Ada Cinta Yang Lain

Ada Cinta Yang Lain
Bahagia


__ADS_3

Hanif menemani mela untuk memeriksakan diri ke dokter .Karena setelah muntah-muntah badannya terasa tidak bertenaga. 


"Selamat ya, ibu sedang mengandung. Ini hasil pemeriksaan urine nya, selamat." Hanif dan mela tidak percaya akan kabar yang mereka dengar. 


Hanif memeluk hangat tubuh mela hingga matanyaterlihat berembun, mela menghapus kelopak suaminya dan berbisik. "Selamat ya sayang sudah menjadi ayah."


Hanif mengangguk memberi balasan mengecup indah keningnya dengan berucap "Terimakasih atas semuanya."


Kebahagiaan mereka berdua terlihat dari raut wajah yang tidak bisa di tutupi


"Kak lapar," ucap melalui dengan mengelus perutnya


"Mau makan apa? Apa makan di tempat resto yang kemaren," tanya hanif bercanda ingin melihat istrinya cemburu. 


"Ogah! Nanti ketemu Alya lagi," jawab melalui cemberut. 


" Ko Alya, terus maunya makan apa?" balas hanif dengan mencubit kecil hidung istrinya. 


"Hmm.. Mau makan nasi padang."


"Boleh, tapi jangan nyuruh suamimu ini ke padang ya untuk beli," ucap hanif menyela. 


"Hahaha... Boleh kalau itu mau kak hanif," jawab melalui bercanda yang diikuti tepuk jidat oleh hanif. 


*******************


Anna ingin menata perasaannya setelah perselisihan dan kata-katanya yang merasa menyakiti hati Elang.


"Sebenarnya aku ingin menikah dengan mu"


 Di bawah pohon maple memegang selembar daun dan merasakan kekurangan dan kelebihan yang dia miliki.


 

__ADS_1


"Udara pagi yang sangat sejuk, angin berhempus lirih membuat rongga-rongga di dada tak begitu sesak, suara daun yang terbang terdengar di telingaku." Anna menutup kedua mata merasakan diri seperti angin yang melayang. 


Terdengar suara seorang pria tua yang seperti tidak asing baginya. 


"Anna... Anna Cecilia Pratama?" tanya pria tua itu. 


Mendengar namanya di sebut, Anna mengingat seorang pria yang sudah seperti ayahnya sendiri. 


"Professor Samid Hasan?" Pria tua itu tersenyum mendengar namanya yang masih teringat jelas di ingatan Anna. 


Anna berusaha menjabat tangan Professor tapi tak tergapai, yang di lihat Prof Samid mengerti akan keadaan diri Anna. 


"Anna," sapa lembut Professor yang duduk di sebelahnya. 


"Apa kamu tidak bosan duduk disini, Mampirlah, aku tinggal di Singapore," ajak Professor. 


"Boleh prof, jika Professor tidak keberatan dengan  keadaan Anna seperti sekarang."


"Apa yang membuatku keberatan, kamu seperti anakku sendiri," jawab prof dengan sungguh-sungguh. 


"Anna, kehidupan tak selamanya indah tapi juga tak selamanya buruk."  Anna membalas dengan tersenyum, seperti memberikan nasehat self-healing untuknya. 


" Apa kamu sudah makan." Anna menggelengkan kepala


"Hahaha... akan aku buatkan makanan enak untuk putriku," ucap profesor. 


"Oh ya... Aku ingin nasi goreng seafood buatan Professor." Professor menepuk punggung tangan Anna. 


Memasuki rumah yang tidak begitu besar tapi tercium bau kopi yang begitu khas. 


"Duduk lah disini," ucap Professor dengan menggeser kursi untuk Anna duduk. 


"Kopi yang enak sepertinya prof," sanggah Anna yang mencium bau kafein di ruangan. 

__ADS_1


" Hahaha... Penciumanmu begitu tajam, mau kopi juga." Anna menganggukkan kepala berkali-kali. Professor Samid menyajikan nasi goreng seafoood dan segala kopi yang membuat penciuman Anna bekarja. 


"Makanlah Anna. Rasakan mungkin kurang garam atau penyedap." Anna mengambil sendok di sebalahnya untuk bersiap memakan nasi goreng yang tercium begitu harum. 


Terdengar suara pintu terbuka dan ucapan salam dari seorang pria asing di telinga Anna. 


"Assalamu'alaikum.. Sepertinya enak nih nasi gorengnya, jadi laaaap...." sapa seorang pria yang berhenti tiba-tiba. Membuat Anna juga berhenti makan. 


"Waalaikumsalam, Satria...sinilah makanlah dulu, kamu pasti capek bekerja," jawab prof yang menyuruh anaknya untuk duduk di sebelah Anna dalam satu meja. 


"Anna, ini Satria anak tunggal Professor."


Anna menyodorkan tangan kedepan untuk berkenalan tetapi salah arah, karena satria berada di samping. Tangan satria mencoba membalas jabatan tangan Anna meskipun salah arah, dan dia sudah mengetahui kekurangannya. 


" Anna."


"Satria."


" Satria seorang dokter, terkadang Professor di tinggal sendiri di rumah, sepi tidak ada yang bisa di ajak mengobrol," sanggah prof yang di ikuti senyum anna saat mendengar cerita. 


Satria terkesima melihat wajah anna yang anggun terlihat cantik saat tersenyum dan pipi merona disaat dia malu. 


Percakapan yang begitu nyaman membuat anna merasa seperti dirumah sendiri. Sedetik perasaannya tertuju kepada Elang. 


Karena hari menjelang sore. Anna berpamitan pulang menuju ke apartemen elang yang tidak jauh dari tempat tinggal Professor. 


"Saya pamitan pulang prof, terimakasih tadi nasi goreng dan kopinya enak, dan juga percakapan yang menyenangkan," ucap anna dengan senyum dan pipi meronanya. 


"Anna apa tidak sebaiknya di antar Satria? Ini Singapore lo bukan Indonesia?" tanya Professor. 


"Boleh jika tidak keberatan, tapi tempat tinggal saya tidak jauh dari taman tadi," balas anna dengan menujuk arah jalan yang salah. 


"Saya tidak keberatan," sanggah Satria. "Pamit dulu Pa," lanjutnya. 

__ADS_1


Satria dan Anna menuju mobil setalah mengucapkan salam kepada Professor. Tidak lama dalam perjalanan, mobil satria di hadang oleh mobil sub hitam dengan sekelompok pria-pria bertubuh besar. 


__ADS_2