
Anna yang duduk terdiam di teras kamar menikmati langit senja di pulau dewata. Dengan mata tertutup pikirannya merangkai puisi indah untuk penyemangat hati.
Imajinasi yang terangkai membuyarkan seketika saat mendengar suara musik infinity yang begitu keras memekakkan telinga.
"Astaghfirullah, setel musik kenceng banget," pikiran Anna yang merajuk. Dia menoleh ke arah asal suara yang membuat telinganya begitu sakit.
Elang bertelanjang dada keluar dari kamar menuju ke balkon, dada yang bidang, pinggang ramping dan bahu lebar melihat ke arah Sunset dengan meregangkan otot-otot tangan yang sedikit kaku, menikmati secangkir kopi, dan suara musik infinity membuat hati bergejolak, dengan bibir yang menirukan syair lagu.
Cause I love you for infinity
I love you for infinity
Elang tidak menyadari bahwa di sebelah kamarnya ada Anna yang juga sedang menikmati Sunset.
"Gelo ini orang, yang punya telinga dia doang apa! Otaknya lagi konslet!" gerutu Anna yang sebal melihat tingkah laku pria aneh dan kembali ke kamar.
Perut yang tidak bisa dia ajak untuk berdiskusi, membuat Anna untuk naik ke rooftop cafe, bau kopi yang harum membuat dirinya semakin terlena, apalah daya isi kantong tidak berisi. "Haaa.." hela nafas Anna yang kecewa karena tidak bisa mencium aromanya tapi tidak bisa merasakan.
Elang membasuh dada bidangnya dengan air shower agar seluruh tubuh menjadi rilex. Dia berganti pakaian casual, kemeja hitam motif horizontal, celana hitam dan sepatu sneaker membuat penampilan Elang layaknya bintang drama Korea.
Elang menuju rooftop untuk dinner. Tampak dari jauh Elang melihat Anna memakai dress putih dengan pashmina hitam dan tas slempangnya, bulu mata lentik, alis indah seperti semut yang beriringan, bibir tipis berlipstik nude, membuat hati Elang berdesir lembut.
Meja Bar di depannya terlihat kosong, duduk untuk memesan secangkir kopi. Sesekali dia menoleh kebelakang melihat Anna yang sedang berdiri bersender di pagar balkon dan menatap keatas langit. Seolah-seolah dia ingin merangkul semua bintang dan bulan di malam ini.
"Kenapa mata ini jika melihat gadis aneh itu, tidak bisa di alihkan?" gurutu Elang yang mencoba mengalihkan pandangannya dengan memakai kacamata hitam yang dia sematkan di bagian tengah kemeja.
Suara musik akustik membuat suasana cafe menjadi romantis, Anna yang berdiri di pinggir balkon cafe untuk menikmati suasana angin malam, menoleh ke arah bad akustik itu.
Setiap senar gitar yang di petik membuat Anna menikmati alunan syair dari lagu Secret Admirer, nada dan syair mengalun di hati Anna, rasa sedih, rindu yang dia rasakan terobati sedikit demi sedikit.
Pembawa acara band memberikan tantangan kepada para pengunjung siapa yang bisa menampilkan musik, lagu atau apapun di depan panggung akan mendapatkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah.
Anna yang tersenyum bahagia mendengar penyelamat datang untuk mengobati rasa lapar yang melanda, di dalam niatnya. " uang lima ratus ribu itu harus aku dapatkan!" ucap penuh keyakinan.
Dengan jiwa yang penuh percaya diri, Anna maju ke panggung dan berbisik kepada pembawa acara dan kemudian ke pemain gitar. Tanpa mempunyai bakat menyanyi atau bermain musik. Anna ingin menampilkan sebuah puisi dengan alunan gitar akustik.
"Baik semua. Kita sudah ada yang mau tampil. Untuk kak Anna di persilakan, beri tepukkan semangat untuk kak Anna. Karena sepertinya kak Anna sedikit gugup ya. Santai aja kak, panggungnya tidak mengigit ko," ucap pembawa acara dengan ciri khas candanya.
