
'Penatua rahasia dari Sekte Banteng Merah?' Jin Dan mengangkat alisnya terkejut.
Orang ini bersembunyi dengan sangat baik!
Tidak heran dari sekian banyak penatua yang memiliki kesan baik terhadapnya setelah pertempurannya melawan Mo Fucuho tempo hari, hanya Taois Petir Tua yang tidak memiliki kesan apapun terhadapnya.
Ternyata itu karena dia mata-mata!
'Apa yang harus saya lakukan? Haruskah aku membunuhnya atau haruskah aku menemukan bukti terlebih dulu?' Jin Dan menggaruk dagunya dan ragu-ragu.
Dia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk pergi ke Puncak Gunung Sunyi dan menemui Peri Qin Rou.
Peri Qin Rou dapat dipercaya karena hubungan antarpribadi sama sekali tidak menunjukkan kalau dia adalah mata-mata.
Sesampainya di depan Aula Gunung Sunyi, pintu aula segera terbuka dan Jin Dan dengan cepat masuk kedalamnya.
Kali ini dia tidak berlutut seperti biasanya. Sebagai gantinya, dia menangkupkan tangannya dan membungkuk.
"Master, saya menemukan seorang penatua yang bekerja untuk Sekte Banteng Merah. Apa yang harus saya lakukan? Bunuh dia atau cari bukti dulu?" Tanya Jin Dan.
Peri Qin Rou segera membuka matanya dan bertanya dengan lembut, "Siapa itu?"
"Taois Petir Tua dari Puncak Guntur Surgawi."
"Bunuh."
"Eh..." Jin Dan langsung tercengang ketika mendengar perkataan Peri Qin Rou saat ini benar-benar berbeda dari percakapan yang ada dalam pikirannya.
Apakah master memiliki dendam kepadanya ya...?
Melihat Jin Dan yang sedang bingung, Peri Qin Rou segera mendengus dan melanjutkan. "Kamu tidak perlu bingung Jin Dan, sejak dulu aku memang selalu merasa kalau ada yang salah dengannya. Jika kamu berkata begitu, maka itu mungkin benar."
Mendengar penjelasan Peri Qin Rou, Jin Dan segera mengangguk paham dan memohon izin untuk pergi. Peri Qin Rou berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk mengikutinya.
Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Puncak Gunung Sunyi dan segera terbang menuju Puncak Guntur Surgawi.
Jin Dan dan Peri Qin Rou dengan cepat tiba di Aula Guntur Surgawi.
"Senior, aku di sini untuk mengunjungimu." Peri Qin Rou berbicara dengan lantang.
Setelah itu, pintu aula segera terbuka. Mereka berdua langsung bergegas masuk.
Melihat Jin Dan yang juga ikut datang, Taois Petir Tua tidak bisa menahan rasa terkejut dan dengan cepat berdiri.
"Ada apa gerangan dua penatua mengunjungiku..." Taois Petir Tua berkata sambil tersenyum. Namun, sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan pedang melintas di aula dan dengan cepat menuju kearahnya.
Bayangan pedang itu langsung menembus dada Taois Petir Tua dan menerbangkannya ke dinding aula.
Jin Dan mampu membunuh seorang kultivator Alam Formasi Jiwa ketika dia berada di Tingkat 1 Alam Jiwa Baru Lahir. Sekarang dia sudah berada di Tingkat 5, berurusan dengan Taois Petir Tua semudah membalikkan telapak tangannya
"Sangat cepat!" Peri Qin Rou diam-diam terkejut, dia bahkan tidak melihat bagaimana Jin Dan menyerang.
Taois Petir Tua bahkan lebih terkejut. Dia ingin memberontak, tetapi dia segera menyadari kalau Pedang Qi Jin Dan telah meresap ke dalam tubuhnya dan dengan cepat melahap energi spirituallnya.
Taois Petir Tua lalu berteriak dengan nada ketakutan, "Penatua Jin! Apa yang kamu lakukan?"
Jin Dan segera menjawab tanpa ekspresi, "Kamu pasti penatua rahasia dari Sekte Banteng Merah bukan? Ketika Master Sekte pergi, dia memintaku untuk melindungi sekte ini. Baru-baru ini, banyak murid berbakat dari sekte ini telah ditangkap oleh Sekte Banteng Merah. Kamu pasti kan yang telah memberikan informasi tentang mereka kan? Jadi aku akan membunuhmu sekarang."
