
Pertemuannya dengan Alya tidak membuat Mela gugup. Malah sebaliknya, menghadapi Alya dengan tenang dengan tersenyum.
"Oooo... Saya tidak mengenal dengan baik teman kak hanif," jawab Mela dengan senyum memandang wajah suaminya.
"Tapi sekarang suami saya sudah bisa berjalan lagi. Dan tidak ada gulung tikar, kami hanya sedang istirahat sebentar, benar begitu kan kak hanif," sela Mela dengan mencubit sedikit lengan suaminya.
Hanif tersenyum, mengangguk dan mendengar jawaban sanggahan dari istrinya.
"Oh ya...selamat ya hanif," ucap Alya.
"Terus. Dimana perusahanmu, apa di jakarta?," lanjut Alya menyeritkan alis, membuat pertanyaan skak matt.
"Di ubud, kami membuka cabang restoran, jika kak Alya mau mampir dengan senang hati, benar begitu kan suamiku sayang," jawab Mela melayangkan senyum manjanya.
"Boleh, tapi saya high level jika menu makananya kurang enak. Saya dan teman-teman pasti tidak mau kesana lagi," jawab Mela menyindir.
"Oh tenang saja, kami merekrut chief ternama, ada menu west and asia. Asalkan kak Alya dan teman-temannya siap menguras isi dompet, karena harga tidak membohongi rasa," sanggah Mela.
"Hahaha...tenanglah. Apabila benar rasa tidak membohongi. Saya akan berkunjung setiap saat kesana." sindir Alya dengan menyibakkan rambut ikalnya ke belakang.
"Syukurlah. Kami akan menunggu kak Alya," jawab Mela dengan senyum.
"Aku ada acara hari ini, mungkin kita bisa bertemu lagi, kamu masih menyimpan nomerku kan...." lanjut Alya ingin membuat Mela cemburu.
"Tidak! Yang ada di ponsel suami saya hanya nomer saya dan keluarga, tidak ada yang lain!" ketus Mela.
Alya sedikit mundur karena ucapan Mela yang menohok tiada henti. Sedangkan hati Alya masih menyimpan kenangan indah bersama hanif meskipun dia sudah mengkhianatinya. Setelah melihat hanif sembuh dari lumpuh. Alya punya niat untuk merebut hati hanif kembali.
"Kalau begitu. Ini kartu namaku, jika ada apa-apa kamu bisa curhat denganku," tutur kata manis Alya dengan memasukkan kartu namanya disaku depan kemeja cream hanif.
Alya beranjak dari tempatnya berdiri dan mengangkat sudut bibirnya ke atas saat berlalu melihat mela.
"Tunggu!" teriak mela tinggi hingga seluruh pengunjung melihat mereka.
Mela mengambil kartu nama itu dari saku suaminya, tanpa ada perlawanan dari hanif.
__ADS_1
"Saya dan suami tidak memerlukannya," jawab mela tegas tanpa basa basi.
Alya menerima kartu itu dan berlalu meninggalkan mereka berdua dengan wajah kesal, tetapi mela menanggapinya hanya tersenyum.
Sesampai di apartmen. Strawberry Shortcake menjadi plempiasan emosi garpu dan piring hingga tidak berbentuk. Pandangan mata tidak berkedip melihat hanif yang duduk di hadapannya, mata yang tajam menyorotkan rasa kesal dan cemburu, yang membuat hanif salah tingkah.
"Sini aku suapin, kasihan cake nya jadi tidak berbentuk." ucap hanif berusaha mencairkan suasana.
"Tak boleh! Aku bisa sendiri," gerutu mela yang meninggalkan hanif sendiri di meja makan dan kamar terdengar terkunci.
"Mel.. Mela... Kalau di kunci, bagaimana aku bisa masuk," ucap hanif. Aduh! alamat tidur di sofa nanti malam.
"Apa!" bentak Mela saat membuka pintu.
"Gitu dong, di buka pintunya," sela hanif berusaha untuk memeluk tubuh Mela.