Anna membalas dengan senyuman dan hati yang sedikit gugup, dia menggeser kursi berkaki panjang tanpa ada alas bersender untuk punggungnya.
" Assalamualaikum, baik saya ingin memberikan sebuah puisi, saya harap kalian yang mendengar bisa menikmatinya". Anna menoleh memberikan aba-aba kepada pemain gitar. Mata Anna terpejam, alunan petikan senar gitar membuat pikiran dan hatinya terlena, dengan apa yang dia rasakan.
Desiran angin malam
Membawaku terbang melayang
Tak sepatah kata pun terucap
Pikiran yang kacau balau
__ADS_1
Hanya menggantung di dalam hati
Seperti batu yang berwujud
Tapi tidak bernyawa
Seperti langit yang terlihat
Tapi tidak bisa tersentuh
Ingin menggapai tapi tidak tersampai
Aku titipkan rinduku ini kepada laut
Yang tersapu oleh gelombang
Ku bawa ragaku melayang
Tapi patah kehilangan arah
Ku berharap
kau berada disana
merasakan rinduku
Yang menusuk kalbu
"Baik, terimakasih untuk kak Anna, mungkin ada para pengunjung yang ingin menampilkan sesuatu di atas panggung. Kami persilakan, saya memberikan waktu lima menit" ucap pembawa acara.
"Baik ternyata belum ada yang mau maju lagi. Jadi lima ratus ribu nya untuk kak Anna. Silakan kak ini uangnya," ucap pembawa acara dengan menyerahkan uang lima ratus ribu ke tangan Anna.
" Alhamdulillah ya Allah. Aku gak kelaparan," ucap syukur Anna di dalam hati. Dan berjingkrak girang tanpa memperdulikan pandangan para tamu yang berada di depan.
Elang yang melihat tingkah laku konyol nya, terasa tergelitik dan melayangkan senyum manis dengan lesung pipit di pipi. Anna pun duduk di kursi pengunjung, dia memasan steak daging saos lada hitam, frech fries dan minuman lemon mint.
Di sebelah sudut Bar, Elang menuju ke podium mendekati piano, tangannya yang terampil memainkan musik klasik, melody romantis yang dia mainkan membuat hati Anna dan para pengunjung terhanyut.
Pelayanan pun datang menyajikan apa yang anna pesan, dengan mata yang berbinar, melihat makanan yang ada di hadapannya "tidak ada waktu lagi, ini perut tidak bisa menahan lapar, yukk ah! Sikat!" ucap hati Anna seolah-olah ingin melahap semua yang ada di hadapannya.
Tepuk tangan hangat dari para pengunjung di sambut Elang dengan sedikit membungkuk sopan sebagai tanda terimakasih, selesai dia memainkan melody klasik romantis. Pria berkulit sawo matang berlesung pipit kanan itu, dengan rasa penasaran ingin menghampiri Anna, untuk mengetahui kepribadiannya, dan ingin mengenalnya lebih dekat, dengan menggeser kursi yang berada di depan meja, Elang duduk menyapa dengan sopan.
"Sangat bagus penampilan hari ini, tidak sia-sia saya membantu untuk kamar hotel dan di pesawat," sapa Elang dengan memandang tajam mata Anna.
Anna yang memakan potongan steak sedikit tersendat karena tiba-tiba Elang muncul dan berbicara dengannya.
"Huk..huk," suara terbatuk, tangan anna mengambil segelas air putih untuk menurunkan makanan yang tersendat di kerongkongan, bibir melayangkan senyum kecut untuk menanggapi perkataan Elang yang berada di depannya.
"Maaf, saya tidak sengaja membuatmu tersedat," ucap permintaan maaf Elang dan mengambil tissu yang berada di depan untuk menyeka pinggir bibir Anna yang masih terkena saos steak. Tanpa berpikir panjang, Anna menampik respon tangan elang dengan mengambil dan menyekanya sendiri. Pandangan mata mereka saling bertatap, sepasang mata tajam yang anna lihat di hadapannya sekarang, membuat gugup.
