
Tok
Tok
Tok
Binar mengetuk pintu kamar Andra. Meja makan pun telah tersaji sarapan pagi, namun Andra belum keluar.
"Sayang, kau sudah bangun?" Binar menyapa di depan pintu. Dia tak enak hati kalau sampai ia masuk, apa lagi Andra sudah melarangnya.
"Masuklah," ucap seseorang.
"Ini Mama Binar sayang." Binar kembali mengungkapkan sebuah panggilan.
"Masuklah,"
Binar memutar handle pintu itu, dia masuk dan melihat Andra yang berada di depan pintu. Sepertinya anak itu sedang ingin mandi karena terlihat handuk yang melingkar di perutnya dan bertelanjang dada.
"Kau mau mandi, apa Mama boleh bantu?"
Andra menatap sekilas, lalu kemudian mengangguk.
Andra membuka handuknya, kini tersisa hanya ****** ******** saja. Dia pun memasuki bathub itu. Dengan sigap Binar menyabuni tubuh Andra dan kini mengusap lembut kepala Andra dengan sampo.
Sentuhan terakhir pun telah selesai, kini tubuh Andra tampak segar dan wajahnya yang tampak berseri.
Binar kembali bertanya-tanya, Ayu yang kemarin tampak berseri dan kini Andra.
"Andra, kenapa? apa ada sesuatu yang membuat mu senang?"
__ADS_1
"Tidak ada," ucap Andra dengan dingin. Dia memakai kaos dan celana selutut.
Setelah selesai Andra berlalu pergi, sedangkan Binar ia masih menyelami pikirannya ibu dan anak itu. Dia pun hendak melangkah, namun kedua matanya langsung tertuju pada laci yang terbuka.
Entah dorongan dari mana, kakinya seakan terseret ke laci itu. Dia pun ingin menutup laci itu, namun kedua matanya tertuju pada dua botol.
"Ini botol apa?"
Binar menerka-nerka, apa obat sesuatu? kalau obat untuk andra tidak ada botol seperti ini. Kedua alisnya semakin menyatu. Dia meremas obat itu, mulai hari ini harus berhati-hati. Dia pun menaruh obat itu ke dalam laci dan akan mengatakan suaminya, agar berhati-hati dan juga Bi Lia serta Hana.
***
"Maaf ya, lama menunggu," ucap Binar. Dia menatap Andra yang tersenyum padanya, namun Binar tak membalasnya, justru malah berekspresi dingin dan membuat Andra menelan kecewa.
*Apa aku punya salah batin Andra
"Mas, aku ingin berbicara pada mu," ucap Binar. "Tapi nanti," imbuhnya lagi.
Adam yang menyantap rotinya pun berhenti, tidak biasanya Binar memintanya untuk berbicara berdua.
"Baiklah sayang." Sahut Adam. Dia tidak bertanya panjang lebar, lebih baik dia menurut saja.
"Bi, kamu jaga Abra." Ucap Binar, dia pun beralih menatap suaminya. "Mas, aku tunggu di balkon."
"Iya sayang, aku udah selesai." Ucapnya. Dia pun mengekori istrinya dan sangat penasaran apa yang ingin istrinya bicarakan.
Sedangkan Andra merasa sakit hati, karena Binar mengabaikannya. Biasanya di ruang makan Binar akan menanyainya, mau makan apa? ingin apa? tetapi sekarang Binar pun di matanya tampak berbeda.
"Sayang kenapa?" tanya Adam. Dia bahkan menatap istrinya yang tampak khawatir.
__ADS_1
"Kamu tidak akan marah kan? berjanjilah pada ku dulu."
Meskipun dia tidak tahu apa yang di katakan istrinya, tapi ia malah mengangguk. "Aku tidak akan pernah memarahi mu, kalau saja aku sampai marah pada mu, lebih baik Tuhan langsung mencabut nyawa ku."
"Aku akan menceritakannya,"
Binar menceritakan saat dirinya memanggil Andra dan membantunya mandi setelah itu tanpa sengaja menemukan dua botol obat.
"Botol berwarna merah dan biru, aku tidak tahu itu obat apa? yang jelas, obat itu bukan obat milik Andra."
"Jangan khawatir, aku akan menanyakannya pada Andra."
"Tidak Mas, Andra pasti akan ketakutan. Kita tunggu saja apa yang sebenarnya Ayu inginkan."
"Ini bukan hanya masalah keinginan Ayu, tapi juga Andra. Sampai saat ini, Andra juga belum menampakkan menyukai mu. Aku takut putra ku itu akan mencelakakan mu dan Abra."
"Mas jangan berpikiran seperti itu," ucap Binar. Hatinya mengatakan kalau Andra masih di pengaruhi oleh Ayu. "Bisa saja dia tidak tahu, tapi Ayu hanya memanfaatkannya."
"Andra pasti sudah tahu kalau ibunya tidak menyukai mu, tapi masih menurutinya. Berarti dia memang bersekongkol."
"Mas aku mohon jangan marah," lirih Binar. Semuanya belum jelas, ia tidak ingin mengambil keputusan yang salah dan membuat hubungan ayah dan anak itu merenggang.
"Aku tidak bisa diam kalau ada yang membuat mu sakit dan menangis, termasuk putra ku sendiri. Benar Andra memang tidak lahir dari rahim mu, tapi dia harus menghormati mu." Adam semakin naik darah, dia bahkan menerima anak itu dan ingin menebus rasa bersalahnya, tapi apa? keluarganya terancam.
"Kita tidak tahu itu obat apa? aku mohon Mas, lebih baik kita diam dulu."
"Baik, tapi kalau terbukti obat itu membahayakan mu. Saat itu kamu jangan ikut campur tentang keputusan ku." Tegas Adam.
"Aku akan berbicara dengan Bi Lia dan Hana untuk mengawasinya." Imbuhnya lagi. Dia melangkah pergi dengan perasan berkembuk, marah dan sedih. Kenapa putranya tidak mau mengerti dirinya?
__ADS_1