
Sambutan angin Bali sangat berbeda dengan sambutan angin Jakarta, begitu sejuk menyibak Pashmina. "Ya Allah, Lindungilah hambamu ini," doa yang keluar dari bibir Anna. Taksii bandara sudah menyambut ia untuk mengantarkan ke hotel. Bunyi panggilan suara whatsapp membuat hati gusar, ini pasti mama yang telpon.
Anna: "assalamu'alaikum ma, Anna sudah sampai alhamdulillah tidak terjadi apa-apa."
Bu laras: "alhamdulillah, apa kamu sudah sampai di hotel An?"
Anna: "belum ma, ini taksinya baru keluar Bandara."
Bu laras: "nanti jangan lupa nama Hotelnya."
Anna: "hehehehehe, Anna lupa."
Bu laras: "kebisaan, ingat namanya Hotel Wijaya Ritzh di daerah Ubud."
Anna: "siap mama cantik."
Bu laras: "salam buat tante Dewi sahabat baik mama waktu SMP."
Anna: "udah ah ma, nanti kalau lama-lama telpon kuping supir taksinya panas loh," canda Anna yang tidak mau mendengarkan cerita panjang lebar tentang persahabatan mamanya.
Bu laras: "kamu ya, mama ingin cerita juga di bercandain. Ingat kalau ada apa-apa telpon mama. Assalamu'alaikum,"
Anna: " Hehehehe, siap ma. Waalaikumsalam."
Anna yang masih berada di dalam taksi merasa ingin untuk segera bertemu Randy. "Lebih baik ke hotel terlebih dahulu. Aku juga belum tahu di mana tempat kerja mas Randy. Jika aku dapat alamatnya, InsyaAllah pasti bertemu," pikiran anna.
Untuk menuju ke lobby hotel, Anna menyeret koper dan menjinjing dua tas yang lumayan besar dan satu tas ransel di pungunggungnya.
"Permisi Mbak, saya mau cek in, atas nama Anna Cecilia Pratama," ucap Anna untuk cek in hotel.
"Baik. Silakan sertakan KTP untuk cek in," jawab resepsionis.
"Oh iya sebentar, saya lupa," tangan Anna memeriksa tasnya untuk mencari dompet merah.
__ADS_1
"Ko gak ada, sebentar ya mbak," Anna mencoba mengeluarkan semua isi dalam tas tapi tidak menemukan dompet merahnya.
Aduh gawat nih kalau tidak ada. Aku nanti makan, jalan-jalan dan ketumu Randy, bagaimana?.
Elang memasuki lobby hotel, yang hampir bersamaan dengan Anna, memandang dari jauh gerak-gerik kebingungannya. Petugas Lobby dan resepsionis memberikan salam kapada Elang tapi di tahan oleh tangan kiri seperti memberikan kode.
"Mbak saya bisa bertemu pemilik hotel ini namanya tante Dewi, tolong bilang kalau saya anaknya bu Laras," permintaan Anna.
"Maaf, bu Dewi tidak di tempat Beliau ada kepentingan di luar," jawab resepsionis dengan sesekali mata memandang kepada Elang.
Elang yang mendengar sudah tidak heran, banyak yang menggunakan nama mamanya untuk meminta bantuan, karena mamanya selalu aktif berorganisasi.
"Aduh, bagaimana ini. Oh iya telpon mama," gumam Anna sambil berbisik dan terdengar Elang yang berada di belakangnya.
Tangan anna mulai mencari keberadaan handphone di tas, tapi tidak juga dia temukan, ternyata semua tertinggal di taxi. Seketika itu Anna menepuk dahinya "celaka dua belas jari aku," dengan menyeritkan dahi dia ingat seketika. Tiba-tiba di sebelah, ada pria aneh dan lebay, yang pernah satu pesawat.
"Siang mbak, saya mau cek in atas nama Elang Wijaya," jawab pria itu. Tanpa basa-basi Anna mengeluarkan jurus rayuan maut nebengnya.
"Oh iya mbak, saya bersama dengan dia," perkataan yang tiba-tiba itu membuat Anna juga tidak sadar mengucapkannya sendiri. Sambil mencubit sebagian pinggang Elang, seperti memberikan kode keselamatan.
"Eeee, dia..." ucap elang dengan terbata-bata. Tapi semakin kencang Anna mencubit nya jika Elang tidak membantu.
