Ada Cinta Yang Lain

Ada Cinta Yang Lain
Meminta Kepastian


__ADS_3

"Maaf ya, saya tidak sengaja," ucap Anna yang meminta maaf dengan menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi. 


Anna pun memandang mata pria itu secara dalam, terlihat pandangan yang dingin, ada kemarahan yang tersimpan seakan seperti singa yang siap untuk menerkam korbannya, seperti tidak punya hati. 


Dengan nada yang arogan dan tingkah laku cuek pria itu menjawab " It's oke, lain kali pandangan matanya tengok ke kanan dan ke kiri jangan hanya memandang handphone saja." Setelah mengucapkan kata-kata menohok, pria itu langsung menuju toilet. 


"Aduhhh, kejatuhan apa aku tadi, bisa-bisanya ketemu cowok yang arogan seperti itu," gumam anna. Mela yang keluar dari toilet menghampiri Anna yang sedang memasang expresi tanduk merahnya. 


" Tenang... Tenang... Ada apa? Kenapa. Muka mu merah padam seperti habis kebakaran, sih?" tanya Mela yang heran melihat sahabatnya. "Sudah telpon mama mu belum?" Anna yang terperanjat kaget karena ingatan dia langsung menuju ibunya yang menelpon tadi. 


Anna: "halo assalamualaikum ma,"


bu laras: "waalaikumsalam, Anna kemana saja kamu, di sini restoran lagi rame, kalau sudah selesai, ke restoran bantuin mama sebentar,"


Anna: "iya, sebentar lagi kesana." Anna menutup panggilan telepon ibunya


"Mel.kita pulang saja, restoran lagi rame,"pinta Anna. 


"Terus, kita gak jadi nonton film nih, kan masih sore?" tanya mela. 


"Udah, nonton drama Korea saja, kapan-kapan saja nonton Hollywood nya, nonton Korea saja lebih seru, dan bikin halu, hahaha," pungkas Anna dengan canda. 


Pria arogan itu bernama Elang yang dari jauh memperhatikan tingkah laku Anna. Ada apa ini? Kenapa hati ini bisa deg-degan saat melihat senyum. Imut gadis aneh ? Dan sekilas aku bisa melupakan Sandra saat aku berada di dekatnya? Ada apa ini.


Tidak mungkin aku menyukai gadis yang hanya sekali melihatnya. Aneh? Tidak tahu siapa namanya? Asal darimana, apa dia dari plenet pluto atau alien? Atau bisa jadi dia titisan keong emas atau siluman rubah berekor sembilan? Aahhhh!...tak tahulah. Suara rightones infinity membuat kaget pria itu yang sedang meraba-raba hatinya. 


"Ya ma, assalamu'alaikum, iya ini ...lagi di toilet, sebentar lagi Elang kesana, tunggu Elang jangan kemana-mana," jawabnya. 


Arah jalan Anna berlawanan dengan Elang, tapi mereka saling perpapasan tanpa menyadari keberadaan satu sama lain, Elang menuju ke lift dan Anna ke tangga berjalan. Mobil dan motor melaju saling berdampingan tepat di lampu merah. 


Untuk menuju ke restoran jarak yang di tempuh tidak jauh dari pusat perbelanjaan, karena daerahnya yang strategis. 

__ADS_1


Anna yang membasuh peluh keringatnya karena merasa lelah menghadapi pengunjung yang tiada henti. Dengan sisa tenaga dia merapikan meja dan kursi restoran secara simetris, serbet, gelas dan sendok dia rapikan secara perfect di tata mulai dari ukuran hingga warna. Para karyawan pun satu persatu berpamitan karena jam sudah menunjukkan waktu pulang. 


Anna bersender di kursi pengunjung, merebahkan sedikit punggungnya di sofa dan mencoba meluruskan kakinya yang jenjang tertutup kain celana hitam  panjang sesekali dia menatap cermin jendela restoran untuk membenarkan pashmina yang kurang rapi. 


Dia mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan otot-otot yang kaku, kemudian memantulkan badannya ke sofa "humm, nyamannya," ucapnya serasa bersyukur.


Dia scroll layar utama handphone untuk mendengarkan lagu melankolis kesukaan, dengan memejamkan mata, otaknya pun merangkai kata-kata puisi kerinduan. 


Apakah kau tahu? 


Hati ini merindu


Tapi kau tak tahu? 


Sebesar apa rasa rindu ini


Jika aku menuruti ego


Bunyi notifikasi whatsapp membuyarkan imajinasi anna untuk sesaat, rangkaian kata puisi indah sudah terbenam akan kenyataan. 


