
Binar nampak khawatir, tersirat rasa bersalah di hatinya. Seharusnya tadi ia memarahi Ayu dan mencegah wanita itu menemui Andra. Kalau saja ia tahu, ia pasti akan melarangnya. Andra pasti sedih, sudah bertahun-tahun melewati ibu yang egois seperti Ayu.
"Sayang, kamu tidak perlu ikuti perkataan Mama." Ucap Adam menatap Abra dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Andra.
Adam menggenggam kedua tangan Andra. "Papa mendukung semua keputusan mu, perusahaan Papa juga berhak atas dirimu, tapi nanti Papa tidak akan memilih kamu atau Abra, Papa akan memilih siapa yang pantas untuk duduk di perusahaan." Dia berucap dengan nada pelan dan lembut supaya Andra bisa mengerti.
"Iya Pa, Mama memang tidak menyukai ku menggambar."
"Aku sebagai Mama tiri mu juga mendukung keputusan Ayah mu. Kalau suatu saat nanti kau yang pantas, Abra akan membantu mu."
Sejujurnya di hati Andra, dia tidak ingin menduduki perusahaan itu. Dia hanya ingin mendapatkan kasih sayang papanya, itu sudah cukup baginya.
"Akak ..."
Andra tersenyum, dia turun dari ranjangnya. "Adik,"
"Adiknya mandi dulu ya, Mama mau bersihkan tubuh Abra dulu, nanti kita main."
Andra mengangguk, dia mencium pipi kanan dan pipi kiri Abra dan bocah itu pun tersenyum.
__ADS_1
"Andra mau di bantu Papa mandi?"
"Tidak Pa, Andra mandi sendiri."
"Ya sudah, Papa keluar ya sayang," ucap Adam. Dia pun mencium pucuk kepala Andra. Sedangkan Binar hanya bisa mengelus kepala Andra tanpa mencium karena tidak bisa membungkuk karena Abra berada di dalam gendongannya.
***
"Sayang." Suara ketukan pintu itu membuat Andra menoleh, dia menggunakan handuk untuk menutupi separuh tubuhnya. Baru saja dia selesai mandi dan mendengarkan suara yang ia kenal.
Andra melangkah ke arah pintu, sekalipun dia kecewa dan marah, tapi Ayu tetaplah ibunya, yang membesarkannya.
"Masuklah Ma," ucap Andra. Di usinya yang sudah lima tahun, ia sudah di ajarkan mandiri. Bahkan Ayu tak segan memarahinya kalau ia tidak bisa mendiri dan ada sedikit kesalahan.
"Ada apa Ma?" tanya Andra.
Ayu meraih kedua tangan Andra. Dia beralih duduk berjongkok di lantai. "Maafkan Mama karena tadi memarahi mu, percayalah. Mama melakukan semua ini demi dirimu."
"Okelah Ma, Andra mengerti."
__ADS_1
"Tapi Mama tidak pernah mendukung mu menjadi seorang pelukis, Mama berharap kamu bekerja di perusahaan Papa mu. Dengar Andra, ambil apa yang sudah menjadi milik mu."
Andra mengepalkan kedua tangannya, selalu seperti ini, entah kapan Mamanya akan mendukung keinginannya?
"Kamu mengerti kan sayang."
Andra mengangguk. "Iya Ma."
Ayu langsung memeluk Andra dengan erat, cukup lama dia memeluk dan akhirnya melepaskannya. "Dengar sayang, kamu tidak boleh dekat dengan Binar. Tugas mu adalah memisahkan mereka. O iya, Mama ada sesuatu."
Ayu mengeluarkan dua botol yang berisi cairan. Satu botol berwarna merah dan satu botol berwarna biru. Sehingga tidak akan curiga kalau kedua benda ini adalah sebuah obat dan perangsang.
"Obat berwarna biru ini, kamu tuangkan ke makanan tante Binar dan satu botol berwarna merah ini kamu tuangkan ke minuman Daddy mu."
"Apa kedua obat ini Ma?"
"Vitamin, untuk tante Binar dan Ayah."
"O iya, besok malam Mama akan kesini, jadi kamu cari waktu untuk menuangkan cairan ini ke minuman ayah mu. Begini sayang, kamu pura-pura saja membuat minuman, lalu kamu tuangkan dan berikan pada ayah mu, tapi setelah ada Mama. Kamu paham kan?"
__ADS_1
"Iya Ma, Andra paham."
"Baiklah, anak pinter. Jangan sampai ada yang tahu kedua obat ini."