
"Ini masih berapa hari, sebaiknya tunggu beberapa hari lagi sayang," ucap Binar. Sejak semalaman suaminya memutuskan untuk memeriksanya, ia takut pada akhirnya kecewa.
Adam tidak setuju, dia menggeleng dengan cepat, ia tidak mau ambil resiko. Apalagi Ayu menargetkan istri cantiknya.
"Sayang dengar, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."
Binar mengelus dada bidang Adam, dia telah selesai memasangkan dasi berwarna putih dengan garis miring berwarna navy. Di tatap wajah suaminya itu, ia pun menyerah, percuma saja dia merengek, ia malas. Tetapi ia takut jawabannya akan membuat Adam kecewa.
"Baiklah, aku harap kau tida akan kecewa kalau hasilnya negatif, apa sebaiknya aku menggunakan test pack?"
"Tidak-tidak, lebih enak ke Dokter saja,"
"Baiklah aku akan bersiap-siap dulu," ucap Binar, dia melangkah dengan lesu. Dia memang malas melakukan sesuatu.
Binar menatap bocah yang masih tertidur pulas itu, ia tidak tega untuk membangunkan Andra. Tetapi ia takut Andra akan kecewa lagi, dan menyangka kalau dirinya mengabaikannya.
Berkecambuk dengan pemikirannya, Binar akhirnya memilih untuk membangunkan Andra.
"Sayang bangun," ucap Binar. Dia menepuk-nepuk pipi Andra beberapa kali dengan pelan.
"Kenapa sayang?" taya Adam sambil berjalan ke arah ranjang.
__ADS_1
"Kita harus meminta ijin padanya, nanti aku takut dia salah paham." Binar kembali menepuk pelan pipi Andra, dan bocah itu pun langsung membuka kedua matanya.
Andra mengucek kedua matanya dan menguap. Binar yang gemas pun langsung mencium kening Andra.
"Maafkan tante sayang, tante bangunin Andra, sebenarnya tante mau ke rumah sakit, takut Andra cariin Papa, jadi tante terpaksa bangunin Andra."
Andra beringsut duduk. "Apa boleh Andra ikut?" tanyak Andra dengan polos.
"Baiklah."
***
Binar dan Adam melangkah sambil berjalan beriringan dan menggandengkan tangan. Di depannya ada Andra yang sangat senang karena di ajak keluar. Binar pun tampak tersenyum senang melihat Andra yang tertawa riang, baru kali ini Andra mau ia mandikan dengan bujukan agar tidak terlambat datang ke rumah sakit. karena Adam memang sudah mengatur waktu pertemuan dengan Dokter Mega.
"Baik Nya, tapi Nyonya sakit kah?" tanya Bi Lia.
"Tidak kok Bi, biasalah mau periksa," ucapnya dengan sekenanya saja.
"Doakan saja Bi, semoga hasilnya positif." Adam menimpali pembicaraan keduanya.
"Apa jadi ... "
__ADS_1
"Masih di periksa Bi, kita gak tahu positif apa gak," ucap Binar. Hatinya berdoa memang positiflah hasilnya. Dia ingin memberikan adik untuk Abra dan anak kedua untuk Adam.
"Amiin,saya berharap positif Nya,"
"Ya sudah, kami berangkat dulu. Aku titip Abra, Andra pasti sudah menunggu di dalam mobil," ucap Binar.
Bi Lia mengantarkan Adam dan Binar sampai keluar pintu, bahkan belum beranjak untuk pergi sampai melihat mobil hitam itu keluar dari pekarangan rumah.
***
Sesampainya di rumah sakit, Binar langsung di periksa oleh Dokter Mega. Perutnya di olesi gel, dalam satu kali tarikan nafas, Dokter mega menjelaskan secara rinci dan membuat Binar serta Adam tersenyum bahagia. Hingga Adam meneteskan air matanya, ia bahagia masih di berikan kepercayaan. Ingin sekali dia memeluk istrinya dan menghujani seribu ciuman.
"Selamat ya pak, tolong di jaga kondisi tubuh ibu Binar, jangan sampai stres dan kelelahan. Karena usia kandungannya masih rentan untuk keguguran." Nasihat Dokter Mega.
"Apa saja yang harus saya perhatikan Dok?" tanya Adam. Saat masih mengandung Abra, Adam tidak peduli, sehingga dia tidak tahu apa pun.
"Pak Adam cukup menjadi suami siaga, tolong di jaga makanannya ya pak." Dokter Mega beralih menatap Binar. "Apa ibu tidak mengalami mual atau semacam sensitif pada bau."
"Tidak Dok, aku hanya mudah mengantuk saja akhir-akhir ini."
"Sudah biasa seperti itu Bu," ucap Dokter Mega. Dia merasa bersyukur Binar di temani suaminya, karena saat kehamilan anak pertama, Binar tidak pernah di temani oleh suaminya.
__ADS_1
Setelah di periksa, Binar di berikan obat vitamin, dan keduanya pun keluar dari ruangan Dokter Mega. Di sebuah kursi tunggu keduanya melihat Andra yang duduk dengan anteng.
"Apa kita harus mengatakannya?" tanya Binar. Ia takut membuat Andra kecewa.