Ada Cinta Yang Lain

Ada Cinta Yang Lain
Akhir Strategi


__ADS_3

Anna membaca chat Wathsapp dari Randy. 


Randy chat: "An, kita bertemu di Resto Amarican coffe Denpasar, siang ini. Lokasinya aku ganti."


Mata anna hanya melirik tidak tahu harus membalas iya atau tidak. Elang yang tanpa sengaja membaca pesan itu, memberikan anna kekuatan, dan keberanian untuk mengambil keputusan. 


"Pergilah, jika kamu ingin mendapatkan kepastian? Aku akan mengantar mu kesana, karena aku sudah berjanji, apapun keputusanmu aku akan menunggumu," ucap Elang. Karena kakinya yang masih terkilir membuat Elang bersamanya semalaman, menjaga dan memberikan perhatian yang belum pernah anna rasakan. 


Baru pertama kali Anna bertemu seorang pria yang bersungguh-sungguh kepadanya. Semalam Elang memberikan pernyataan yang membuat Anna tidak bisa memberi jawaban. Masih terniang-niang dalam telinga Anna. 


"An, aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri, mulai dari pertama kali kita bertemu di mall, di pesawat, dan di hotel, aku sudah tertarik padamu. Awalnya, logika ku tidak bisa menerima, tapi hati tidak bisa berbohong.... " kalimat-kalimat pernyataan cinta yang elang berikan, membuat hati Anna bingung untuk membuat keputusan. 


Resto Amarican Coffee tempat Anna akan bertemu dengan Randy. Tempat di mana semua akan terbongkar dan tempat di mana sesuatu akan menimpa Anna. 


Dari kaca jendela mobil, Anna sudah melihat randy yang sedang duduk menunggu kedatangannya. 


Untuk sesaat Anna menoleh dan memperhatikan wajah elang, menyentuh pipi yang berlesung pipit itu, genggaman tangannya memberikan keberanian kepada Anna dan membuktikan ketulusan hati yang dia rasakan saat ini kepadanya. 


"Berjanjilah Elang, bagaimanapun kau melihat diriku disana, biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri," pinta Anna. 


Elang mengerti permintaan Anna, dia membuka pintu mobil dan memapah Anna untuk menyebrang jalan dengan kaki yang berbalut kain perban. 


Di depan pintu resto, anna tersenyum kepada Elang dengan tatapan penuh arti dan melambaikan tangannya memberikan senyum semangat untuk pria yang sudah mengisih kekosongan di hatinya. 


Elang membalas lambaian tangan anna dengan senyum manis yang terukir di wajahnya dan menunjuk dua jari telunjuknya ke bawah sebagai tanda "Aku akan menunggumu disini."


Senyuman manis itu sudah terpotret di ingatan Anna tentang Elang. Dan sudah menjadi bagian di hatinya saat ini. 


Anna melangkahkan kaki dengan pasti, banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia ucapkan kepada Randy, Siapa wanita itu? Kenapa dia berbohong selama ini? Seberapa pentingnya diriku untuknya?. 


Dari belakang, Anna menatap punggung pria yang sudah menyakitinya itu dan membuat hatinya hancur berkeping-keping. 


"Randy," sapa Anna. 


Mendengar suara seseorang memanggil namanya dari belakang, Randy memutar badannya melihat wanita yang cantik, berkulit putih, bermata bulat, dengan bulu mata yang lentik, berpenampilan anggun dengan pashmina merahnya, randy terkesima melihat wanita itu. 


"Iya, siapa ya?" tanya Randy yang tidak mengetahui bahwa di hadapannya sekarang adalah seorang wanita yang dia manfaatkan selama dua tahun ini. 


Anna yang mendengar perkataan Randy, melangkah mundur seakan tidak percaya. Seorang pria yang di hadapannya sekarang tidak mengenali dirinya sedikitpun. "Sebenarnya seberapa pentingkah aku di hatimu randy?" tanya Anna dalam hati. 


