
Tangan elang serasa ingin membalas pelukkan tubuh mungilnya, tapi tangan ini terasa berat. Bibir ingin mengatakan sesuatu yang saat ini dia rasakan.
"Anna, aku tidak ke mana-mana tenanglah," perkataan Elang dengan nada yang halus.
Elang berusaha menenangkan hati Anna, Memegang bahu dan membuka telapak tangan yang menutupi wajah, menghapus air mata yang jatuh di pipi.
Mata yang saling memandang seakan menarik tubuh elang untuk memegang bibir Anna yang mungil, ingin mencium dan ingin mengutarakan hati dengan bahasa tubuh.
Detak jantung berdegup membuat Anna sadar akan apa yang sudah dia lakukan merupakan hal yang tidak pantas, dia sedikit melangkah mundur dari elang yang hendak menciumnya.
Langkah mundur membawa dia berlari menjauh dari elang yang terdiam.
Elang tidak tahu atas apa yang sudah dia lakukan. Sekarang pikirannya kalah dengan hati yang sudah penuh dengan rasa cinta.
Cinta yang sudah tidak bisa dia tutupi lagi dengan logika atau dengan apapun.
*****
Mela yang menunggu Anna di lobby membuat hanif gusar.
"Mel, istirahat lah dulu di kamarku jika Anna kembali aku akan membangunkanmu," ucap hanif yang kuatir.
"Tidak usah kak, aku akan menunggu. Anna sebentar lagi juga kembali," jawab mela sesekali menutup mulutnya yang sedang menguap.
"Jika kamu tidak menurut, besok aku akan berangkat terapi sendiri," ucap hanif dengan nada sedikit mengancam
Mela yang tidak bisa membantah ancaman Hanif, terpaksa menuruti kemauannya.
Membantu Hanif mendorong kursi roda menuju lift dengan mata yang sedikit mengantuk.
Sesekali Hanif melirik wajah Mela yang lelah di antara kaca lift yang mengelilingi mereka, tubuh terlihat anggun dan menawan dengan balutan gamis dan jilbab berwarna merah maroon.
Bibir natural tidak ada gincu atau lipstik yang menempel membuatnya terlihat polos.
Di dalam kamar, Mela berusaha menjaga jarak dengan Hanif, bukan karena sok suci. Tapi karena hatinya yang berdegup saat berduaan dengannya. Dia berusaha menjaga agar rasa gugup yang meliputi tidak terlihat.
Hanif mendorong kursi roda untuk maju ke depan diikuti oleh Mela dari belakang.
"Kak, kita belum sholat isya, aku mau ambil wudhu dulu, kita sholat bersama," seru mela dengan melangkahkan kaki menuju ke hanif yang berhenti.
Gamis yang terurai menyentuh tanah tak sengaja membuat Mela menginjak sedikit bagian kain bawahnya.
Membuat dia kehilangan keseimbangan sehingga dia jatuh terduduk di pangkuan hanif yang memutar kursi roda di hadapannya, dengan sigap tangan Hanif memeluk Mela yang hampir terjatuh.
__ADS_1
Pandangan yang saling menatap, membuat detak jantung mereka berdegup kencang.
Pria dewasa yang di hadapan Mela sekarang adalah seorang pria yang membuat dia jatuh cinta, tidak memandang kekurangan dalam dirinya tapi kedewasaan, kebijaksanaan, dan budi nya yang baik membuat hati Mela saat ini bergetar.
Seorang gadis di hadapan Hanif sekarang adalah seorang gadis yang mempunyai pendirian yang kuat meskipun dia sudah bersikap dingin, tetapi membuat rasa trauma memudar dan membuatnya mempunyai semangat untuk tidak terpuruk lagi.
"Astaghfirullah," ucap mela menyeka wajahnya dengan telapak tangan.
"Maaf kak, tadi tidak sengaja... Itu kaki tadi.... Tidak sengaja... Kaki.... Itu.. Aduh! Aku ambil wudhu aja dulu," lanjut Mela dengan gugup.
Pipinya yang merona karena malu sudah terekam di hati Hanif.
Mela yang menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan berganti pakaian, menampar pipinya sendiri saat melihat dirinya berdiri di depan cermin.
"Aduh Mela! Apa yang sedang kamu lakukan tadi. malu tahu! Kalau sampai dia tahu isi hatimu," tutur kata mela yang berbicara sendiri.
Di ruang depan, Hanif yang diam terpaku dengan senyum-senyum kecil yang tersungging di bibir, seakan menyakinkan pada diri sendiri, bahwa hati tidak bisa berbohong.
Teringat apa yang pernah dikatakan oleh ibunya, bahwa dia berhak mendapatkan cinta sejati, kaki yang tidak bisa berjalan ini bukan kesalahan takdir tetapi kesalahan diri sendiri yang tidak berusaha untuk sembuh.
