
[Terdeteksi bahwa penilaian sekte dalam Sekte Gunung Perak akan segera dimulai. Kamu memiliki pilihan sebagai berikut.]
[1] Raih kemenangan dengan profil tinggi, dapatkan tempat pertama di penilaian sekte dalam kali ini dan menjadi terkenal diseluruh sekte. Kamu bisa mendapatkan 1000 batu roh tingkat tinggi.
[2] Tetap low profil, dapatkan tempat ketiga pada penilaian sekte dalam kali ini. Kamu bisa mendapatkan Harta Karun Nominous.]
'Harta karun Nominous?' Mata Jin Dan langsung berbinar cerah.
Dia telah mendengar sebelumnya kalau harta numinous lebih kuat dari harta biasa.
“Setiap kali sistem memberiku pilihan, pasti akan selalu ada pilihan untuk tetap low profil. Ini mungkin terkait dengan pilihan aku buat ketika memulai kehidupan kultivasiku. ” Jin Dan berpikir dalam hati.
Ketika dia baru memulai Kehidupan kultivasinya, Sistem memberinya pilihan untuk menjadi jenius yang luar biasa atau berkultivasi secara diam-diam. Pada saat itu dia memilih untuk berkultivasi secara diam-diam dan sistem lalu memberikannya kemampuan untuk menyembunyikan kultivasinya.
'Aku suka yang seperti ini! Menjadi domba untuk memangsa serigala!
'Tetap low profile sampai aku menjadi tak terkalahkan!' Jin Dan berpikir dengan gembira sambil membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Dia membayangkan kalau dia akan menjadi seorang master rahasia dari Sekte Gunung Perak yang ditakuti seluruh dunia, yang identitasnya tidak pernah diketahui oleh orang lain.
Saat ini Jin Dan tidak bisa memilih opsi kedua secara langsung. Dia harus menunggu sampai akhir penilaian.
Dengan embira, dia mempercepat lajunya menuju Puncak Hukuman Langit.
…
~Di Puncak Hukuman Langit.~
Lusinan murid berkerumun disekitar arena pertarungan. Yang Mo dan Yang Lin juga datang.
Saat mereka menyaksikan pertarungan di atas panggung, Yang Mo dan Yang Lin dibuat bingung dengan apa yang mereka saksikan.
Mereka melihat Jin Dan yang tampaknya sedang kewalahan menghadapi lawannya. Sebagian besar waktu, dia hanya bertahan dan menghindar, jelas terlihat dalam posisi yang kurang menguntungkan.
Berbeda darinya, lawannya dari Puncak Hukuman Langit terlihat sangat bersemangat.
Untuk bertemu orang lemah seperti ini di babak pertama, aku terlalu beruntung!" Murid Puncak Hukuman Langit diam-diam berpikir dalam hati.
Dia mengerahkan energi spiritualnya dengan santai dan bahkan mempertahankan postur yang gagah selama pertempuran.
Jin Dan saat ini sangat menderita.
Sungguh melelahkan berpura-pura lemah seperti ini. Dasar sialan kau sistem!
Dia menggunakan Teknik Langkah Bayangannya untuk terus menghindar, tapi dia masih harus mencoba yang terbaik untuk terlihat sangat lemah.
Dia berpura-pura mengertakkan giginya dan bertahan.
Saat mereka berdua bertarung lebih lama dan lebih lama lagi, para murid yang menonton merasa bosan dan pergi satu demi satu.
Yang Mo dan Yang Lin masih menonton pertempuran.
"Dia tidak mungkin selemah ini bukan?" Yang Lin tidak bisa tidak bertanya kepada saudaranya.
Yamg Mo kemudian berkata dengan tenang, "Dia melakukannya dengan sengaja."
Saat ini…Jin Dan tiba-tiba menggunakan Teknik Jari Pedang Ilahi yang Tak Tertandingi. Segera qi berkumpul di jarinya dan pedang Qi langsung melesat dan menembus bahu lawannya. Setelah itu dia langsung melesat ke depan dan menendang lawannya sampai terlempar keluar arena pertarungan.
Sudah berakhir!
Tiga tetua yang memimpin pertarungan langsung dibuat tercengang. Mereka tidak berharap pertarungan itu berakhir begitu tiba-tiba.
Jin Dan kemudian menangkupkan tinjunya dan berkata, "Terima kasih!"
Dia kemudian berjalan menuju tiga tetua di bawah mimbar dan mencatat kemenangannya.
Duo Yang segera maju ke depan menghampirinya.
