
Mela yang mendengarnya hanya bisa menundukkan kepala karena dia tidak akan bisa bertemu dengan seseorang yang membuat hatinya berdebar jika pergi menjauh karena dia tidak mau ada jarak yang memisahkan.
"Itu bagus kak, Mela akan temani kak hanif apalagi aku juga akan bertemu dengan Anna disana" jawab Mela dengan semangat.
"Tuch dengar sendirikan, Mela akan menemanimu, tidak ada alasan lagi untuk menundanya, karena ini semua untuk dirimu sendiri, hanif," ucap dokter Edwin.
Saat keluar ruangan, hanif tidak bertingkah laku dingin, mela mendorong kursi rodanya dengan senyum.
" Alhamdulilah ya kak, dokter bilang kaka akan sembuh, dan nanti di bali akan mendapatkan terapi yang baik, alhamdulillah, "ucap syukur Mela.
Hanif tidak berhenti mendengar ucap syukurnya yang tiada henti.
****
Anna mencoba menelpon Randy karena sudah 40 kali panggilan saat hadphone Anna hilang.
Randy: " iya!"ucapnya dengan nada dingin.
Anna: "mas, maaf aku tidak bisa angkat telponnya karena handphone ku hilang, dan ini....."Anna mencoba menjelaskan keadaan yang di alaminya kepada Randy.
Randy: "Anna, apa kamu sudah transfer! Aku butuh uang itu, secepatnya! " tanpa mendengar sedikitpun penjelasan Anna, Randy menutup telpon.
Kata-kata Randy membuat hatinya hancur, dia memegang hadphone itu dengan erat seakan ingin membantingnya, tapi dia tak sanggup untuk melupakan Randy dan tak ada niat untuk membencinya.
Anna duduk dengan memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya dalam kesedihan yang tiada arti.
Elang berdiri dihadapan Anna dan melihat keadaannya yang seperti ini. "Kemana kita akan jalan?"sapa Elang.
Anna yang mendengar suara Elang, mencoba mengangkat kepala dan tidak bisa menyembunyikan air mata yang sudah terlanjur jatuh di pipi nya.
Dengan senyum, elang mencoba mengulurkan tangannya, meraih kesedihannya dan ingin menggantikan dengan kebahagiaan.
"Yukk, takut nanti induk singa mangaum, " Kata Elang yang mempunyi kata kiasan untuk ibunya
Anna yang mendengar membuatnya tertawa, sekilas kesedihannya memudar karena kehadiran seorang pria yang ada di hadapannya sekarang.
Mata dan hati Anna masih tertutup pada cinta yang tidak pasti.
Mobil sporty berwarna putih dengan laju kecepatan 100km, menyusuri jalan ubud yang terbentang hijau.
"Bagaimana kalau kita ke pantai? Sayang jika ke Bali tidak ke pantai," tanya elang dengan menoleh ke arah anna.
"Hemmm ide bagus, "pungkas Anna
Membuka sedikit jendela mobil untuk menikmati angin yang berhembus, mengibas pashmina biru yang melambai terbentang seperti langit dunia.
Elang memberanikan diri untuk barkata "kita belum berkenalan baik-baik, kita akan menjadi teman, atau saudara mungkin, " tanya Elang.
Anna tersenyum kecil mendengar perkataannya "kita akan menjadi teman, karena aku sudah punya saudara, " ucap Anna dengan senyum.
"Hahaha, iya benar" Ingin rasanya Elang bilang jika aku menjadi pacarmu bagaimana? Tapi hati Anna belum bisa terbuka untuk siapapun.
"Tapi kita sudah berkenalan di rooftop cafe waktu itu, " lanjut Anna.
__ADS_1
Elang yang mendengar tersenyum bahagia. Di dalam hati Elang "ternyata dia tidak melupakan kejadian waktu itu, " gumam hati Elang dengan lega.
"Elang bolehkah aku meminta tolong? " tanya Anna sedikit gugup yang ingin menagih hutang janji Elang untuk mengantarkannya bertemu Randy.
