5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
#Andra Sakit


__ADS_3

Pada malam harinya.


Ayu menghubungi Adam, entah berapa kali dia menghubungi Adam, namun pria itu tidak mengangkatnya sama sekali. Bahkan dia sangat cemas melihat tubuh Andra yang semakin panas.


"Angkat," ucap Ayu sambil menekan kain yang basah menempel di kening Andra.


"Hallo, Mas kamu cepet kesini, tubuh Andra panas. Dia demam sejak tadi," cerocos Ayu.


"Baiklah, kita akan kesana," ucap seorang wanita yang membuat Ayu melihat ponsel di tangannya. Ternyata bukan Adam yang mengangkatnya melainkan Binar.


"Kirim lokasi mu sekarang juga Ayu," titah Binar dan langsung mematikan ponselnya. Dia pun menoleh pada suaminya yang tengah asik cilut ba dengan putranya, bahkan tak segan untuk menggelitiki Abra dan membuat bocah menggemaskan itu terkekeh geli, bahkan air liurnya sampai menetas ke luar.


Binar menatap suaminya, hanya sebatas dinding kaca yang memisahkan mereka. Terselip rasa kecewa, tapi ia yakin ia bisa mempertahankan Adam. Mungkin ini ujian mereka, apa lagi melihat kedua mata Andra tidak menyukainya dan Abra.


"Ya, ini cobaannya."


Saat Ayu menghubunginya tadi, Adam langsung memberikan ponselnya pada Binar. Ternyata pria itu sengaja untuk menjaga hatinya.


"Sayang, Andra sakit kita harus kesan," ucap Binar panik. "Ini, Ayu sudah mengirimkan lokasi mereka."


"Ya, sudah kita kesana. Bagaiman dengan Abra?" tanya Adam. Dia tidak mungkin meninggalkan putranya.


"Ada Bi Lia," ucap Binar. Di angguki oleh Adam.


Binar dan Adam bergegas ke sebuah alamat yang Ayu kirimkan, mereka sampai di sebuah kontrakan.


"Ini benar di sini, Mas."


"Mas Adam!" teriak Ayu. Dia menggendong tubuh Andra, sejak tadi dia menggendong tubuh Andra karena bocah itu meminta ingin di gendong dan tidak ingin tidur di kasur.


"Itu dia Mas,"

__ADS_1


Adam membuka gerbang kecil itu, dia berlari menghampiri Ayu dengan di ekori Binar.


"Andra, cepat bawa masuk ke mobil." Titah Adam.


Binar membukakan pintu mobil belakang, Ayu masuk sambil menaruh Andra di pangkuannya. Ketiga orang itu di dalam mobil hitam itu pun menuju rumah sakit terdekat.


***


Ayu menangis meratapi Andra yang sedang terbaring lemah dan selang infus di tangannya. Binar melirik Adam, begitu pun wajah pria itu yang tampak sedih. Ia sebagai orang tua pun memahami hati suaminya dan Ayu.


"Mas," Binar mengusap pundak Adam. Pria itu bersendekap, lalu menurunkan kedua tangannya. Dia menoleh dan memeluk wanita di sampingnya.


Binar mengusap punggung Adam, dia sedikit menoleh dan mencium pipi Adam. "Andra pasti baik-baik saja, dia kuat, seperti dirimu."


"Terimakasih, kau selalu ada untuk ku. Di saat aku mengecewakan mu, kau tidak pernah pergi dari hidup ku. Kau menguatkan aku," ucap Adam.


Perlahan Andra membuka kedua matanya, dia melirik wanita di sampingnya yang menggenggam tangannya.


"Mama," lirih Andra dengan lemah


Mendengar Andra yang sadar, Binar dan Adam langsung mendekat. Adam, pria itu pun langsung mencium kening Andra.


"Kenapa sayang? kau ingin sesuatu?" tanya Adam.


Andra melirik Binar, dia pun beralih menatap Adam, lalu menoleh pada ibunya.


Binar mencoba tersenyum, meskipun terselip kecewa. Ia tahu, anak itu mengisyaratkan kalau dirinya tidak di butuhkan kehadirannya.


"Maaf, kalau aku kesini," ucap Binar. "Semoga cepat sembuh," ucap Binar. Dia pun langsung pergi tanpa menunggu perkataan kedua orang di depannya. Dia seolah menjadi asing di antara mereka.


"Binar," Adam ingin mengejar Binar. Namun, Andra menahan lengannya.

__ADS_1


"Aku ingin Papa dan Mama," lirih Adam dengan suara lemah.


Adam tak enak hati, ia berat meninggalkan Andra saat tubuhnya lemah seperti ini, dan hatinya juga berat meninggalkan Binar sendirian.


"Tunggu bentar, Papa akan kesini." Adam melepaskan tangan putranya, bukannya ia tidak bermaksud adil atau lebih memilih Binar, tapi ia pikir, setelah melihat Binar, dia bisa mendatangi Andra lagi.


Binar menunggu di ruang tunggu, beberapa kali ia menarik nafasnya. Kalau di lihat dari jauh, Andra sangat ingin menyatukan kedua orang tuanya. Haruskah ia mengalah untuk Andra? haruskah ia bersaing dengan anak kecil?


"Sayang kamu kenapa?" tanya Adam. Dia berjongkok di depan Binar dan menatap wajahnya. "Apa Andra membuat mu tak nyaman?"


"Aku ingin pulang," ucap Binar. Adam tahu kalau wanita di depannya merasa tak nyaman.


"Baiklah aku akan mengantarkan mu," ucap Adam. Bukannya ia tidak perhatian, tapi tidak ingin memaksa Binar mengatakan keluhan di hatinya yang tak ingin di ungkapkan.


"Tidak perlu, aku bisa menghubungi pa Kimar," ucap Binar. Walaupun ia tidak berada di kediaman utama, tapi Mertuanya menyuruh jika ada perlu untuk menghubungi pak Khimar, sopir pribadinya dulu.


"Tidak! kau tanggung jawab ku, aku akan mengantarkan mu, tapi aku akan ijin pada Andra."


"Tidak perlu," Binar berdiri di ikuti Adam.


"Sayang apa aku punya salah?" tanya Adam menatap lekat wajah istrinya. Kalau ia salah, ia ingin memperbaikinya.


"Apa aku boleh jujur, aku tidak ingin bersaing."


Binar langsung melangkah pergi, Adam sedikit mengernyit ia langsung paham perkataan Binar dan menduga kalau Binar tengah cemburu.


***


"Kau cemburu?" tanya Adam. Dia menoleh sambil menyetir. Ia tadi sudah meminta ijin pada Andra dan Ayu untuk mengantarkan Binar lebih dulu. Sedangkan Andra menyetujuinya dan memintanya untuk kembali menemaninya di rumah sakit. Padahal, Andra setuju atau tidak, ia tetap akan mengantarkan Binar.


"Andra tidak menyukai ku, sepertinya dia sangat menginginkan kamu kembali. Aku tidak ingin bersaing dengan anak kecil. Bagaimana kalau suatu saat nanti Andra menyuruh mu untuk memilih?"

__ADS_1


"Dia belum mengerti, tapi aku akan memilih mu. Aku masih bisa bertanggung jawab pada Andra walaupun aku tidak bersama dengan ibunya."


Adam menurunkan sebelah tangannya, dia meraih dan menggenggam tangan Binar. "Aku mohon, jangan lepaskan aku. Mari kita berjuang, aku tidak ingin kau berjuang sendiri. Tapi aku senang, kau memperjuangkan cinta ku."


__ADS_2