
Sudah dua bulan lebih pengobatan hanif mengalami kemajuan, tidak ada keluhan untuk fisioterapi dan psikologis. dokter Zain memberikan pernyataan yang membuat semangat agar meraih keajaiban.
" Mr. hanif, you don't use a wheelchair now," ucap dokter Zain memberi kejutan.
"Now you use a two cane to walk." dokter Zain memberikan dua buah tongkat, dan mengulurkan tangan untuk membantu hanif berjalan.
Mela melihat dengan senyum bahagia dan hanif berucap syukur tiada henti.
Sedikit demi sedikit hanif melangkah seperti anak kecil berjalan dengan menyangga tongkat.
Di depan banyak orang, hanif mengeluarkan sesuatu di saku celananya. Sebuah kotak merah kecil, dia buka tepat di depan mela.
Dengan hati berdebar, kebaranian yang dia kumpulkan akhirnya dia keluarkan. Dia ingin melamar wanita yang berada di depannya sekarang. Seorang wanita mempunyai pendirian kuat, meskipun tingkah laku dan ucapan hanif membuat sakit hati yang mendengar.
"Mel, maukah kamu menjadi pendampingku," pernyataan cinta dan lamaran yang begitu mendadak.
Tanpa berpikir panjang. Mela mengangguk dengan senyum dan keyakinan.
Riuh rendah tepuk tangan semua orang yang berada di depan mereka, membuat bahagia. Tanpa penolakkan, Mela menerima lamarannya.
Akhirnya aku mendapatkan seorang wanita yang membuatku bahagia.
"Congratulations Mr. Hanif." Pemberian ucapan dari semua orang yang hadir.
Semua yang melihat memberikan doa kebahagiaan untuk mereka berdua. Mela mengantar hanif menuju keluar ruangan dengan langkah yang beriringan, hanif berusaha memberhentikan langkah mela.
"Mel, terimakasih sudah menerima diriku yang penuh kekurangan ini," ucap hanif dengan menyangga kedua tongkatnya dan memandang mata bulat wanita yang berada di hadapannya.
"Hem," balas Mela dengan senyum.
"Tidak ada kata indah yang ingin di dengar oleh seorang wanita selain kata cinta dan lamaran dari seorang pria yang di cintai," sambung Mela.
Mata ego seorang pria ini, tidak bisa menahan rasa cinta nya untuk meneteskan air mata, mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir wanita yang ada di hadapannya sekarang.
"Terimakasih, kamu ada untukku," balas hanif dengan tatapan yang penuh cinta kepada Mela.
"Karena kamu. Aku bisa melakukan apapun yang sebelumnya tidak bisa aku lakukan. Karena kamu...ketakutan ku hilang, karena kamu...keberanian yang tersimpan bisa aku utarakan. Kamu adalah seorang wanita satu-satunya yang membuatku kuat," lanjut hanif yang memegang kedua tangan Mela.
Jari lentik Mela, berusaha mengusap butiran air di ujung mata pria yang dia cintai.
"Kamu adalah pria satu-satunya yang membuatku sadar bahwa cinta itu dari hati bukan dari kekurangan atau kelebihan," balas Mela memegang dada hanif, merasakan detak jantungnya yang terdengar.
__ADS_1
"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap hanif dengan mata berbinar,dia merasa yakin Mela akan menyukainya.
Mobil SUV hitam membawa mereka kesuatu tempat yang tidak pernah terbesit dalam pikiran Mela jika Hanif sudah memikirkan jauh kedepan.
Sebuah rumah di atas bukit yang terhampar terasering sawah dengan hamparan padi yang menghijau.
"Ini apa kak, rumah siapa ini?" tanya Mela dengan heran.
Hanif mengajak Mela melangkah di setiap anak tangga yang berada di depan teras, lantai yang terbuat dari kayu bercat warna hitam, di kelilingi dengan pagar kayu yang melekat diantara tiang-tiang.
Membuka pintu ruang tengah, belum ada funiture atau perabotan untuk melengkapi isi ruangan, dinding masih tertutup semen belum bercat, dua kamar bersebelahan yang cukup luas, ada halaman belakang dengan rerumputan hijau sejuk sehingga mata memandang sudah terlihat hamparan bukit sawah yang indah.
Mela kagum dengan rumah yang sederhana tapi membuat bahagia yang menempatinya.
"Kak. Rumah siapa ini? Jangan bilang kalau kakak membangun rumah ini," ucap Mela dengan mata berbinar.
"Iya," balas hanif dengan menganggukkan kepala dan tersenyum melihat Mela yang terkejut.
"Subhanallah, indah sekali rumah ini, sangat indah," ucap syukur Mela yang memegang tangan pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Rumah ini belum tahap finish, belum lengkap nanti kamu yang akan melengkapinya. Kamu akan memilih cat dinding yang kamu suka, perabotan atau funiture yang ingin kamu beli," pungkas hanif.