"Iya! dia bersama dengan saya, berikan dia kamar yang berbeda dengan saya," ucap Elang yang menahan sakit, entah, ada keberanian apa pada diri Anna sehingga dia bisa melakukan hal itu kepada orang yang baru beberapa jam bertemu. Mendengar perkataan Elang tadi, anna sedikit lega, akhirnya dia tidak terlantar untuk tempat tinggal.
"Ini kunci untuk membuka kamar 160 untuk temannya dan ini kamar 170 untuk anda, selamat beristirahat dan terimakasih," petugas resepsionis itu memberikan dua kunci kepada Elang.
Dengan tangan yang terampil, Anna langsung mengambil kunci kamarnya. "Alhamdulillah, terimakasih." Elang berjalan berlalu meninggalkan Anna yang tidak sadar. Bahwa dari pertemuan keduanya di pesawat sudah membuat terkesan.
Setelah beberapa kali pertemuan, hati Elang sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Seakan ingin melompat keluar dan ingin menyatakan perasaan kepada gadis aneh.
Tapi lagi-lagi pikirannya bermain. Elang merasa belum memahami sifat dan tingkah laku Anna. Sehingga dia lebih memilih logika daripada perasaan.
"Hai tunggu!" teriak Anna memanggil pria yang berjalan jauh di depannya.
__ADS_1
"Maaf ya, aku tadi mencubit sedikit pinggangmu, dikit ko, tidak sakitkan," ucap Anna yang meminta maaf dengan menumpuk kedua telapak tangannya menjadi satu di depan dada. Perkataan Anna tidak di dengarkan oleh Elang, dan dia menuju ke Lift yang di ikuti oleh Anna.
"Nama ku Anna, nama anda Elang kan, saya sedikit mendegar nya tadi, kita belum berkenalan," Anna mengulurkan tangannya mencoba untuk berkenalan secara baik-baik.
Tapi Elang tidak membalas jabatan tangannya, karena merasakan jatungnya yang berdegup kencang, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku blazer hitam yang dia pakai untuk menutupi keringat karena gugup, seolah-olah dia menyembunyikan tangannya untuk tidak mau membalas salam Anna
Anna yang melihat tingkah laku spontan Elang sedikit kecewa di hati. Tapi dia menapik rasa kecewaanya karena rasa terimakasih dan malu pada atas apa yang pernah dia perbuat tadi. Pintu lift terbuka, mereka berdua berjalan di Koridor tanpa sepatah kata yang terucap.
Sesampai di depan kamar, Anna memberhentikan langkah Elang dengab memegang sedikit kain blazzer yang berada di lengannya. "Terimakasih ya," ucap Anna dengan wajah yang ceria dan senyum manis "Dan maaf, atas kejadian di pesawat tadi," lanjutnya. Elang hanya membalas dengan mengedipkan satu kali mata sebagai tanda oke. Wajah anna yang ceria dengan senyum manis, sudah terpotret di ingatan Elang seketika.
"Tapi... Maaf, boleh saya pinjam handphone nya," sela Anna sekali lagi untuk meminta tolong.
"Karena handphone saya juga hilang tak tahu kemana?" jawab Anna memberikan alasan. Elang yang masih terdiam sesaat, mencoba meraba-raba saku blazzer untuk meminjamkan poselnya. Anna langsung seketika ingin menelpon mamanya, yang berjalan sedikit menjauh dari Elang.
Anna: "Halo ma, assalamualaikum. Ini Anna"
Bu laras: "Anna nomer siapa yang kamu pake?"
Anna: "ceritanya panjang ma, dompet dan handphone anna tertinggal di taxi, sekarang Anna tidak bisa berbuat apa-apa."
Bu laras: "sudah mama duga, kamu sudah bertemu teman mama?"
Anna: "belum, tadi petugasnya bilang kalau teman mama lagi dinas keluar."
Bu Laras: "sekarang kamu bagaimana?"
Anna: "mama tenang saja, Anna tadi bertemu teman satu kampus,dan dia lagi ada pertemuan bersama teman kantornya, "ucap Anna berbohong.
Bu laras: "ya sudah kamu hati-hati di sana, mama akan blokir kartu bank kamu dan mama akan hubungi teman mama nanti."
Anna: " iya ma, assalamualaikum."
Bu laras: " waalaikumsalam."
__ADS_1
Anna mengembalikan handphone Elang, dengan pipi yang merona dan senyum manis yang terpasang sekali lagi, membuat Elang terpaku tidak bisa berbicara apa-apa. "Terimakasih ya," ucap lirih Anna.