
Selama seminggu Adam kurang memperhatikan Andra, dia kecewa dan sangat kecewa pada putranya. Setelah menyelidiki obat itu dengan diam-diam bersama Binar. Saat Andra di ajak keluar dengan Ayu, bahkan dia tidak menyangka kalau Andra akan menerima obat itu. Begitu pun dengan Binar, ia kecewa karena obat itu salah satunya mencegah kehamilan dan satunya obat perangsang, tapi ia bersikap biasa saja.
Bahkan dia memohon pada Adam untuk tidak memarahi Andra, dia meminta pada Adam untuk menunggu kejujuran Andra.
Seperti saat ini, dia menatap Andra yang sibuk dengan sarapannya. Sedangkan suaminya malah diam, seakan mengabaikan Andra. Ia tahu, ada kecewa di mata Andra. Ia melihat sendiri raut wajah kecewa saat Adam menolaknya untuk meminta bermain.
"Pa, nanti Papa pulang jam berapa? aku ingin main dengan Papa," ucap Andra sambil tersenyum. Dia sangat merindukan papanya.
"Aku sibuk, tidak ada waktu untuk bermain." Adam mengusap mulutnya dengan tisu, lalu menaruhnya di samping piringnya. "Sayang aku berangkat dulu," ucap Adam. Dia mencium pucuk kepala Binar, lalu mencium pipi Abra yang sedang berada di pangkuannya sambil menyuapinya dengan roti.
Andra menatap sendu ke arah Adam, hatinya teriris merasakan ketidak adilan.
"Tante Binar, apa Papa membenci ku?" tanya Andra langsung.
Binar menggeleng pelan. "Papa sibuk sayang,"
"Tapi kenapa Papa berubah?" tanya Andra dengan dada naik turun dan penuh emosi.
"Berubah bagaimana sayang? Papa tidak berubah, justru Papa sangat menyayangi Andra."
"Bohong! Papa mengabaikan Andra." Teriak Andra, dia langsung berlari ke lantai atas. Sedangkan Binar hanya menatap sendu. Dia berusaha memaafkan Andra meskipun niatnya tidak baik.
***
Sedangkan Ayu, seminggu ini ia merasa kesal dan marah pada putranya itu. Andra selalu saja mengulur waktu, dia bilang Adam sibuk dan selalu ada Binar di sampingnya. Selalu perkataan itu yang ia dengarkan dari Andra. Bahkan ia sempat memarahi Andra karena anaknya tidak bisa di andalkan.
"Tidak Boleh, harus secepatnya. Aku tidak mau Andra terlalu menundanya lagi. Malam ini, harus bisa membuat Adam kembali pada ku."
__ADS_1
Ayu berkata dengan tegas pada dirinya sendiri, kalau malam ini ia harus berhasil.
Dia pun mondar mandir di kamarnya, menunggu waktu malam yang segera tiba.
***
"Mas, kamu kemana saja?" pekik Binar. Dia menghubungi suaminya sejak tadi, dia memaksa suaminya untuk mengangkat panggilannya dan membalas pesannya. Saat mengetahui kabar tentang Andra, suaminya justru tidak memperdulikannya dan mengabaikan panggilannya.
"Aku lelah, masalah Andra?"
Binar mengangguk, Andra tidak keluar dari kamarnya dan ia khawatir sejak tadi pagi. Ingin menghubungi Ayu, ia malas berdebat dengannya.
"Biarkan saja,"
"Mas jangan marah pada Andra. Dia belum tentu tahu obat itu?"
Entah bagaimana caranya ia membujuk suaminya agat tidak terlalu mempercayai kalau Andra juga tahu obat itu. Ia yakin, Andra tidak akan sejahat itu. Bahkan ia melihat, tatapan Andra padanya yang kadang kala mengartikan sebuah kehangatan.
"Ck, rupanya aku di sambut?"
Seketika Binar menoleh. "Siapa yang menyambut mu? aku hanya menyambut suami ku."
"Oh," Ayu bersikap cuek. "Dimana Andra?"
"Di kamarnya, silahkan kalau kau ingin bertemu dengannya."
Ayu tersenyum mengejek, malam ini rencananya pasti berhasil. Dia sangat yakin, kalau dirinya malam ini bisa mendepak Binar yang kedua kalinya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Andra sayang, ini Mama sayang."
Andra yang meringkuk dan menangis. Dia pun langsung bergegas dan membuka pintu kamarnya. Dia memeluk Ayu yang masih berada di ambang pintu.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Ayu. Dia melepaskan kedua tangan Andra yang memeluk erat kedua kakinya, lalu beralih berjongkok. "Kita bicara di dalam," ujarnya lagi setelah menghapus air mata Andra.
"Mama, Papa tidak sayang pada ku." Ucap Andra semakin terisak.
"Maksud mu Apa?"
"Papa selalu sibuk jika di ajak Andra main."
Ayu memutar bola matanya dengan jengah, ia tidak habis pikir dengan putranya yang selalu mengutamakan mainnya ketimbang rencana besarnya.
"Papa sibuk sayang, o iya bagaimana malam ini? kita tidak bisa menunda lagi Andra."
Seketika bayangan saat Adam mencium Abra dan Binar menusuk hati dan pikirannya. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan kebencian yang membara. Malam ini ia akan melakukan sesuai permintaan ibunya, tidak ada lagi keraguan di hatinya.
"Baik Ma, bagaimana caranya?" tanya Andra dengan mantap.
Ayu pun membisikkan sesuatu dan membuat Andra mengangguk paham.
__ADS_1