Dia segera berjalan kearah Taois Petir Tua dengan santai.
__ADS_1
[Taois Petir Tua telah mengembangkan kebencian terhadapmu. Kebencian Saat Ini: 5 bintang]
Taois Petir Tua segera menggunakan teknik pamungkasnya dan segera berubah menjadi siluet petir yang dengan cepat melarikan diri kearah pintu aula.
Melihat Taois Petir Tua yang akan melarikan diri, Jin Dan dengan santai mengangkat tangan kanannya, segera saja siluet petir melesat keluar dari telapak tangannya dan langsung ditembakkan kearah Taois Petir Tua.
"Mantra Badai Petir!"
Baut petir yang tak terhitung jumlahnya langsung terjalin di seluruh aula dan langsung menghancurkan botol giok, lukisan, dan ornamen lainnya.
Boom!
Aula Guntur Surgawi langsung jatuh dalam kehancuran. Taois Petir Tua dengan cepat muncul kembali dari udara tipis dan jatuh ke tanah, muntah darah.
Saat dia hendak berdiri, tiga bayangan pedang segera turun dari langit dan langsung menghancurkan tubuhnya. Jiwanya Baru Lahirnya ingin melarikan diri, tetapi itu langsung dihancurkan oleh Segel Pengusir Iblis Sembilan Naga.
Taois Petir Tua sudah mati!
Setelah itu, Jin Dan dengan cepat berbalik dan menatap kearah Peri Qin Rou sebelum berkata, "Master, saya akan menyerahkan sisanya kepada anda master."
Jin Dan dengan cepat pergi setelah mengatakan itu.
Tidak lama setelah dia pergi, Para murid dari Puncak Guntur Surgawi segera berkumpul disekitaran aula ketika mereka mendengar keributan yang datang dari aula utama. Yang Mo dan Yang Lin juga ada di sana.
Mereka tidak bisa menahan rasa tercengang ketika mereka melihat puing-puing Aula Guntur Surgawi yang bertebaran ditanah.
Peri Qin Rou segera berkata untuk menenangkan para murid, "Penatua Pembunuh Dewa dan aku telah menemukan sebuah fakta kalau master kalian, Taois Petir Tua adalah mata-mata dari Sekte Banteng Merah. Penatua Pembunuh Dewa baru saja mengeksekusinya. Beritahu saudara-saudari kalian untuk terus berkultivasi tanpa khawatir. Nanti seorang penatua pengajar baru akan menjadi segera ditunjuk setelah Master Sekte kembali. Cobalah yang terbaik untuk tidak keluar dari sekte, agar kalian tidak menjadi sasaran Sekte Banteng Merah."
Para murid Puncak Guntur Surgawi belum bisa pulih dari keterkejutan mereka untuk sekian lama.
"Bagaimana mungkin! Master adalah mata-mata?"
"Tapi Master telah melayani sekte dengan baik selama bertahun-tahun. Bahkan jika dia memang tersangka, kita harus menunggu Master Sekte kembali!"
"Master sudah mati ..."
"Aku memperhatikan mereka ketika mereka naik gunung tadi. Baru sepuluh napas dan master sudah terbunuh begitu saja ..."
…
"Taois Petir Tua dari Puncak Surgawi telah dibunuh oleh Penatua Pembunuh Dewa!"
Berita itu seperti bom berat yang dijatuhkan ke sekte dalam, menyebabkan para murid dari delapan belas puncak menjadi gempar.
'Apakah Taois Petir Tua benar-benar mata-mata?' Para penatua dari delapan belas puncak dengan cepat berkumpul di Aula Puncak Utama. Pertemuan itu dipimpin oleh Taois Xusin.
Peri Qin Rou melambaikan tangan kanannya dan sebuah surat segera muncul di telapak tangannya.
Dia kemudian berkata dengan nada dingin, "Aku menemukan surat ini di cincin penyimpanan Taois Petir Tua. Ini adalah surat yang diberikan kepadanya oleh utusan Sekte Banteng Merah. Taois Petir Tua dimintai untuk mengumpulkan informasi tentang murid-murid berbakat dari sekte kita. Selain ini, didalam cincinnya juga ada beberapa surat lain dari Sekte Banteng Merah dan beberapa peralatan untuk kultivator jahat."
Dia kemudian menyerahkan surat itu kepada para penatua lainnya.
Setelah membacanya, para penatua segera merasa marah dan terkejut. Mereka langsung mengutuk Taois Petir Tua didalam hati terdalam mereka.