"Saudara Jin, mengapa kamu tidak menang secara langsung saja?" Yang Mo bertanya.
__ADS_1
Menurut pendapatnya, Jin Dan adalah murid paling berbakat dari Sekte Gunung Perak.
Namun, Jin Dan tetap low profil, dan tidak ada yang percaya bakatnya.
Jin Dan kemudian menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Entahlah, Aku hanya ingin berlama-lama"
Dia kemudian mengubah topik. "Bagaimana kabarmu baru-baru ini, Nona Yang?"
Mendengar pertanyaan Jin Dan, Yang Lin langsung berbicara seolah-olah sedang menahan marahnya.
“Jika aku tahu lebih awal, aku pasti akan mendengarkanmu Saudara Jin. Aku pergi ke guanya Di Chun itu tapi pada akhirnya, aku malah menjadi sasaran para kultivator jahat dan sesama murid. Akhirnya, aku terpaksa melompat dari tebing. Beruntung seorang penatua datang dan membantuku. ”
Jin Dan kemudian bertanya, "Siapa penatua ini?"
“Aku juga tidak tahu. Dia pergi setelah menyelamatkanku. Mungkin dia adalah seorang ahli dari sekte kita.”
"Oh."
Setelah itu percakapan mereka berakhir.
Jin Dan kemudian mengucapkan selamat tinggal pada Duo Yang dan pergi dengan cepat.
Yang Lin yang melihat sosoknya pergi dengan cepat segera berkata dengan murung kepada Yang Mo, “Saudaraku, mengapa aku merasa kalau dia sedang menghindariku? Kita bahkan baru berbicara sebentar saja dan dia langsung pergi.”
Yang Mo kemudian tersenyum dan berkata, “Kau membuatnya terlalu jelas. Saudara Jin adalah seorang pertapa. Dia tidak ingin kultivasinya terpengaruh oleh cinta.”
"Apa yang tersisa untuk hidup jika dia selalu berkultivasi seperti itu?"
“Setiap orang mengejar hal yang berbeda. Dia mengejar keabadian dan Dao Besar.”
"Aku pikir kalian berdua adalah tipe orang yang sama."
"Aku bukan tandingannya."
…
Dia hanya menggunakan Teknik Langkah Bayangan dalam pertandingan beberapa waktu yang lalu, jadi dia hampir tidak lelah.
Pada hari-hari berikutnya, pola yang sama terjadi kembali terjadi.
Setiap kali bertarung, Jin Dan hanya akan mengalahkan lawannya setelah semua penonton pergi. Lawan yang kalah akan terlalu malu untuk menyebutkan kekalahannya. Oleh karena itu, Jin Dan terus maju ke babak selanjutnya tanpa ada yang memperhatikan.
Berbeda darinya, An Jing si Reinkarnasi Kultivator Mahayana sudah menjadi kuda hitam di penilaian kali ini. Dia terus menang sampai dia mencapai sepuluh besar.
Seluruh sekte dalam sedang mendiskusikannya.
Banyak yang bilang kalau dia akan menantang murid pertama puncak pertama hanya untuk seorang gadis. Tapi tidak ada orang yang berpikir kalau dia akan bisa berbuat banyak mengingat tingkat kultivasinya yang masih rendah.
Murid Pertama Puncak Pedang tidak berpartisipasi dalam penilaian, tetapi dia telah mengumumkan bahwa jika An Jing berhasil masuk tiga besar, dia akan menerima tantangannya.
Hal ini menyebabkan kegemparan di sekte dalam, tapi Jin Dan sama sekali tidak tertarik. Dia telah membaca terlalu banyak plot seperti itu dalam novel.
Malam itu.
Jin Dan sedang mengolah Segel Pengusir Iblis Sembilan Naga di gua tempat tinggalnya
Dia sama sekali tidak menggunakan gerakan ini dalam pertarungannya, karena menurutnya itu tidak perlu mengingat lawan-lawannya yang sangat lemah dihadapannya. Tapi saat dia berlatih selama beberapa hari terakhir, dia sudah bisa menggunakan Segel Pengusir Iblis Sembilan Naga dengan cukup baik sekarang.
Jin Dan bisa mengucapkan mantra ini dalam hitungan detik.
Kebanyakan mantra membutuhkan segel tangan untuk mengaktifkannya. Mereka tidak seperti teknik fisik murni yang tidak memiliki jeda dalam penggunaannya.
Tetapi dengan lebih latihan yang terus menerus dia pasti akan bisa merapalkan mantra itu secara instan.