Karena tingkah laku wanita itu yang ingin meninggalkan tempat, randy mencoba meraih tangannya. 

__ADS_1


"Anna," ucap Randy. Dia sadar bahwa dia tidak mengenali Anna yang berubah menjadi anggun dan cantik seperti sekarang yang dia lihat. Tidak ada kacamata bulat yang besar menempel di wajahnya, tidak ada behel yang menempel di gigi depannya, semua berubah. 


Randy tersenyum, dan menyuruh Anna untuk duduk di depannya. 


"An, kamu terlihat cantik hari ini," rayu Randy dengan melanyangkan senyum genit. 


Anna tidak ingin berkata apa-apa, hanya tatapan rasa muak yang ada di matanya. 


"Maaf An, tadi aku hanya bercanda, janganlah di ambil hati ya," kata-kata Randy yang berusaha mencairkan suasana dan tangannya ingin menyentuh pipi Anna, tapi di tampik oleh Anna sentuhannya itu. 


"Mau apa, pilih lah?" tanya Randy mengerti kesalahan yang baru saja dia lakukan dan berusaha menyodorkan daftar menu.


 "Apa kamu mau makan? Atau kopi? Kamukan suka kopi An, kita dulu kan sering minum kopi saat keluar bersama," ujar Randy dengan bercerita panjang lebar. 


Kenangan yang di ceritakan Randy seperti petir yang menyambar di siang hari. Anna tidak menyukai kopi sedikitpun, dan tidak pernah ada kenangan di dalam ingatannya tentang minum kopi bersama. Bersama siapa kenangan yang ada di ingatan randy?. 


Sesekali mata anna menatap mobil putih di seberang jalan. Ingin rasanya Anna memegang tangan Elang agar memberinya kekuatan. 


"Aku tidak suka kopi." Anna mengucapkannya seakan menyudutkan Randy dengan kata-kata skak matt. 


"Kita tidak pernah ada kenangan untuk minum kopi bersama, karena aku memang tidak suka kopi," ucap anna dengan nada sedikit meninggi seakan amarahnya sudah berada di puncak. 


"Siapa orang yang kamu bicara?" pertanyaan pertama yang ingin Anna tanyakan. Tanpa menggunakan panggilan mas atau Randy tapi sebaliknya. 


Tanpa menjawab pertanyaan, Randy mencoba memengang tangannya di meja, tapi tertolak sekali lagi sama Anna. 


"An, namanya juga kita jarak jauh, aku kadang lupa, sudah lah tidak usah di bahas lagi. Mmm... Bagaimana kalau nanti malam kita nonton, lagi ada film terbaru," lanjut Randy. 


Sebelum Anna menjawab ajakan Randy, tiba-tiba ada seorang wanita yang berada di sampingnya. 


"Oh, ini wanita selingkuhanmu! PRAK!" teriak nadia yang tiba-tiba datang dan melayangkan tamparan ke pipi Anna. Sesuatu hal yang membuat anna tidak pernah bermimpi akan berakhir seperti ini, akhir dari semua kebohongan. 


Randy yang terkejut melihat istrinya datang seolah dia kepergok berselingkuh. Mencoba mencegah Nadia untuk bertindak bodoh lagi. 


"Nadia! Kanapa kamu kesini," seru Randy . 


Anna tidak bisa berbicara apa-apa, saat melihat Nadia, nama seorang wanita yang dia dengar di ponsel. 


"Takut ya! Takut ketahuan selingkuh!" bentak Nadia ke Randy. 


"Randy. Kamu bayar dia berapa! Untuk tidur!". Perkataan Nadia ini membuat anna membalakkan mata. 

__ADS_1


"Nadia! Jaga ucapanmu, dia hanya teman biasa," ucap Randy yang melihat istrinya terbakar api cemburu. 


Anna berdiri dari tempat duduk nya dan mendekatkan wajahnya ke Nadia. 