"Aaaaaaa..." Terdengar suara jeritan dari kamar mandi yang diikuti dengan bunyi sesuatu yang terjatuh.
"Mela!" Rasa kuatir yang ada pada diri hanif membuat gerakkan spontan pada kakinya.
Kaki yang tidak kuat itu membuat Hanif hampir jatuh tersungkur di lantai. Mela mencoba memeluk tubuhnya yang lemah dan menolongnya untuk kembali ke kursi roda.
"Tidak usah di bantu, aku bisa sendiri!" ucap dingin Hanif dengan mendorong kursi roda dan menatap ke arah jendela, ia merasa malu pada dirinya sendiri yang lemah.
Mela tersenyum dan menghampiri seorang pria berwajah tegas dengan setengah berewok di wajah, yang beberapa menit lalu berkata dingin padanya.
"Aku senang, kak Hanif mencoba untuk berjalan, besok kita ke dokter Zain untuk terapi, ya," ucap Mela dengan menekuk kedua lutut seperti setengah berdiri di samping seorang pria yang sedang merajuk dengan menatap mata sendunya penuh arti.
Hanif yang menengok ke samping melihat wajah cantik natural, seakan membuat ke egoisannya sebagai seorang pria melemah karena hati. Ingin rasanya dia mengutarakan perasaan kepada gadis yang berada di depannya sekarang.
Suara ketukan kamar, membuyarkan suasana romantis diantara mereka.
Mela yang berusaha berdiri ingin membukakan pintu tapi di halangi oleh hanif.
"Biar aku saja," ucap hanif dengan memutar kursi roda ke arah pintu.
Saat pintu terbuka, terlihat adiknya dengan seorang pria yang berdiri tepat di belakang Anna.
"Kak hanif! Assalamualaikum," salam Anna kepada kakaknya dengan mencium punggung telapak tangan.
__ADS_1
"Mana mela?" lanjut anna menayakan keberadaan sahabatnya itu.
"Ada di dalam," jawab hanif dengan menunjuk jari ke dalam ruangan.
Anna yang langsung masuk kedalam, berjalan menepi melewati hanif tanpa memperkenalkan elang yang berada di belakang.
"Assalamualaikum Hanif," salam Elang.
"Waalaikumsalam Elang," jawab Hanif dengan pelukkan seorang sahabat.
"Bagaimana kabarmu, terakhir kita membahas tentang angka-angka mematikan, hahaha," canda Hanif.
"Hahaha, iya benar. Nanti kita akan bicara lagi tentang angka-angka yang seperti Rollcoster itu," balas elang dengan menepuk bahu Hanif.
Dan mempersilakannya untuk masuk kedalam.
Anna yang heran kenapa mereka berdua seperti sudah mengenal satu sama lain.
"Ko kalian sudah pada kenal?" tanya Anna heran.
" Elang ini juga bermain saham sama seperti kaka. Ternyata dia anaknya tante dewi. Waktu itu pernah menjemput tante di restoran mama, dan kita berdua nyambung obrolan nya," pungkas hnaif dengan penjelasan penjang lebar.
"Ko bisa ya, aneh! seperti ada magnet yang terhubung," sela Mela saat keluar dari kamar mandi.
"Melaaaaaa," jeritan Anna yang di balas dengan teriakan Mela juga. " Annaaaaa."
Elang dan Hanif saling pandang penuh keheranan dan sama-sama bergumam. "cewek memang suka teriak, hahhaha," pungkas mereka berdua secara bersamaan diikutitawa kecil mereka berdua.
Mela mengobrol dengan Anna di dalam kamar, sesekali pandangan mereka melihat Elang dan Hanif di balkon kamar layaknya seperti pasangan yang sudah lama tidak bertemu.
"Mereka ko bisa nyambung ya, An. Sepertinya kalian nanti berjodoh?" ucap mela memulai obrolan.
"Apaan sih mel. ngaco kalau ngomong," pungkas Anna yang tidak setuju dengan pernyataan sahabatnya.
"Ko ngaco sih, lihat tuch kakakmu sepertinya setuju kalau kamu dengan Elang. Cowok seperti hyu bin ko gak di lirik? Masih mikirin Randy ya?" canda Mela.
Expresi wajah anna berubah murung "iya, aku akan bertemu dengannya besok, aku akan ketempat kerjanya?" jawab Anna dengan yakin.
"Lebih baik seperti itu, apa randy tahu kalau kamu di bali?" tanya mela sekali lagi.
Anna menggelengkan kepala, agar Mela tidak mengetahui kalau dia sudah chat whatsapp randy dimana dia tinggal, dan akan bertemu di tempat yang di janjikan.
Tak sedikitpun Mela menaruh curiga kepada pernyataan Anna karena di hati kecil Mela, dari awal dia tidak setuju jika anna bersama randy.
__ADS_1