"Yup, apa itu. Jika aku bisa pasti aku tolong?" jawab elang, saat memutar setir melewati tikungan jalan tol yang membuat badan Anna kehilangan keseimbangan sehingga sedikit miring dan menyentuh bahu bidang elang, membuat pipi merahnya merona. Hal itu yang membuat hati elang jatuh cinta saat pertama kali melihatya.
"Astaghfirullah" ucap anna yang malu dengan menutup kedua pipi.
Elang menoleh ke arah Anna, melayangkan senyum yang melihat Anna tersipu malu.
Percakapan yang terhenti sesaat itu. Terdengar suara helaan nafas dari mulut anna yang bersender di jendela pintu mobil.
"Ada apa? Apa ada masalah, bukannya aku ingin tahu. Tapi aku melihatmu tadi di hotel... Maaf, " ucap elang memulai percakapan lagi.
"Tidak apa. yang bertemu saya pasti bertanya kenapa aku menangis? Tidak ada yang bisa aku tutupi untuk saat ini, " penjelasan Anna yang juga ingin punya teman mengobrol. Ingin melepaskan hal-hal yang membuat dadanya sedikit sesak.
"Apa karena pacarmu yang kau cerita waktu itu?"pungkas elang yang penasaran.
Anna berhenti sesaat dan menarik nafas panjang agar dadanya bisa kembali bernafas.
"Maaf. Jika kata-kata ku membuka luka di hati, " lanjut elang dengan perasaan bersalah.
"Tidak ada luka sama sekali. Hanya aku masih yakin dan percaya akan dirinya, "ucap Anna dengan bersungguh-sungguh, seolah-olah ada yang di tutupi nya.
"Apa yang membuatmu yakin dengan pria itu. Maksudku, tentang pacarmu?" lanjut pertanyaan elang yang penasaran
"Apa kamu tahu, kenapa aku menyukainya? Karena dia adalah pria pertama kali yang menyukaiku di saat semua melirik ku dengan aneh, " jawab Anna dengan tersenyum kecil.
"Hahahaa.. Tidak seperti itu, logika ku masih berjalan elang, tidak mungkin aku melakukan hal yang memalukan, hahaha,"pungkas Anna dengan bercanda.
"Terus....?"Elang menyeritkan dahi karena pikirannya yang bertanya-tanya apa maksud Anna.
" Aku dulu gadis yang berwajah jelek, aku sering di bully karena kejelekan ku ini". Anna sedikit bercerita tentang kehidupannya yang dulu.
"Aku lihat kamu tidak jelek, muka yang glowing dan bedak yang tebal tidak membuatmu terlihat jelek,"canda elang dengan melayangkan senyum manisnya yang memperlihatkan lesung pipit di pipi.
"Hahaha.. Terus aja meledeknya". Kesedihan Anna yang sedikit memudar, karena elang yang membuat dia melupakan semuanya.
Tawa bahagia yang terdengar dari suara Anna membuat elang menyukai dia yang bahagia daripada melihat kesedihannya.
"Tidak ada yang salah dalam mencintai An, Cinta tidak salah. Yang salah adalah diri kita sendiri. Mungkin kita terlalu mencintai seseorang atau sesuatu sehingga kita lupa untuk siapa cinta yang sebenarnya, "kata bijak yang terlontar dari mulut manis elang.
Anna yang mendengar kata bijak elang, membuatnya melirik wajah pria itu. Wajah tegas dengan lesung pipit di pipi kanannya. Membuat dia tersadar bahwa ada pria tampan di sebelahnya.
"Kenapa, apa ada yang salah dengan wajahku? Atau aku terlalu tampan, " canda elang di saat Anna diam terpaku melirik dirinya.
Anna tertawa kecil mendengar omongannya yang terlalu memuji diri sendiri.
****
Keindahan pantai Lembeng membuat mata Anna terhipnotis. Pantai yang masih asri dengan pasir pantai yang berwarna hitam dengan ombak yang sedang.