"Aku tidak pernah tidur dengannya! PRAK!" ucapan Anna dan tamparan balasan untuk Nadia. 


"Aku bukan wanita murahan sepertimu! Aku masih punya harga diri!" murka Anna.


Tamparan dan perkataan Anna itu,membuat Nadia semakin menjadi-jadi amarahnya. 


Anna tidak habis pikir dengan mereka berdua yang tidak menghargai perasaannya sedikitpun. 


Para pengunjung yang lain, melihat mereka bertiga seperti melihat adengan dalam sinetron televisi, tidak ada yang melarai, tapi mereka merekam setiap kejadian. Pemilik resto turun tangan untuk menghentikan kejadian seperti ini berlanjut. 


"Ayo! Kita keluar Nadia! Ayok keluar!". Tangan kekar Randy menyeret Nadia keluar yang diikuti Anna dari belakang tanpa mereka sadari. 


"Aaaaaa! dia menampar ku Randy, dan kamu diam saja!" jerit Nadia tidak terima akan perlakuan Anna. 


"Nadia! Dia bukan siapa-siapa, aku hanya membutuhkan uangnya!". Kata-kata Randy yang terdengar di telinga Anna membuat kepalanya pusing, pandangannya terasa kabur, dadanya terasa sesak, sebagian jari jemari nya memegang dinding yang ada di luar resto, untuk bersender, menopang badanya yang terasa lemas terkulai. 


"Sekarang kamu ke mobil, cepat nadia!" ucap Randy memerintah. 


Randy membalikkan badannya, melihat Anna yang  berada di belakang, sudah terlihat pucat tapi Randy tidak perduli, yang dia butuhkan adalah uang Anna. 


"Anna, aku butuh uang itu, mana! Mana An! Anakku masih bayi, dia perlu makan. Sekarang dia kelaparan, aku sudah di pecat dari tempat kerja, ayook An, dimana kamu menaruhnya!" teriakan Randy dengan menggoyang-goyangkan bahu anna. 


Pernyataan randy tentang seorang anak, membuatnya terucap begitu saja, tanpa memperdulikan perasaan Anna yang hancur seketika, Anna menatap wajah Randy dengan berlinang air mata dan amarah yang tidak bisa terpadamkan. 


Anna mengeluarkan, amplop yang berisi tumpukkan uang di dalamnya tas nya. 


"Apakah ini yang kamu cari! Yang kamu mau hanya uangku, sejak saat bertemu hingga sekarang tidak ada sedikitpun hatimu untuk ku!" balasan teriakan Anna, dengan sedikit mendorong tubuh Randy dengan sisa tenanga yang dia punya. 


Randy yang sudah tidak bisa berpikir panjang, sekali lagi menyakiti perasaan Anna. "Aku tidak mencintaimu sejak pertama hingga sekarang, sedikit pun tidak!".


Anna tersenyum sinis mendengar perkataan Randy yang terucap dari lubuk hatinya itu. 


"Ambillah ini! Urus anak dan istrimu! Jangan pernah hubungi aku sedetikpun, ini yang terakhir! aku berharap tidak bertemu denganmu lagi!" . Anna melempar amplop yang berisi uang itu ke wajah Randy, sehingga uang itu berhamburan ke mana-mana yang membuat mata dan hati randy buta akan keadaan dan perasaannya. 


Biarkanlah Anna mengakhiri ini semua, hubungan yang tanpa pasti, sudah tidak ada cinta sedikitpun di hatinya untuk Randy, hanya rasa muak dan penyesalan yang Anna rasakan sebagai wanita bodoh yang begitu setia dan percaya dengannya.


Cinta tulus yang dia rasakan tidak berbalas dengan indah, seperti yang dia harapkan. Selama tiga tahun tidak ada hal indah yang Randy ingat tentangnya, cuman segenggam uang saja yang menjadi obsesinya. 

__ADS_1


 


__ADS_2