5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
Dendam


__ADS_3

Selama dua hari ini, Adam dan Binar sibuk memfokuskan diri untuk Andra, bahkan Saat Adam bekerja pun dia menyempatkan waktu untuk menanyakan keadaan Andra. Sedangkan Binar tak sedikit pun meninggalkan Andra. Dia selalu menemani Andra bersama Abra, kalau pun Abra tidur, maka Binar akan menaruhnya ke kamarnya dulu, lalu setelah itu kembali menemani Andra.


"Sayang, kau mau sesuatu?" tanya Binar. Dia selalu menanyakan keinginan Andra, ia takut Andra malu meminta padanya.


"Tidak Ma, Andra tidak mau apa pun. Bagaimana keadaan dedek bayi, kapan dia akan keluar Ma?" tanya Andra.


Binar tersenyum, ia senang Andra antusias ingin bertemu dengan anaknya. "Tunggu 9 bulan lagi sayang."


"Berapa segini?" tanya Andra menunjukkan pada kedua tangannya yang 10 jari.


"Bukan sayang," Binar menekuk satu jari kelingking Andra.


"Banyak sekali," ucap Andra dengan wajah lesu. Ia tidak sabar ingin melihat adik bayinya.


Binar mengelus gemas kepala Andra, dia mencium bertubi-tubi wajah Andra, lalu turun ke lehernya. Andra pun tertawa karena merasa geli.


"Ma, ampun Ma."


Andra tertawa riang, Binar selalu membuatnya tertawa. Selama dua hari Andra tidak menanyakan lagi keberadaan ibunya.


Binar menghentikan tangannya, dia lalu menarik Andra ke dalam pelukannya. "Semoga Andra jadi anak yang sukses, yang bisa membanggakan Papa dan Mama."


Andra mendongak. "Pasti Ma, aku menyayangi Mama Binar, maaf kalau aku membuat Mama bersedih."


***


Di tempat lain Ayu memuaskan dirinya dengan seorang pria, yang ia sewa untuk menuntaskan keinginannya dan kemarahannya. Dia sengaja melakukannya dengan imbalan membantunya untuk melenyapkan Binar, ya dia berniat untuk membunuh Binar. Kalau dia memang tidak bisa mendapatkan Adam, maka Binar pun tidak boleh, dan selama dua hari ini pula dia tidak mendapatkan panggilan dari Andra, begitu pun sebaliknya. Susah-susah dia mempertahankan Andra, namun anak itu sama sekali tidak bisa membalas kebaikannya.


"Sayang, aku ingin secepatnya kau melenyapkan Binar."


"Baiklah, tapi kau harus memuaskan aku dulu." Ucap Pria bertato.


Dia pun kembali mencium Ayu dan bermain di area dadanya. "Sayang, kau sangat nikmat." Imbuhnya lagi.

__ADS_1


***


Keesokan harinya.


Adam dan Binar bermaksud untuk mendaftarkan Andra ke TK. Mereka pun senang, Andra tampak antusias dan semangat untuk bersekolah. Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anaknya ingin sekolah.


"Kamu suka sayang?" tanya Adam.


"Iya Dad," jawab Andra mengangguk.


"Nanti Mommy dan Abra yang akan mengantarkan Andra,"


"Wah ada adik Abra,"


"Iya sayang," ujar Binar.


Keduanya pun keluar dari Tk itu menuju ke arah mobil, mereka berencana untuk makan di luar.


Tanpa mereka sadari, seorang wanita tengah menatap tajam ke arah mereka. "Lihat, mereka sangat bahagia di atas penderitaan ku."


"Aku percaya, kau harus membuat Binar mampus dari bumi ini."


Binar, aku sangat membenci mu. Gara-gara kau, aku harus seperti ini. Menyerahkan diriku pada pria brengsek.


Ayu memang ingin menyewa preman, tapi sayang, dia tidak memiliki modal dan terpaksa harus menyerahkan mahkotanya itu.


"Baiklah, aku akan terus mengawasinya," ucap pria itu tersenyum licik.


***


Pada malam harinya, Binar kembali membacakan dongeng untuk Andra sampai terdengar dengkuran halus. Binar pun melirik dan bocah itu tertidur pulas.


"Sayang," sapa seseorang bersamaan dengan pintu terbuka. Dia melihat istrinya yang tengah mencium kening Andra.

__ADS_1


"Sayang,"


"Kau sudah pulang? maaf tidak menyambut mu."


"Gak masalah sayang, lagian kamu sibuk ngurusin Andra sama Abra, tapi ingat jangan sampai terlalu lelah." Adam mengusap perut Binar yang masih rata, lalu sedikit berjongkok dan mencium perutnya.


"Jangan nakal ya sayang, papa sayang sama Dedek."


"Mas, Ayu tidak menghubungi mu?" tanya Binar. Mungkin saja Ayu menghubungi Adam untuk menanyakan Andra.


"Tidak, sepertinya dia kapok. Kalau dia punya urat malu, tentu saja dia tidak akan datang."


"Aku kasihan sama Andra, dia pasti merindukan Ayu." Walaupun ia menjadi ibu sambung Andra, menemani setiap harinya, tapi ia tidak bisa menggantikan posisi Ayu.


"Andra sudah memiliki mu, kalau dia merindukan Ayu. Aku bisa mempertemukan mereka, tapi harus melalui pengawasan ku."


"Iya, aku akan mencoba menghubungi Ayu."


Binar mengambil ponsel Andra di atas nakas, dia menghubungi sebuah nama Ayu. Selang beberapa detik, terdengar suara seseorang dari sana.


"Apa? kau sudah menyesalinya dan menjadi anak berbakti."


"Cukup Ayu, jangan memaksa Andra menuruti semua kemauan buruk mu."


Seketika Ayu melihat ponselnya, benar nama Andra, tapi yang menghubunginya adalah Binar.


"Jadi kau yang menghubungi ku."


"Benar, padahal aku berniat ingin mempertemukan mu dengan Andra."


"Dia merengek? kau tidak becus menjaga Andra. Sudah pasti dia akan menanyakan ku."


Kedua mata Adam melotot, pede sekali Ayu mengatakannya. "Heh, Ayu. Aku Binar menghubungi supaya kau menemui Andra, bukan Andra yang mau menemui mu. Aku bahkan bersyukur kau tidak menemui Andra, dasar wanita gila."

__ADS_1


Adam langsung mematikan ponselnya. Dia sangat muak pada Ayu, kalau bukan Binar yang menghubunginya, dia mah tidak mau, ogah sekali.


__ADS_2