__ADS_1
Air kelapa hijau yang di minum Anna tidak hanya membasahi tenggorokan nya yang kering tetapi juga membasahi hatinya yang tandus layaknya seperti gurun pasir yang sudah lama tidak tersiram air hujan.
Elang yang berganti baju surfing dengan papan selancar menerjang ombak biru yang menggapai langit. Terlihat dada yang bidang dengan otot-otot perut yang Sixpack.
Sempat-sempatnya elang memandang Anna yang duduk diam termanggu memandang birunya laut dan sinar surya yang hampir terbenam.
"Memang ini cewek susah banget ditaklukkannya. Badan sixpack dan keren saat menerjang ombak gini gak di lihat, parah banget kamu elang. Kurang apa kamu?" gumam hati yang tidak terima, karena Anna tidak sedikitpun memandang ke arahnya.
Dengan mengangkat papan selanjar, kaki elang menapak lembutnya pasir pantai yang berlari kecil menuju ke arahnya.
"Hai, air kelapa yang segar, " Sapa elang yang ingin memamerkan ketampanannya pada Anna.
Anna yang memalingkan muka hanya membalas sapanya dengan cuek "iya. memang segar, "ucap Anna singkat.
Elang berusaha untuk duduk di sampingnya.
Terdengar suara mode getar dalam handphone Anna. Terlihat di layar utama ada nomer yang tidak terdaftar di kontak.
Anna: "hallo assalamualaikum, ini siapa ya, " sapa Anna yang penasaran.
Mela: "waalaikumsalam.annnaaaa... Ini aku mela. Sekarang kamu dimana?"jawab mela di balik telpon.
Anna: "Melaaaaa, ya Allah aku kangen sahabatku" teriak Anna.
Teriakan yang membuat kaget elang "dasar, kalau cewek-cewek ketemu pasti teriak, meskipun hanya di handphone, "gumam elang yang berlalu untuk mengganti pakaian nya.
Mela: "aku sekarang lagi di ubud An. Di hotel yang sama dengan kamu menginap. Aku bersama kak hanif disini, " lanjut mela dengan sedikit melirik hanif di depan meja resepsionis.
Anna: "kak hanif, " jawab Anna heran "ada apa dengan kak hanif mel, apa dia baik-baik saja?"tanya Anna selanjutnya.
Mela: "Tenang An, kak hanif hanya terapi disini dengan dokter Zain, cepatlah kesini kami menunggu, aku kan kangen, " jawab mela yang ingin segera bertemu Anna.
Anna: "iya, aku juga kangen"ucapnya dengan menutup panggilan telpon
Waktu berganti, saat setelah menutup percakapan, Anna yang memandang jauh mencari-cari keberadaan elang yang entah kemana dia pergi.
Berjalan menyusuri pantai, memandang ke segala arah.
"Elang!... Elang!... Elang! " Anna yang berteriak memanggil namanya tapi tak terlihat sedikitpun keberadaannya, sedangkan matahari sudah mulai terbenam.
Langit yang biru berganti warna hitam gelap. Desiran angin laut yang sejuk berganti dengan udara laut yang dingin.
"Elang!... Elang! " Anna memanggil namanya sekali lagi. Dengan rasa kuatir dia menyusuri bukit perbatuan di pinggir pantai.
"Anna! " dari belakang elang menepuk bahunya
Anna menoleh dengan bulir air mata yang hampir memenuhi matanya yang bulat.
Dia menutup matanya dengan kedua telapak tangan dan menyenderkan kepalanya pada dada yang bidang itu, agar orang yang berada di dekatnya tidak mengetahui perasaannya.
"Hiks, kamu kemana saja. Hiks, jangan tinggalkan aku sendiri," tangis Anna yang sudah membanjiri kedua telapak tangannya.
Pelukkan yang tiba-tiba itu membuat elang sedikit kehilangan keseimbangan, saat telapak tangan Anna menyentuh dadanya dan mendengar suara jantungnya yang berdegup kencang.
__ADS_1