kalau obat itu ibunyalah yang memberikannya.


"Sayang, kau tak ingin mengatakan apa pun? sebenarnya itu obat apa?" tanya Binar dengan lembut dan tersenyum. Dia tidak mau menekan Andra, yang terpenting Andra mau jujur padanya.


"Sebenarnya ..." Andra melirik Binar yang tampak tersenyum, lalu melirik Andra yang menatap tajam.


"Sebenarnya aku tidak tahu, kata Mama itu obat vitamin untuk Papa dan Mama, jadi aku di suruh memberikan obat terpisah. Buat Mama beda, buat Papa beda." Tutur Andra.


"Hah," Adam menghela nafas panjang. Ayu benar-benar wanita ular, dia memanfaatkan kepolosan Andra.


"Tapi Papa menyayangi Andra kan? kenapa Papa marah pada Andra?"


Adam menepikan mobilnya ke sisi jalan. "Sebenarnya Papa kecewa pada mu Andra, kedua botol itu adalah obat perangsang yang tidak baik untuk kesehatan Papa dan satunya pencegah kehamilan, artinya kalau Mama Binar hamil, berarti bayinya bisa keguguran dan kamu tidak akan memiliki adik lagi, Papa hanya kecewa itu."

__ADS_1


"Papa sangat menyayangi mu, papa kecewa. Tetapi sekarang, terserah kamu, Papa memberi pilihan, kamu mau bersama Papa atau sama Mama Ayu. Bukannya Papa tidak sayang, tapi kalau Andra bersama Papa, artinya Andra harus menyayangi Mama Binar dan juga adik Abra."


"Sekarang pilihlah sesuai keinginan Andra."


__ADS_2