
Elang berusaha mengatakan ketulusan cinta yang dia rasakan. Tapi tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir Anna. Apakah dia menerima lamaranku atau tidak?.
"Jika hatimu masih ragu, pikirkanlah terlebih dahulu, aku tidak akan memaksa kehendakmu, aku akan menunggu dan berharap untuk selalu bersama."
Tak sanggup untuk melanjutkan perkataan, Elang membaringkan Anna ketempat peraduan, tapi ujung jarinya tertahan.
"Elang, maafkan aku," ucap Anna
Tanpa membalas kata-kata, Elang keluar ruangan mencoba menenangkan hatinya yang patah.
Aku tahu, aku menyakitimu saat ini. Tapi aku tidak bisa menerima cintamu, Elang. Aku bukanlah orang sesempurna seperti dulu. Duniaku sekarang gelap, untuk melihat diri sendiri saja tak sanggup. Sedangkan aku ingin melihat wajah dan senyummu setiap hari. Maafkan aku yang sudah membuatmu bingung. Dan maafkan diri ku yang sudah menampik rasa cintamu, sejujurnya aku juga merasakan perasaan yang sama. Aku juga mencintaimu.
Anna merasakan ada sesuatu yang sakit di hatinya. Sama seperti yang dirasakan Elang, mungkin diamnya Anna membuat Elang berfikir bahwa cintanya sudah tertolak.
Air mata tak akan sanggup menghapus semua sakit yang dirasa Anna saat ini, meskipun dia ingin melupakan tapi tak akan bisa hilang begitu saja.
Suara ketukan pintu terdengar. Anna berusaha untuk menghapus air mata yang membasahi pipi pucat nya.
"Assalamualaikum. Anna," sapa dewi dengan lembut.
"Waalaikumsalam, siapa ya?" jawab Anna yang belum pernah mendengar suara wanita asing.
"Anna, ini tante dewi, masih ingatkan?" balas dewi yang berdiri di samping Anna.
"Iya. Maaf saya tidak mengingat dan mengenali suara tante tadi," tutur Anna.
"Tidak apa-apa, jangan memaksa untuk mengingatnya,"
"Tante kesini ingin melihat keadaanmu," ucap dewi yang duduk di sebelah ranjang dan memegang kedua telapak tangan anna. "Tenanglah. Tante yakin, suatu saat kamu bisa melihat lagi. Hanya tinggal menunggu waktu untuk kepergian yang tidak terduga,"
Anna mendengar perkataan tante dewi yang terasa aneh, tapi tak tahu apa itu. Dan apa yang akan terjadi sehingga dia berkata seperti itu.
"Maksud tante?" tanya Anna heran.
"Sudahlah. Bagaimana jika kita keluar ruangan bersama, di sini bau obat. Kita akan ke taman. Kamu butuh kesegaran udara," ajak dewi.
Dewi menuntun Anna melangkah meninggalkan ruangan menuju taman hospitals, berhembus angin yang meniup ujung rambut panjangnya. Dia bisa merasakan kakinya melangkah di atas reremputan hijau, mencium aroma lavender, dan merasakan daun pohon maple menempel di telapak tangannya yang setiap helai daun memiliki lima daun lancip. Daun yang memiliki filosofi keharmonisan dan kesetiaan.
Di bawah pohon maple, mereka duduk di bangku kayu.
"Anna, setiap orang memiliki kekurangan, tapi kekurangan yang di miliki bisa menjadi kekuatan," ucap dewi yang membuat anna tertegun.
Dewi menundukkan tubuhnya ke bawah, dan mengambil selembar daun maple yang berada di dekat kakinya.
__ADS_1
"Peganglah daun meple ini, rasakan setiap sudut daunnya, tidak ada yang sempurna, meskipun bentuknya sama," lanjut dewi memberikan daun maple di telapak tangan Anna.
"Tidak bisa melihat adalah kekurangan, tapi Anna seorang wanita yang kuat. Jadikan kekurangan itu sebagai kekuatanmu. Rasakan apa yang ingin kamu rasakan, seperti hembusan angin ini. Angin tidak bisa di lihat, tapi kita bisa merasakannya. Begitu juga hati Anna, jangan melihat kekurangan tapi rasakan hatimu, hanya kamu yang tahu hatimu saat ini seperti apa."
Perkataan dewi membuat Anna menyadari akan sesuatu, bahwa dia sekarang salah menentukan hatinya.
"Elang.." ucap Anna dengan lirih dan berjalan meninggalkan dewi di bangku taman.
Anna mengerti apa yang sudah di katakan tante dewi, sekilas ingatannya tertuju pada elang.
"Anna, mau kemana?" tanya dewi.
"Ada seseoran yang itu...orang yang.. Ee.. " jawab anna terbatah-batah.
"Apa kamu ingin bertemu elang?" balas dewi yang mengetahui isi hati anna. "Sekarang dia berada di rooftop bersama andreas." Anna mengangguk dan berbalik berusaha berjalan meskipun kakinya terbentur anak tangga hingga terjatuh.
