5 Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian
Cekikan Adam


__ADS_3

"Apa yang kau mau lakukan pada Andra Ayu?" Adam memang mengawasi Ayu, ia takut Ayu marah dan benar saja. Dia memarahi Andra bahkan main tangan.


"Lepas! biar aku mendidik anak ku." Ayu meronta, tangannya mulai sakit. "Lepas Mas! ini sakit," imbuh Ayu memelas.


"Lebih sakit mana kamu di cekal atau di tampar?" tanya Binar sambil bersendekap di dadanya. "Sama dengan Andra, dia lebih sakit saat tamparan mu mengenai Andra. Untung saja suami ku cepat waktu menemukan mu."


Ayu menggertakkan kedua giginya, wanita inilah biang keladinya. Dia tidak bisa dekat dengan Adam karena benalu di depannya.


Ayu melangkah dan mendorong Binar, tentu saja wanita jatuh ke lantai. Sontak Adam dan Andra langsung meneriaki namanya.


"Mama!"


"Binar!"


Kedua pria itu langsung mendekatinya, Adam sangat ketakutan. Karena Dokter tadi sudah menyarankannya untuk menjaga kandungan Binar dengan baik.


Dada Adam bergetar, kalau sampai terjadi sesuatu. Dia sendiri yang akan memusnahkan Ayu.


"Aku tidak apa-apa Mas,"


"Mama jahat! kenapa Mama mendorong Mama Binar? bagaimana kalau adik Andra kenapa-napa?" Andra tergugu, ia sangat ketakutan. Harapannya untuk menjadi kakak takut terpupus.


"Apa?" Ayu menganga. "Jadi dia hamil,"


"Baguslah kalau dia kenapa-napa," ucap Ayu. Dia tidak lagi berpura-pura baik, dia akan melawan Binar sampai wanita itu menderita. Apa lagi mengetahui Binar hamil, ingin sekali dia melihat Binar kesakitan. Menyesalnya, tadi ia seharusnya mendorongnya lebih kuat lagi.

__ADS_1


"Mama!" teriak Andra.


Adam mengepalkan kedua tangannya, seketika tangan kekarnya langsung melayang di leher Ayu. Dia mencengkram dan mendorong tubuh Ayu kedinding.


Ayu, dia merasa nafasnya mulai berhenti. Dia memukul tangan Adam dengan kuat.


"Le-lapas ...."


"Mas, sadar Mas. Jangan membunuhnya." Binar berusaha memukul tangan Adam agar melepaskan Ayu. "Mas berhenti!"


"Pa .. Pa ... berhenti, Andra mohon." Andra menarik kemeja Adam sambil menangis.


"Ingat Mas, Andra, Abra, aku dan anak kita butuh kamu Mas, gimana kalau kamu membunuhnya dan berakhir di penjara."


Pria di depannya memang gila, bahkan mau membunuhnya.


"Mama, Mama tidak apa-apa?" tanya Andra.


Kemarahan Ayu tak bisa tertahankan. "Ini semua gara-gara kamu yang tidak becus," ucap Ayu langsung mendorong tubuh Andra ke lantai. Sedangkan Ayu malah pergi sebelum dia kembali di cekik oleh Adam.


"Sial! lihat saja nanti, aku akan membuat mu mati Binar," ucap Ayu dengan dendam membara.


"Sayang," lirih Adam melemah. Dia langsung memeluk Binar dan Binar pun mengelus punggungnya.


"Jangan membuat ku takut, sudah. Ayu akan mendapatkan ganjarannya."

__ADS_1


"Mas Andra ..."


Binar menatap Andra yang menangis di lantai, perlakuan tadi sukses membuatnya sakit hati.


Adam segera melepaskan pelukannya dan beralih pada putranya, ia pun langsung menggendong Andra ke ruang tengah.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Binar. Dia mengelus Andra yang menangis.


"Ayu benar-benar keterlaluan, aku ingin sekali membunuhnya."


"Ma, Ma," sapa Abra. Dia turun dari gendongan Hana. Kebingungan melihat kakaknya yang menangis di gendong sang Papa.


"Pa, pa Aba ingin endong,"


Binar beralih menggendong putranya. Di saat seperti ini, Andra lah yang butuh sosok seorang Papa.


"Sayang, kamu gendong Mama ya. Kakak Andra sakit, dia jatuh makanya nangis."


"Dia angis,"


Binar mengangguk dan tersenyum. Abra meminta mendekati Andra yang menangis dengan meronta. Binar pun mendekatkannya.


"Acak ..." Abra menepuk punggung Andra, bukannya di tepuk malah di pukul.


"Sayang, hem ... " Binar menjauhkan tubuh Abra dari Adam dan Andra. Dia membawa Abra ke tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2