__ADS_1
....
Pada waktu bersamaan.
Jin Dan terus mencari kemungkinan adanya mata-mata menggunakan fungsi Percobaan Simulasi di gua tempat tinggalnya.
Selain Taois Petir Tua, para penatua lainnya dari delapan belas puncak tidak bersalah.
Tapi itu normal. Jika banyak mata-mata yang ditempatkan di antara para penatua, Sekte Gunung Perak pasti sudah lama hancur.
Setelah memeriksa seluruh penatua, Jin Dan kemudian mengalihkan pandangannya kearah para tetua.
Terdapat banyak sekali mata-mata di antara para tetua.
Terlepas dari mata-mata Sekte Banteng Merah, terdapat banyak mata-mata dari semua jenis sekte ortodoks ataupun sekte jalan iblis. Bahkan ada beberapa dari keluarga kultivasi.
Jin Dan langsung terperangah ketika melihat banyak sekali mata-mata yang berada di Sekte Gunung Perak.
'Apakah semua sekte di dunia kultivasi seperti ini? Atau kita hanya kurang beruntung karena menjadi terlalu terkenal?' Jin Dan menggelengkan kepalanya.
Jin Dan memilih untuk tidak terlalu memikirkannya, karena bagaimanapun juga, ada terlalu banyak mata-mata yang ada di sekte dan itu pasti akan menghabiskan terlalu banyak waktunya hanya untuk berurusan dengan mereka. Lagipula mereka juga tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk menyakiti sekte.
Jin Dan kemudian memutuskan untuk kembali berkultivasi.
Setelah itu setiap setengah tahun, dia akan menggunakan fungsi Percobaan Simulasi untuk mendeteksi orang terkuat di Sekte Gunung Perak, dia melakukan ini untuk mencegah kemungkinan kalau Sekte Banteng Merah tiba-tiba melancarkan serangan.
....
Dua tahun kemudian sebuah pemberitahuan tiba-tiba muncul di depan matanya saat dia sedang berkultivasi.
[Mendeteksi Anak Takdir, silahkan periksa asalnya.]
'Anak takdir lagi?' Jin Dan dengan cepat segera memeriksanya.
Sederet kata kemudian muncul di depannya:
[Ayam Hitam: Reinkarnasi Saint Iblis dari Dunia Atas. Bentuk aslinya adalah Phoenix Neraka Hitam. Karena dia membunuh terlalu banyak orang, dia menyinggung Pengadilan Surgawi dan dieksekusi. Jiwanya lalu menyelinap kedalam enam jalan reinkarnasi dan terlahir kembali di dunia fana. Jiwanya akan terus memodifikasi tubuh fisiknya sampai akhirnya berubah kembali menjadi Phoenix Neraka Hitam. Sekarang dia hanyalah seekor anak ayam yang bodoh.]
Jin Dan tidak bisa menahan rasa terkejutnya dan segera berseru. "Saint Iblis dari Dunia Atas? Ayam ini ternyata memiliki latar belakang yang sangat mengagumkan!"
Jin Dan yang penasaran segera memeriksanya dengan indra ilahinya.
Di kaki gunung, seorang pengembala tua sedang memimpin kawanan sapinya melewati pegunungan. Di punggung masing-masing sapi terdapat dua kandang kayu yang berisikan anak ayam yang lucu-lucu. Indra ilahi Jin Dan dengan cepat mendarat di salah satu anak ayam hitam, bulu ayam hitam ini berkilau dan memiliki nuansa metalik.
Di antara sekelompok anak ayam, hanya ayam hitam kecil ini yang memiliki fluktuasi energi spiritual yang samar ditubuhnya.
"Hahaha! Bagaimana mungkin aku bisa melewatkan kesempatan untuk memelihara seekor binatang ilahi?" Jin Dan tidak bisa menahan rasa bersemangatnya dan segera turun gunung.
Dia kemudian segera mendekati pengembala tua itu dan langsung menyatakan niatnya untuk meminta anak ayam hitam tersebut.
Pengembala tua itu tidak berani menolak karena dia tahu kalau Jin Dan adalah seorang kultivator maha kuasa yang tidak boleh dia singgung, jadi dia segera saja memberikan anak ayam itu kepadanya.
Jin Dan segera menerima Ayam Hitam tersebut dan langsung kembali ke gua tempat tinggalnya dengan suasana hati yang baik.
__ADS_1