__ADS_1
"Terimakasih, biar saya sendiri," ucap anna yang menolak sopan agar bibirnya tidak dipegang.
"Penampilan piano anda juga bagus," lanjut Anna tanpa basa-basi.
Mendengar pernyataan Anna membuat diri Elang tidak menyerah untuk mengetahui lebih dalam tentang kepribadian gadis yang berada di depannya saat ini.
"Merangkai kata-kata untuk puisi itu tidak mudah, itu sangat sulit," ucap Elang memuji.
"Itu terpaksa," jawab Anna.
Elang yang mendengar pernyataan itu, membuatnya heran "ko terpaksa? ".
"Yups, karena saya lapar, tidak ada pilihan lain," canda Anna dengan senyum. "Kamu tahu kan kalau dompet dan hadphone saya hilang, yaaa tidak ada pilihan lain selain tampil," lanjut Anna.
Elang yang mendengar perkataan Anna, tersenyum lebar "baru kali ini aku bertemu cewek seperti ini," gumam hati yang membuat elang semakin penasaran.
"Tapi entahlah, terkadang inspirasi datang dan aku mengikuti mood saja," lanjut Anna dengan perkataan cueknya.
"Berarti puisi tadi mengikuti mood Rindu tentang seseorang?" tanya Elang yang semakin penasaran.
Anna terdiam sebentar tanpa menjawab, dia menenggak segelas lemon mint dingin untuk membasuh tenggorokan yang tiba-tiba kering.
"Ya! saya kesini untuk bertemu pacar saya," jawab Anna langsung.
Mendengarnya Elang merasa terpelanting jatuh, hati yang belum dia bangun, sudah hancur sebelum memulai. "ternyata hatinya sudah ada pria lain," kalimat yang ada di pikiran Elang.
"Apa pacarmu ada disini? Saya belum melihatnya? Kalau begitu saya akan bergeser untuk berpindah tempat," lanjut elang.
" Tidak, dia tidak disini," ucap Anna yang seakan-akan tidak mau elang pergi manjauh.
"Aku tidak menghubungi, karena aku kesini tanpa sepengetahuan dirinya," lanjut Anna yang ingin mempunyai teman untuk bercerita.
"Apa kamu sudah tahu dimana dia tinggal?" tanya Elang.
Anna menjawab dengan menggelengkan kepala. Dan " Haaaa..."Anna menghela nafas sesaat. " Saya kesini hanya bermodalkan nekat," ucap Anna seperti putus asa, dan sedikit menundukkan kepala. Ucapan dan ekspresi Anna membuat elang tergelitik.
" Terus bagaimana suprise nya? Tempat tinggalnya saja tidak tahu," lanjut Elang dengan senyum.
"Aku tahu daerah dia kerja! Kawasan perkantoran Civic!" seru Anna yang tiba-tiba meluruskan pandangannya untuk melihat wajah elang.
Elang yang tersendak air ludahnya sendiri karena kaget mendengar perkataan Anna yang tiba-tiba bersemangat itu.
"Huk.. Huk," suara batuk Elang dan berusaha memukul-mukul dada dengan kepalan tangannya. Pria yang berusia tiga puluh tahun, melihat wajah imut dengan sinar mata yang berbinar itu, sudah terpotret di ingatan Elang.
"Perkantoran civic jauh dari sini, jika kamu butuh teman, aku akan mengantarmu," ucap Elang dengan sungguh-sungguh.
"Oh ya, benarkah itu," ucap Anna dengan ekspresi yang bersemangat. "Apakah gratis? Karena aku tidak punya uang untuk saat ini," lanjut Anna dengan wajah yang murung.
Elang yang melihat membuatnya tertawa "hahahaha... Iya, gratis."
__ADS_1
Moment bersama Anna saat ini, sudah terekam di hatinya, yang mungkin tidak bisa hilang dalam waktu yang cepat.