5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
#Tidak Ada Penolakan


__ADS_3

"Pa, aku ingin tidur dengan Papa," ucap Andra. Setelah makan bubur dan minum obat, Andra terbangun tepat di jam 5 sore dan Binar pun tidak pernah berhenti mengecek tubuh Andra, takut sewaktu-waktu Andra demam, walaupun Dokter sudah mengatakan kalau Andra baik-baik saja.


Adam tersenyum, dalam hati ia ingin mengumpat, tapi sayangnya adalah anaknya sendiri. Akhirnya ia harus berpuasa lagi dan lagi.


Sedangkan Ayu yang berdiri di samping Andra tersenyum puas, walaupun ia ingin menginap sekaligus mengawasi Andra dan Binar, tapi ia kini percaya, putranya pasti bisa membuat celah keduanya menjadi renggang.


"Baiklah," pasrah dan menyerah demi putranya. Adam harus mengiklaskan keinginan hatinya.


"Andra, Mama pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik, kalau ada sesuatu hubungi Mama," ucap Ayu.


Adam memolototi Ayu, seakan di rumahnya adalah tempat berbahaya.


"Kau pikir rumah ku sarang Monster?"


"Bukan begitu Mas, aku hanya takut Andra butuh sesuatu dan Mas tahu sendiri, dia tidak bisa terpisah dengan ku."


Adam tak menanggapi perkataan Ayu, berbicara dengan wanita di sampingnya selalu menyulut emosinya.


"Mas," Binar muncul di ambang pintu sambil membawa Abra, bocah kecil itu meronta meminta turun di dekapan sang ayah.


"Abra nangis cariin kamu," ucap Binar, dia menyerahkan Abra pada Adam, tentu saja bocah itu langsung tersenyum dan membuat Abra gemas, lalu mencium kedua pipinya. Tanpa sadar, Andra tersenyum, ingin sekali dia mencubit pipinya. Apa lagi dari dulu dia menginginkan seorang teman, entah itu adik perempuan atau laki-laki.


"Sayang, ini kakak, kakak Andra, coba Abra sebutin."


Bocah itu hanya tersenyum, memamerkan giginya yang hanya tumbuh beberapa buah saja. "Da ... Da ..."


Adam tertawa renyah, begitu pun wanita cantik di samping Adam. Dia begitu senang melihat dan mendengarkan celoteh anaknya.

__ADS_1


Abra menyodorkan mainan kapal-kapalannya ke Andra dan bocah yang berumur 5 tahun itu pun mengambilnya.


"Sepertinya Abra menyukai mu," ucap Adam. Dia ingin putranya menerima Abra dengan sepenuh hati meskipun beda ibu, ia takut setelah dewasa, Abra dan Andra saling menjatuhkan.


"Iya," ucap Andra tersenyum malu.


Ayu merasa kesal. "Sayang, Mama pamit dulu." Ayu mencium kening Andra dan melirik ke arah Adam. Sebelum melangkah, dia menatap Binar dengan tatapan Benci dan Binar membalasnya dengan tersenyum paksa.


"Sayang, biar aku bawa Abra keluar. Kau harus menemani Andra," ucap Binar. Ia pikir anaknya harus mengalah demi Andra agar betah di rumah ini sekaligus menyingkirkan pikiran negatifnya.


Andra merasa berat, sejujurnya ia ingin bermain dengan Abra, namun pikirannya menolaknya untuk mencegahnya.


"Sayang, biarkan Abra menemani Andra," tolak Adam, dia ingin mendekatkan putranya Abra dengan Andra.


"Tapi Andra butuh istirahat,"


"Emm, itu terserah Papa." Andra menjawab dengan ragu sambil melirik Binar.


"Baiklah, kalau Abra mengganggu mu. Katakan pada Mama,"


***


Binar menata makan malam di rumahnya dengan di bantu Mama Mahira dan Papa Ardey yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Papa Ardey merasakan sepi, dia ingin bergabung dengan Andra, Abra dan Adam yang selalu tertawa sampai membuatnya penasaran sedang apa ketiga laki-laki itu.


Sedangkan Binar, kadang dia mengintip melalui celah di pintu kamar Andra, melihat anaknya rukun Andra dan Abra, ia menaruh harapan, semoga hubungan mereka membaik dan saling menyayangi serta saling menjaga.


"Bi, Mama panggil Papa dulu. Kau panggi lah Adam dan Abra."

__ADS_1


"Iya Ma," jawab Binar.


Binar melangkahkan kedua kakinya ke kamar Andra. Di sana ia melihat lagi sebuah penampakan yang selalu ia harapkan. Melihat keluarga kecilnya yang bermain bersama.


"Sayang, makan malam sudah siap. Andra, kau ingin makan di sini atau makan bersama kita."


"Biar Mama saja yang membawakannya untuk mu," tawar Binar.


Andra menggeleng, bibirnya seakan kelu untuk berbicara dengan Binar.


"Ya sudah Mama bantu kamu duduk di kursi roda," ucap Binar. Dia pun menggendong tubuh Andra, lalu menaruhnya di atas kursi roda.


"Ayo, kita serbu makan malamnya." Adam menggenggam sebelah tangan Abra, lurus seakan ingin menembak sesuatu dan membuat Andra dan Binar kembali tertawa melihat tingkah konyol Adam.


"Sayang ingin makan apa?" tanya Binar. Dia siap siaga mengambil beberapa sayur serta ikan yang di inginkan Andra.


"Aku mau makan sama udang,"


"Sama brokoli lagi ya?"


Andra mengangguk, kalau malah sayur dia memang tidak suka pilih-pilih asalkan tidak pahit.


"Mama suapi,"


Tidak ada penolakan dari Andra dan Binar pun kembali menyuapi Andra dan mengesampingkan perutnya yang lapar.


Sedangkan Ayu, dia berkali-kali menghubungi Andra, namun tidak di angkat, dia kembali menghubungi Adam dan Binar, namun sama saja dan membuatnya menggerutu kesal, mengumpat habis nama Binar.

__ADS_1


"Si murahan itu, pasti sedang menggunakan berbagai cara untuk mendekati Andra." Ayu mengetuk-ngetukkan ponselnya ke dagunya. "Aku harus melakukan sesuatu agar Andra lebih membenci Binar, tapi apa ya?"


__ADS_2