
"Kalian sudah datang?" tanya Ayu santai. Dia menyantap roti di tangannya, meneguk setengah gelas susu, lalu memakannya lagi. Beruntungnya hari ini tidak ada mantan mertuanya, atau lebih tepatnya dia gagal menjadi menantunya. Siapa juga yang ingin memiliki mertua yang cerewet seperti Mama Mahira. Ia lebih memilih tidak memiliki Mertua kalau seperti itu.
"Nya ... Dia ... " Bibi Lia melirik dengan hati dongkol pada Ayu, seakan wanita itu telah menguasai rumah ini, tanpa menunggu sang pemilik rumah, wanita itu duduk dan memerintah nya untuk menyiapkan sarapan.
"Sudahlah sayang," Binar mengusap lengan Adam. Jika dulu dia yang membuat Binar bersabar karena dirinya dan sekarang dirinyalah yang di buat kesal oleh mantan kekasihnya. Jadi sekarang ia merasakan apa yang Binar rasakan dulu.
"Mau nasi goreng atau Sandwich?"
Adam mengerutkan keningnya, tidak biasanya Binar menyiapkan nasi dan sup. Sedangkan Nasi goreng dan roti, sudah biasa Binar menyiapkan.
"Tumben ada nasi,"
"Iya, aku pengen makan nasi biasa dan sup?"
"Lauknya sayang?" tanya Adam. Masak iya istrinya makan tanpa lauk.
"Males," ucap Binar. "O iya mau yang mana sayang?"
"Nasi goreng,"
Binar menyendok nasi goreng itu ke atas piring, lalu menaruh sendok. Sedangkan ia menyendok nasi putih itu ke atas piringnya.
"Dimana Andra?" tanya Ayu. "Kau tidak mengabaikan Andra kan Binar?" imbuhnya lagi.
Binar menatap datar Ayu. "Aku tidak akan melanggar privasi Andra, dia tidak menginginkan aku menginjakkan kaki di kamarnya,"
"Itu alasan mu saja kan, bilang saja kau tidak ingin merawat Andra." Tuduh Ayu.
"Ayu, siapa dirimu hah?! berani sekali dirimu mengatakan yang tidak-tidak pada Binar. Demi Andra dia melakukan keinginannya, sikap Andra membuatnya sakit hati, tapi dia diam. Kau tidak memiliki hak apa pun mengomentari istri ku,"
__ADS_1
Ayu merasa dongkol, dia meneguk segelas air di depannya, meneguknya hingga tandas, hatinya merasa panas dan memelurkan air, namun nyatanya, air tak mampu melarutkan rasa panasnya, meredamkan rasa panas di hatinya. Dia pun beranjak dan berlalu untuk men
"Masih untung kau tidak ku lempar dari sini," imbuhnya lagi. Perutnya sudah lapar di tambah berkomentar panjang dan lebar menambah rasa lapar itu. "Sayang, aku mau nasi biasa sama sup," ucap Adam mengalihkan pandangannya.
Binar mengambil lagi nasi biasa itu, lalu mengambil sup di depannya. "Ini sayang,"
Adam kembali memakannya dengan lahap, Binar menatap curiga, biasanya suaminya akan mengatakan 'Aku tidak mau makan berlemak, takut gendut'
"Ini enak sekali sayang," ucap Adam. Lagi dan lagi dia memakannya dengan lahap.
"Adam, biasanya kau akan memperhatikan tubuh mu," seru Ayu. Dia menggandeng Andra, lalu menarik kursi di sampingnya.
"Duduklah," ucap Ayu. Dia pun mengambil roti tawar, di olesi dengan cokelat.
"Ma, aku ingin nasi goreng," ucap Andra. Ia meneguk air liurnya. Harum wangi nasi goreng itu seakan menggoncangkan perutnya.
"Nasi goreng tidak baik untuk kesehatan mu," ucap Ayu.
"Sayang, kau mau ini."
Andra mengangguk, dia pun mengambil piring untuk menyendok nasinya. Namun Ayu segera merampasnya.
"Biar aku saja,"
Binar mengalah, tapi ketika amarahnya ingin meledak, ia akan ledakkan pada wajah Ayu.
"Ayu kesabaran ku ada batasnya, kau ingin menjaga Andra kan, jagalah dia, aku tidak melarang mu. Tapi jika kau membuat hati ku merasa tak nyaman, silahkan kau pergi."
Ayu meremas sendok yang ia pegang, hingga urat tangannya terlihat. "Lihat Andra, dia sudah berani mengusir ibu."
__ADS_1
"Ini rumah siapa? rumah Binar kan," ucap Adam, perkataannya semakin menyudutkan Ayu.
"Aku hanya meminta untuk menjaga sikap mu, itu saja, hargai Binar. Dia tuan rumah di sini." Tegas Adam.
Sedangkan Andra malah diam, dia tidak berniat menyanggah perkataan sang Ayah. Hatinya delima, ia takut Adam membencinya dan ia takut ibunya juga membencinya lantaran karena tidak menurutinya.
"Huh, lihat Andra,"
"Kau ingin menghasutnya," ucap Adam. Dia menatap Andra yang menunduk. "Andra, Papa sangat menyayangi mu, Mama Binar tidak pernah meminta Ayah untuk tidak menyayangi mu, tapi Papa mohon, hargai mama Binar."
Andra tak mampu menegakkan wajahnya, ia takut pada dua orang yang sangat penting dan membuatnya serba salah.
"O iya, Andra mau ke Mall?" ajak Binar, dia ingin menghilangkan rasa ketakutan di hati Andra. Ia tahu anak tirinya itu sangat takut pada sang Ayah.
"Tidak boleh, Andra masih sakit," sarkas Ayu menatap tajam.
"Setelah Papa libur, kita bisa kesana."
"Andra harus fokus pada sekolahnya," ucap Ayu. Jangan sampai anaknya kalah pada Abra, Andra anak pertama dan harus memiliki hak kuasa pertama. "Andra kau harus sekolah yang rajin, buatlah papa bangga."
"Jangan terlalu memaksa," ucap Binar. Dia tidak mau Andra tertekan, di usinya yang masih 5 tahun harus menyeimbangi waktu bermain dan belajar.
"Tapi Andra adalah pewaris, dia harus bisa seperti Adam," ucap Ayu.
Seketika Adam tersedak, dia buru-buru meneguk segelas air di sampingnya dan langsung menatap Ayu.
"Benar kan Adam? Andra anak pertama dan sudah sepantasnya anak pertama yang mewarisi, kalau Abra yang mewarisi kekayaan mu, tidak adil kan untuk Andra," ucap Ayu.
Adam semakin mendekik tajam, ia berpikir kalau mantan kekasihnya menginginkan hartanya, entah kenapa dulu ia begitu mencintai Ayu setelah tahu sosok Ayu? ia beruntung bisa mendapatkan Binar walaupun harus menyakitinya lebih dulu.
__ADS_1
"Anak pertama adalah harta pertama."