Satu persatu dia scroll notifikasi whatsapp itu, tanpa ada pesan dari Randy untuk menanyakan kabarnya malam ini. 


"Ganggu gak ya kalau aku telpon dulu. Takut dia ada kerjaan, coba dech aku telpon dia," pikiran anna. 


Anna mencoba untuk melakukan panggilan di whatsapp tapi masih nada memanggil, dia coba untuk video call tapi nada yang sama, tidak di angkat sama sekali. 


"Aaaaaaa, sebenarnya dia punya hati gak sih!" teriak Anna dengan memukul-memukul kaki nya ke sofa. Dengan badan yang tengkurap dan perasaan marah yang dia rasakan, akhirnya mata lelahnya membuat dia terlelap. 


Sebenarnya ini tidak hanya butuh keberanian tapi juga tekad tinggi, kalau sampai Randy  tidak memberi kepastian. Anna memberanikan diri untuk menyusul dan meminta kepastian darinya. 


Anna sudah mempersiapkan koper dan keperluan, tiket dan akomodasi hotel atau penginapan sudah oke. Capcuzz lah berangkat biar tidak ada yang namanya hubungan menggantung. Turun dari anak tangga, Anna berpamitan kepada mamanya dan hanif. 

__ADS_1


"Hati-hati di Bali, hubungi mama jika ada masalah, dan pulang harus bawa kabar bahagia, suruh dia datang temui mama," seru bu laras


"Iya ma, Anna pamit dulu. Assalamualaikum."


Anna berharap kepergiannya tidak sia-sia, rasa rindu, senang, sedih, deg-degan yang saat ini dirasakan akan terbayarkan. Penantian selama ini bisa membuahkan hasil yang baik untuk hubungannya. 


Langkah kaki menuju Bandara Soekarno-Hatta tidak sia-sia, cek jadwal rute maskapai penerbangan Jakarta-Bali tidak mengalami delay. Pramugari dan Pramugara yang ramah membuat rasa gugup Anna sedikit tenang. 


"Bismillah, jangan mabok... Jangan mabok, gawat kalau mabok udara, malu aku nanti, make up dan fashion sudah cetar membahana, malu jika muntah-muntah," ucap Anna dengan mata tertutup dan berbisik untuk dirinya sendiri. 


"Kalau takut make up nya luntur pake bedak lima senti seperti badut yang keluar dari sirkus," bisik seorang pria yang duduk di sebelahnya. 


Sepertinya suara ini tidak asing, aku pernah mendengar sebelumnya? Suara pria yang arogan? Siapa pria ini?. 


"Oh no! Kamu membuntuti ku? Kamu mata-mata ya?" tanya Anna dengan heran akan keberadaan pria yang dia temui di mall beberapa hari yang lalu. 


"Untuk apa mata-matain cewek yang mak up nya tebal seperti badut," jawab pria itu dengan sedikit meledek. Yang membuat Anna naik pitam. 


"What! What!, ooo... Anda merasa besar kepala, ngaca tuch nagaca, nih! Awas kacanya retak terpantul muka Anda yang jerawatan, ha!" jawab Anna dengan monohok. 


"Aku rasa tidak ada jerawat yang ada di wajahku, semua terawat," lanjut pria itu dengan rasa percaya diri kalau dia merasa tampan. 


"Sok ganteng!" ucap hati Anna mendengar kata-kata pria itu membuat dirinya merasa geram tak terbendung, rasanya ingin sakali menampar mulut yang menyebalkan itu."iuuhhh! "


Tapi Anna tersadar bahwa pesawat sudah lepas landas, dan tidak ada mabok udara, perutnya tidak merasa mual lagi. 


"Asyikkk! " teriak anna bahagia dalam hati. Dia tahu kalau perdebatan dengan pria itu membuat mabok udaranya hilang. Ingin mengucapkan terimakasih, "no..no.. malu lah!" Hati dan pikiran Anna tidaklah sama. 


"Kalau mengucapkan terimakasih, simpan saja. Se waktu-waktu kamu akan mengucapkannya lagi," ucap pria itu berbisik di telinga kiri Anna, yang sempat membuat geli. 


Anna pun menyeritkan dahinya, dengan mulut menganga terkejut apa yang sudah dia dengar. Tidak akan pernah!. Awal ketemu saja, pria itu sangat arogan, ternyata dia mempunyai sifat yang menjijikkan, sifat lebay dan percaya diri yang luar biasa, amit-amit jabang bayi! Jangan sampai ketemu dia lagi, kalau ketemu dia lagi, bisa-bisa berjodoh nanti. Iiiuuuhh, jangan! Jangan!. 

__ADS_1


__ADS_2