Tiba-Tiba saja.
Whoosh~~
Suara angin datang dari luar gua tempat tinggalnya. Pada awalnya, Jin Dan tidak peduli, tapi lama kelamaan, dia mulai merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Dia dengan cepat berhenti berkultivasi dan langsung mengamati sekeliling dengan dengan menggunakan indra ilahinya.
Tidak ada seorang pun di ruang terbuka di luar gua, juga tidak ada satupun binatang ataupun burung yang berterbangan.
Di bawah terangnya bulan sabit, Puncak Gunung Sunyi sebenarnya terlihat sangat menyeramkan.
"Apa yang sedang terjadi?" Jin Dan mengerutkan kening waspada.
'Pepohonan di luar tidak bergerak, yang berarti tidak ada angin. Tapi kenapa aku masih bisa mendengar suara angin?
Apakah aku sedang dihantui?'
Jin Dan tiba-tiba merasakan hawa dingin menjalar di sekitar punggungnya.
Setelah dilahirkan kembali selama beberapa dekade, ini adalah pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti itu.
Tetapi jika dunia ini memiliki iblis dan kultivator, hantu mungkin juga ada!
Dengan gugup Jin Dan menahan napasnya,
"Jika itu benar-benar hantu, seberapa kuat jika bahkan Peri Qin Rou bahkan tidak menemukannya?
"Hantu oh hantu tolonglah engkau pergi… Hantu oh hantu tolonglah engkau pergi…Lengser wengi....keju joget...ibu banteng...oh pergilah..." Jin Dan langsung menyanyikan lagu penolak bala dari kampung halamannya.
Saat ini…
Tiba-tiba, dia melihat gumpalan aura hitam terbang ke dalam gua melalui celah di pintu batu.
Apa-apaan! Itu benar-benar hantu!'
Tanpa sepatah kata pun, Jin Dan langsung mengangkat tangannya dan segera mengeksekusi Segel Pengusir Iblis Sembilan Naga.
Segel giok emas langsung melesat ke arah aura hitam. Segel giok emas ini disematkan dengan sembilan naga, mendominasi dan ilahi. segel Itu langsung mebuat aura hitam menyebar dan menghilang ke udara tipis.
Saat Jin Dan mengerutkan keningnya seolah-olah sedang berpikir keras.
Dia merasakan kekuatan tolak yang kuat dari aura hitam itu!
Berbicara secara logis, Segel Pengusir Iblis Sembilan Naga seharusnya terus menabrak ke depan dan merobohkan pintu batu.
Dia kemudian memfokuskan pandangannya dan melihat bahwa aura hitam yang tadinya tersebar segera mengembun lagi.
Jin Dan dengan cepat mengeksekusi Segel Pengusir Iblis Sembilan Naga kembali.
Boom!
Tidak cukup. Lagi!
Boom! Boom!
Jin Dan berdiri di depan aura hitam sambil terus menyerang dengan telapak tangannya, lagi dan lagi, menciptakan lubang besar di tanah guanya.
"Tunggu! Berhenti! Berhenti! Berhenti!" Segera sebuah ratapan terdengar ditelinganya.
Jin Dan segera menghentikan serangannya dan menatap aura hitam itu.
“Aku adalah Penatua Agung dari Sekte Gunung Perak. Beraninya seorang murid sepertimu tidak menghormatiku!” Aura hitam meraung marah, membuat Jin Dan tercengang.
Penatua Agung?
Aura hitam dengan cepat mengembun menjadi bentuk manusia. Bentuknya sangat pendek, hanya setengah meter.
Orang ini kurus kering dan mengenakan jubah putih besar. Dengan kepalanya yang penuh uban, dia menatapnya dengan marah.
Jin Dan berkata tanpa daya, "Tuan, apa yang anda coba lakukan dengan menyelinap ke gua tempat tinggal saya di tengah malam?"
Penatua Agung itu langsung berkata dengan marah, “Aku hanya sedang mengolah seni dewa. Roh Primordialku terbang meninggalkan tubuhku. Tadi ketika aku mendengar suara yang datang dari gua tempat tinggalmu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak penasaran. ”
Meskipun dia sedang marah dia tidak bisa menahan perasaan terkejut di dalam hatinya.
Mantra macam apa itu?!
Dia hampir saja membunuhku!
__ADS_1
Energi spirtual anak ini terasa seperti Tingkat 5 Alam Inti Emas!
Apa sekte dalam Sekte Gunung Perak sudah begitu luar biasa sekarang?