"Anna!" teriak dewi. "Tante akan telpon elang agar dia kesini." Anna menahan tangan dewi "tidak tante, biar Anna sendiri yang menemui elang."
"Tante akan membantumu hingga ke rooftop. Tante tidak ikut campur masalah kalian, meskipun elang anak tante sendiri," ucap dewi.
"Iya," jawab Anna.
*********
"Mungkin aku terlalu cepat mengatakan karena dia membutuhkan waktu untuk berfikir dan seharusnya aku bisa menunggu sedikit lagi," cerita Elang dengan menghisap batang rokoknya hingga dalam.
"Yups, jiwanya sekarang sedang shock dengan kenyataan yang dia alami saat ini. Seseorang sudah memanfaatkannya, kecelakaan, dan sekarang penglihatannya terenggut. Tidak mudah untuk bangkit." Tepuk kan bahu Andreas sedikit membuat tenang hati Elang.
"Haaa..." hela nafas panjang Elang yang mengakui kecerobohanya saat ini.
"Tuan Wijaya dan Nyonya Dewi berada di Singapura," sela Andreas.
"Hemm," jawab Elang dengan sedikit malas.
"Hendry akan melancarkan serangan balasan," ucap Andreas memperingatkan.
"Hahahaha...Semua sudah ada dalam otak geniusku," jawab elang dengan pasti.
"Berhati-hatilah dengan rubah licik. Jangan sampai dia mengetahui tentang Anna," sela Andreas memperingatkan sesuatu yang mungkin akan terjadi.
Elang yang mendengar perkataan sahabatnya terdiam sejenak. Dia baru sadar, jika bisa melibatkan Anna dalam hal ini.
"Berada di mana dia sekarang?" tanya elang dengan serius. Seolah dia tahu langkah apa yang akan dilakukan nanti.
__ADS_1
"Arah barat, si rubah membawa varian terbaru. Membuat seseorang bisa seperti serigala yang kelaparan," jawab andreas.
"Apa yang akan kamu lakukan? Sedangkan traumamu belum bisa menghadapi si rubah licik itu," lanjut Andreas yang sedikit kuatir.
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Andreas. Elang terdiam sejenak membiarkan otaknya berfikir.
"Pantau seberapa jauh perkembangannya, kirim informasi kepadaku. Siapkan angels informan untuk memata-matai semua. Lindungi Anna dari satelit agar si rubah licik tidak bisa melacak," perintah Elang.
"Itu rencana A. Jika terjadi sesuatu, rencana B bisa kamu lakukan," lanjut perintahnya.
"Hem.. " jawab andreas terdiam sejenak, merencanakan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Cruise Ship sudah aku siapkan untuk perjalanan mu. Lakukan sebaik nya, jadikan ini kesempatan terakhir," pungkas Andreas.
"Apa masih ada kesempatan?" tanya Elang putus asa.
"Memang tidak mudah, tapi berusaha lah untuk mengerti, hati wanita itu sulit di tebak," jawab Andreas memberikan semangat untuk sahabatnya.
" Yups, tapi aku benar-benar mencintainya, Anna membuatku.... " jawab elang yang belum sempat melanjutkan perkataannya.
"Elang... " sela Anna memanggil. Elang menoleh ke belakang mendengar namanya di sebut seseorang.
Melihat Anna di belakang sedikit membuat elang terkejut.
"Anna?...bagimana kamu kesini?...aku akan mengantarmu kembali," tanya Elang dengan memegang bahu Anna untuk mengajaknya kembali.
Anna menolak dengan menggeser bahunya kebelakang.
"Aku ingin bicara kepadamu," ucap Anna. Andreas meninggalkan mereka berdua dengan mengedipkan satu mata kepada Elang.
Dengan meraba-raba, tangan Anna berusaha menyentuh bahu Elang dan berusaha menatap wajahnya meskipun arahnya berlawanan.
Suasana terdiam sejenak, Anna merasa bingung apa yang harus di katakan.
"An, jangan mengelak. Aku akan mengantarmu kembali keruangan," ucap Elang dengan memegang tangan Anna.
Anna menarik pengangan elang. "Aku juga mencintaimu!" jawab Anna dengan teriak sehingga membuat elang terkejut dan terdiam sejenak.
Dengan senyum lebar, Anna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena tersipu malu. Sekarang pipi yang pucat itu terlihat merona lagi.
Jantung Elang terasa berdegup kencang mendengar pernyataan Anna. Dia menghampiri dan memeluk anna yang sedang menutup wajahnya karena malu.
Anna mendengar suara detak jantung Elang saat memeluknya. Aku mendengarnya, suara detak jantung yang sama dengan detak jantungku. Elang, aku merasakan hatimu. Anna membalas pelukkan hangat Elang dengan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang.
__ADS_1