Rasa bahagia yang Mela rasakan tak terukir dengan kata-kata. Hanya senyum yang tergambar di wajahnya, dan mata yang memancarkan ketulusan hati. Aku akan melabuhkan hati ku untuk seorang pria yang ada di hadapanku sekarang. Seorang pria yang membuatku bahagia. Aku ingin menikahimu dengan sepenuh hati.
"Dew... Apa kamu yakin melakukan perjalanan ini?" tanya Wijaya kepada istri yang berada di sampingnya.
"Yakin," jawab seorang wanita yang keras kepala.
"Tapi..." sela Wijaya yang takut akan keadaan istrinya yang masih dalam perawatan.
"Aku harus Pa, aku suka dengan Anna, dia akan menikah dengan Elang. Suatu saat nanti Anna akan melihat lagi," jawab yakin istrinya.
Wijaya tidak bisa berkata apa-apa jika istrinya sudah memutuskan sesuatu. Karena apa yang akan dilakukan sudah dia pikirkan baik-baik.
"Aku akan telpon Andreas. Untuk menyiapkan semuanya," sela Wijaya.
Dewi terdiam menatap kaca jendela pesawat yang membawa ketakutannya untuk pergi meninggalkan semua. Karena kamu. Aku akan melakukan yang terbaik, cinta yang tidak terbalaskan dulu akan aku buat menjadi nyata di kehidupan ini. Tunggulah aku Kris.
*********
Aku ingin mengenggam tangan hangatmu. Menciummu di setiap waktu bersamamu. Saat hari dimana kamu datang adalah hari yang begitu cerah.
__ADS_1
Sebelum aku mengenggammu aku tidak tahu. Bahwa dunia yang aku tempati ini begitu indah. Aku meraihmu dengan sedikit nafas kehidupan. Yang memanggilku tanpa rasa takut.
Hatiku berdebar saat mencari mu. Menuju cahaya redup yang telah mati. Dalam keabadian gelap dan penantian panjang. Aku memejamkan mata. Suara debaran hatiku, apakah kamu mendengarkannya?.
Anna duduk terdiam di ranjang tidak tahu apa yang sudah dia perbuat tadi, sambil jari telunjuknya memegang bibir yang baru saja mengecup Kevin seorang pria yang menangis untuknya.
Aku merasakan hatinya sama seperti hatiku. Pria itu bernama Elang, iya Elang, aku mengingatnya. Kepala Anna terasa sakit jika berusaha mengingat terlalu dalam lagi, apa yang sudah terjadi? Potongan potongan peristiwa muncul dalam ingatan.
Semakin lama semakin sakit kepala yang dia rasakan, "aaaaaa," jerit Anna kesakitan.
Elang yang berada di luar kamar bergegas masuk saat mendengar jeritan Anna.
" Anna, kenapa? Aku akan panggil dokter," tanyanya kuatir.
Anna hanya memegang kepala yang sakit dengan kedua tangan. Tidak lama dokter memeriksa dan melihat keadaan.
"Its doesn't matter. It's all the brain's neural reactions," kata dokter.
"Just a small reactions in her head," lanjut dokter.
Elang menghampiri Anna yang sedikit bingung dengan keadaan diri sendiri.
"Tidak apa-apa, semua baik-baik saja." Elang berusaha members keyakinan.
Mendengar suara elang yang berada di depan, Anna berusaha meraih dan memeluk lengan tangannya. Dia ingat semua kenangan yang muncul tiba-tiba. Saat bertemu dengan elang di mall, pesawat, hotel, dan ucapan cinta yang belum mendapatkan jawaban.
Kenangan buruk yang ada dalam ingatan ingin dia kubur dalam-dalam tidak perlu lagi dia gali untuk di ingat.
"Aku ingat semua, sudah mengingat apa yang terjadi, awal kita bertemu, dan pertengkaran ku dengan randy, kecelakaan saat itu. Aku sudah mengingatnya," ungkap Anna.
"Ingatlah sedikit demi sedikit jika ingatan itu membuatmu sakit. Jangan kamu paksa sesuatu yang tidak ingin kamu ingat," jawab Elang.
"Akan aku gantikan matamu agar kamu bisa melihat dunia," bisik elang
Jari telunjuk Anna menutup bibir pria di hadapnya dan menggelengkan kepala.
"Tidak, Bagaimana kamu bisa menggantikan mataku jika kamu juga menjadi gelap seperti ku. Suatu saat akan indah pada waktunya," tandas Anna mencoba memegang wajah yang ingin dia lihat setiap hari.
"Terimakasih atas semua. Kamu selalu ada di dekatku," ucap Anna yang membuat hati Elang tersentuh.
"Karena kamu....aku mengerti akan ketulusan. Karena kamu...memberikan warna dalam hatiku," lanjut Anna dengan memegang kedua tangan Elang.
__ADS_1
"An, terimalah cintaku. Kita akan menikah. Izinkan aku selalu berada disisi mu," pernyataan Elang dengan sungguh-sungguh.
Bibir terasa beku ingin mengatakan iya tapi tidak bisa terucap begitu saja.