"Sana! Males dekat-dekat," ucap Mela menolak pelukkan hanif.
"Huwekk... Huwekk," Mela terasa mual saat tubuh hanif mendekat.
******
Anna membuka pintu kamar menuju ke arah dapur. Meraba-raba untuk mencari sesuatu. Pagi ini, dia ingin membuat sarapan untuk elang. Dia berusaha untuk mandiri meskipun dia buta.
Prang...suara piring terjatuh. Prang...di ikuti suara gelas terjatuh saat membuka lemari dapur atas.
Elang yang tertidur di sofa mendengar suara pecah berlari kecil mencari asal bunyi yang terjatuh. Terlihat Anna yang berjongkok mencoba membersihkan sisa pecahan piring dan gelas.
"Auch..!" ucap Anna yang jari manisnya terkena ujung pecahan gelas.
"Anna..! teriak kecil elang yang melihat jari terluka.
Membopong tubuh Anna, melewati pecahan gelas dan piring yang berserakan di lantai tanpa memeperdulikan kakinya yang terkena.
Elang mengambil obat antiseptik untuk mengobati jari yang terluka. Dia memandang wajah cantik Anna yang melihat ke arah berbeda.
__ADS_1
"Besok kita akan menikah, aku akan mempersiapkan semua," ucap Elang dengan menyibak sedikit rambut Anna yang menutupi kening.
Anna menarik tangan yang terluka ke arah dadanya, dan berdiri meninggalkan Elang.
"Anna..biar aku obati ya, duduklah," kata lirih elang.
Tanpa memeperdulikan perkataan elang, Anna berusaha untuk berjalan dengan meraba-raba dinding tembok untuk menuju ke kamar.
"Anna, maafkan aku. Jika kamu belum ingin menikah, mungkin aku terburu-buru, kita bisa mengaturnya lain waktu," ucap elang Mengikuti Anna dari belakang.
Anna yang mendengar kesungguhan elang membuatnya terhenti dan bersender di dinding.
"Aku tidak bisa menjadi istrimu, untuk membuat sarapan, aku tidak bisa, bagaimana aku menjadi istrimu! hiks..." jawab Anna dengan air mata yang hampir tumpah.
"Pagi ini piring dan gelas yang aku pecahkan. Jika aku menjadi istrimu, berapa banyak yang nanti aku pecahkan lagi, hiks.. hiks," ucapan yang di ikuti dengan air mata.
"Anna." Elang berusaha menghapus air mata tapi telapak tanganya di tolak oleh Anna.
"Lupakan aku elang, aku ikhlas," ucap Anna dengan memegang tangan elang.
"Kenapa aku harus melupakan mu, aku mencintaimu," perkataan elang memberikan keyakinan.
"Lihatlah aku elang! Lihatlah aku!.." teriak Anna. "Aku buta! Mungkin kamu mencintaiku saat ini, tapi setelah kita menikah, aku tidak bisa melakukan apa-apa, apa kamu masih mencintaiku?" Anna berusaha membuat keraguan di hati elang.
Elang mengepalkan tangan dan memukul dinding yang berada disamping Anna.
Bruk... Suara hantaman yang membuat Anna terkejut. Dan terdengar nafas yang tersengal-sengal menahan emosi.
"Aku mencintaimu, apapun keadaanmu aku tetap mencintaimu. Jangan lupakan itu." bisik elang dengan mengecup kecil pipi Anna.
Elang mengambil blazer yang tergeletak di sofa dan berlalu meninggalkan apartment dengan mobil sedan hitam Audi.
Anna yang masih tersentak kaget dengan apa yang sudah terjadi. Tubuhnya terasa lemah, duduk dengan memeluk kedua lutut, Anna tidak bisa menahan tangis dengan kebodohan yang sudah dia lakukan.
Maafkan aku Elang...Maafkan aku yang selalu membuatmu sakit dengan kekuranganku ini. Maafkan....
__ADS_1