5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
"Kau Tidak Butuh Sosok Seperti Ku


__ADS_3

"Sayang, maaf kalau kehadiran Ayu membuat mu tak nyaman," ucap Adam. Sebelum Adam menyetujui Andra menginap di rumahnya, dia membuat perjanjian, yaitu Ayu tidak boleh ikut menginap di rumahnya. Andra pun setuju, selain karena ingin merebut sang Ayah, dia juga merindukan Ayahnya.


Ayu menghentikan tangan kanannya yang mengaduk-ngaduk bubur di panci kecil itu. Siang ini dia berniat membuatkan bubur untuk Andra.


"Andra juga butuh ibunya, cepat atau lamba aku memang harus bertemu dengannya kan."


Adam memeluk Binar dari belakang, tanpa memperdulikan ada beberapa sepasang mata yang melihat ke arahnya, tanpa sadar bahwa kini dirinya berada di dapur. Beberapa Art pun pergi tak ingin mengganggu kedua majikannya.


"Lepaskan, aku mau menyiapkan bubur untuk Andra," ucap Binar. Dia melepaskan pelukan Adam, namun pria itu masih enggan melepaskannya. Jadilah dia mengikuti punggung Binar, menempel bagaikan lintah.


"Hem, sayang." Binar menaruh bubur itu ke mangkok di tangannya, lalu menuju ke arah meja dan menyiapkan segelas air. "Lepaskan!"


"Baiklah, tapi nanti malam aku minta jatah," ucap Adam dengan senyum menyeringai. Ia telah membayangkan istrinya menggunakan lingerai seksi, tiga hari tiga malam dia sibuk mondar mandir dari rumah sakit, kantor dan rumah, tidak ada waktu bermanja dengan istrinya.


"Terserah," ucap Binar. Adam mengikuti Binar sampai ke kamar Andra.


"Andra, waktunya makan bubur, kau harus meminum obat mu," ucap Binar.


"Sudah, biarkan aku saja," ucap Ayu. Dia tidak mau Binar berdekatan dengan Andra dan menaruh perhatian.


Ayu memakan sesendok bubur yang di siapkan Binar, bubur itu terasa enak di lidahnya.


"Tenang, saja aku tidak menaruh racun di dalamnya," ucap Binar. Ia tahu wanita di depannya menaruh curiga padanya.

__ADS_1


"Bisa jadi kan?"


"Ayu!" Terdengar suara tegas dan dingin.


Seketika Ayu mengalihkan perhatiannya pada Andra, dia pun menyendok bubur itu lalu menyodorkannya ke Andra.


"Panas," ucap Andra melihat kepulan asap di bubur itu.


"Biar aku saja," ucap Binar melihat Ayu dengan wajah tak bersahabat.


Ayu tengah kesal, dia pun lupa dan menyodorkan mangkok itu ke depan perut Binar, hingga Binar tak merasakan panas, namun ia menjerit dan ingin menumpahkan bubur panas itu ke wajah Ayu. Sedangkan Adam menahan amarahnya melihat kode mata dari Binar agar tidak marah di depan Andra.


Binar pun duduk di depan Andra, sedangkan Ayu malah pergi dan meninggalkan mereka.


Dengan telaten Binar menyuapi Andra setelah mengipas bubur di tangannya hingga menjadi dingin.


"Kau tidak perlu berpura-pura baik pada ku," ucap Andra. Dia menatap wajah Binar, ibu tirinya itu.


"Aku tidak akan memaksa mu untuk menyukai ku, ada beberapa anak yang tidak suka pada ibu tirinya, termasuk aku dan aku memahaminya. Sosok ibu kandung tidak bisa di gantikan dan aku tidak berharap lebih, aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang ibu, suka atau tidak suka kau harus menerimanya."


Binar kembali menyuapi Andra dan bocah itu selalu menerima suapannya, mungkin karena sangat lapar tanpa penolakan.


"Aku tau kau tidak butuh ibu seperti ku. Kau merasa aku merebut ayah mu?"

__ADS_1


Seketika Andra melihat ke arah Binar, sejak tadi dia memang menunduk, seakan muak melihat ke arahnya.


"5 Tahun, 5 Tahun aku berjuang merebut hati ayah mu. 5 Tahun itu aku lalui sebagai seorang istri yang selalu merindukan suaminya. Kau pasti menyangka Abra mendapatkan kasih sayang? ketahuilah, dia sosok anak kecil yang merindukan ayah mu. Lalu ibu mu datang dan aku menyerah, tapi ayah mu mungkin sadar kalau dia mencintai ku."


Binar mengambil segelas air di atas nakas, dia pun menyodorkannya ke mulut Andra dan bocah itu pun meneguknya.


"Suatu saat nanti kau akan mengerti," ucap Binar berlalu pergi, meninggalkan Andra dengan pikiran tak menentu.


***


"Ayu, kau harus memberi ruang untuk Andra dan Binar, jangan menghasutnya," ucap Adam. Dia tidak mau Andra di hasut sehingga tidak mau mengakui Binar sebagai ibunya.


"Binar belum tentu baik, seperti yang kau bayangkan."


"Aku tahu kau akan berkata seperti itu," ucap Adam, kedua tangannya sangat gatal ingin menampar wajah Ayu, tapi Binar selalu mengingatkan dirinya untuk diam.


"Seharusnya Binar yang berkata seperti itu? Lima tahun berlalu, lalu datang sebagai orang ketiga dengan memanfaatkan anaknya," ucap Mama Mahira, mendengarkan suara Adam yang keras di halaman samping, seketika ia penasaran dan ternyata ulat bulu itu tengah menjelekkan nama menantu kesayangannya.


"Aku melakukannya demi Andra,"


"Andra, Andra dan Andra, sekalipun tidak ada Andra kau akan datang merusaknya kan."


Ayu langsung pergi dan meninggalkan kedua orang itu dengan perasaan sakit hati.

__ADS_1


"Adam sebaiknya kau berhati-hati dengan ulat itu, bisa saja dia mencari celah. Mama peringatkan, kau harus memantau Andra, dia bisa berbuat nekad menghasut Andra." Nasehat Mama Mahira.


__ADS_2