5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
#Panasnya Cemburu


__ADS_3

"Andra sudah datang, dia sangat merindukan mu," ucap Binar. Sebagai seorang ibu, dia memahami kerinduan Andra pada ayahnya, sama dengan Abra, kadang ia menangis jika Abra menyebut Adam.


Adam menggenggam tangan Binar, dia menaruhnya di dadanya, sehingga Binar merasakan detakan demi detakan jantung yang berdebar itu. "Kau nyawa ku, aku tahu, aku pria brengsek, tapi aku mohon percayalah. Aku hanya bertanggung jawab pada Abra, bukan pada Ayu."


"Tentu saja, tapi kalau kau bosan pada ku ... "


"Sayang, aku tidak pernah bosan pada mu. Jadi jangan pernah mengatakan itu, emm ... padahal aku masih anu-anu dengan mu, jadi kita lanjutkan saja,"


Adam memblokir kedua mata indah Binar, dia kembali mencium bibir mungil itu dan meluncurkan aksinya yang selanjutnya.


***


Detakan jarum jam panjang terus berpindah dari angka ke angka, terus berputar menjalankan tugasnya untuk mengingatkan waktu pada banyak orang.


Kedua mata wanita itu kembali melirik jam dinding itu, entah berapa jam dia dan Abra menunggu. Namun, anaknya selalu tersenyum dan tidak sabar menemui sang ayah.


Gelak tawa di ruangan itu menghiasi kekesalan Ayu, sejak awal Abra dan Bi Lia serta kedua orang yang tidak ia kenal bermain di ruang tengah sambil menonton televisi, sedangkan dia dan Abra berada di ruang tamu menunggu Adam.


Awas saja kau Binar batin Ayu menggeram di dalam hatinya.


Tepat jam 10.30, Ayu melihat ke arah tangga dan melihat kedua orang yang tengah menuruni anak tangga, seorang wanita yang berbalutan dress berwarna Maroon dengan ikat pinggang dan hiasan bulat di pinggangnya.

__ADS_1


"Ayu," sapa Binar dengan wajah ceria, seceria sinar matahari yang baru beranjak dari peraduannya.


"Papa!" teriak Andra. Dia langsung berlari ke arah Adam dan Adam melebarkan kedua tangannya.


Adam menggendong tubuh Andra masuk ke dalam pelukannya. "Maaf ya sayang, lama." Lirihnya, Adam merasa bersalah. Tapi ya mau bagaimana lagi? setiap melihat Binar ia ingin melakukannya lagi dan lagi.


"Tidak apa Ayah, asalkan bisa bertemu dengan Papa, menunggu lama pun tidak masalah," ucapnya.


Binar mendekat, mengusap pucuk kepala Andra. Bocah kecil itu memoloti Binar dengan tak suka. "Jangan mengelus ku, hanya Mama yang boleh mengelus ku," bentaknya.


Binar menurunkan tangannya dan tersenyum. Sedangkan Ayu, dia tersenyum sinis. Anaknya sangat membenci Binar dan ia yakin, cepat atau lambat Adam akan kembali padanya.


"Tidak masalah Mas," ucap Ayu. Dia berusaha seanggun mungkin dan berjalan ke arah Binar dan Adam.


"Kami merasa bersalah, membuat seorang ibu dan anak menunggu." Binar melirik Adam. "Ya seharusnya Mas Adam tahu waktu," Dia pun pura-pura menggaruk lehernya dan membuat rambut tergerai itu tersingkap ke belakang bahunya.


Ayu menatap tajam, kedua netranya tertuju pada leher yang memiliki beberapa tanda itu. Ternyata mereka menunggu dengan lama, malah Binar asik menggoda Adam.


"Aku paham, sangat paham," ucap Ayu. Seolah dia menyindir kalah dialah yang pertama kali melakukannya dengan Adam.


Binar tersenyum dengan hati tercubit, tapi ia akan mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya, kalau pun suaminya akan terjerat, setidaknya ia akan menguras semua harta suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah memahaminya." Binar menoleh. "Benar kan sayang?" tanya Binar.


Adam yang tengah fokus dengan Andra tersenyum, dia pun mengangguk tanpa mengerti pertanyaan yang menjadi jawabannya.


Ayu menahan sakit di hatinya, bertahun-tahun ia hidup menderita, tanpa seorang suami yang berada di sampingnya, bahkan saat hamil pun ia berjuang sendiri, namun ia tidak mau kalah, ia akan merebut apa yang telah menjadi miliknya.


"Sayang, aku mau ke Abra dulu," ucap Binar.


"Ya sudah, kamu bawa Abra, aku juga ingin menemaninya," ucap Adam. Di sinilah ia menjadi sosok seorang ayah yang harus adil dan menemani kedua putranya.


"Adam, Andra sangat merindukan mu, bahkan dia mogok makan dan aku harus membujuknya," ucap Ayu memulai pembicaraannya. Dia pun mendekat dan seolah menjadi istri yang siap berdiri di samping Adam dan putranya sambil tersenyum.


"Dia mirip dengan mu,"


"Iya, putra ku harus mirip dengan ku sama dengan Abra,"


Binar mendekat, dia merasakan panas di hatinya yang membakar seluruh jantungnya, seperti sebuah keluarga yang bahagia yang berada di depan matanya. Ia pun berderhem dengan keras dan membuat Adam menoleh, pria itu tak menyadari istrinya yang berdiri jauh sambil menggendong Abra.


Adam langsung mendekat, dia tidak memperdulikan wanita di sampingnya yang lagi-lagi memendam kesal.


"Sayang,"

__ADS_1


Adam mencubit pipi gembul Abra dan mencium pipinya. "Anak Ayah," ucap Adam.


__ADS_2