Ada Cinta Yang Lain

Ada Cinta Yang Lain
Ingin Terhenti


__ADS_3

Elang melihat mereka berdua memperlakukan Anna seperti itu membuat darah panas mendidih, ingin sekali elang mengepalkan tangannya untuk pria brengsek yang ada di belakang Anna saat ini, tapi dia urungkan karena sebuah janji yang melakat dalam dirinya.


"Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, kamu berhak untuk bahagia," kata hati elang seperti di liputi rasa benci. 


"Suatu saat kalian berdua akan menerima akibatnya, karena memperlakukan wanita yang aku cintai seperti ini," kepalan tangan ini rasanya ingin mendarat ke wajah mereka berdua dan memukul tanpa henti. 


Linangan air mata Anna tidak bisa mengobati luka yang dia rasakan saat ini, Tidak ada tenaga yang tersisa dalam tubuh anna, layaknya seperti selembar daun yang tertiup angin di musim gugur. Daun jatuh di atas pohon, masih bisa marasakan bersama dengan pohon yang  membuangnya, tapi tidak yang di rasakan Anna, angin meniupnya jatuh terpelanting, jauh tertiup tak tahu kemana arah angin membawanya pergi.


Melangkah maju meninggalkan masa lalu yang membuatnya terpuruk. Langkah yang membawanya menuju kepada seorang pria yang siap untuk membawa pergi meninggalkan semua.


Elang berlari menuju ke arah wanita yang membuatnya merasakan cinta, dan membuat hatinya berdesir lirih saat bersama. 


"An, tunggulah disitu. Aku bersamamu," kata hati yang tidak bisa elang pungkiri. Perasaan yang dia rasakan adalah sebuah ketulusan. 


Terdengar suara decikan rem mobil yang membuat badan Anna terpelanting jatuh, dan meninggalkan keadaan tubuh yang terkapar di aspal yang membentur kepalanya. Mobil hitam itupun melaju meninggalkan Anna terluka tanpa memperdulikannya. 


"Anna!" teriak elang berlari dan melihat Anna terkapar bersimbah darah di kepala. 


"Anna, sadarlah jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu. Sadarlah, buka matamu, anna! ". Elang memeluk tubuh Anna, tak bisakah waktu berhenti sebentar, izinkan aku untuk membuatnya bahagia meskipun hanya semenit saja. Jangan membuat dia jatuh terkapar bersimbah darah seperti ini. 


Anna melihat elang memeluk tubuhnya yang lemah, terasa sekali darah yang menetes di pelupuk mata, elang usap dengan tangannya yang hangat terdengar suara tangis yang tak terbendung, memegang wajahnya adalah kekuatan untuk Anna agar bertahan. Air mata ketulusan yang Anna lihat samar-samar membuatnya merasa bersyukur bahwa masih ada seorang pria yang mencintainya. 


Membopong tubuh anna, elang melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. 


"Anna bertahanlah," rasa kuatir yang elang rasakan seperti membuat tangannya keluh, dia tidak bisa memengang setir mobil dengan benar. 


Anna merasakan matanya tidak bisa menahan untuk terpejam, kepala yang lemah tidak bisa menopang tubuh, darah yang mengalir di badannya membuatnya merasakan lemas, jantung yang biasanya berdetak terasa semakin melemah. 


Para dokter dan perawat berusaha untuk memberikan penanganan yang terbaik. Elang menunggu di luar ruang IGD dengan noda merah yang masih menempel di kemeja. 

__ADS_1


Andreas berusaha menghampiri keadaan Elang yang terlihat begitu cemas. 


"Elang, apa yang terjadi?" Andreas bertanya dengan nafas yang tertahan-tahan. 


Tanpa ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Elang, membuat Andreas bertambah kuatir dengan keadaan sahabatnya itu. 


Andreas lebih mengenal pribadi Elang daripada siapapun. Sahabat yang lebih dari sepuluh tahun dia kenal. Seberat apapun masalah yang di hadapi, Elang pasti bisa mengatasinya. Tapi sekarang, expresi wajah itu tidak terlihat seperti biasa, air muka yang menggambarkan keterpurukkan, ketakutan, penyesalan, amarah, kebencian, dan kesedihan.


"Elang sadarlah! Jangan seperti ini!" teriak Andreas yang melihat Elang begitu tertekan. 


Andreas mengangkat bahu elang untuk berdiri dan berusaha untuk mengoyang-goyangkan tubuhnya, "Elang, sadarlah!" . Akhirnya tamparan yang cukup keras melayang ke wajahnya "Prak!".


Elang yang merasakan panas pipinya, berusaha membalas Andreas dengan mengangkat leher bajunya ke atas, mencekik dengan tangan kirinya yang kekar, dan mengepalkan tangannya ke muka Andreas. 


Andres tidak membalas perlakuan sahabatnya itu, karena dia tahu amarah yang elang rasakan belum terlampiaskan. 


Elang tidak sadar bahwa dia hampir membuat sahabatnya tak bernyawa. Dia berusaha menarik nafas panjang, mengendurkan peganggannya, dan berbalik badan. Andreas merapikan pakaiannya agar terlihat rapi. 


Andreas menghampiri sahabatnya itu untuk mendengar keluh kesahnya. 


"Jangan salahkan dirimu sendiri, jika kita tidak bertindak, mata dan hati Anna akan tertutup terus," ucap andreas. 


"Hmm. Informasi apa yang sudah kamu dapatkan," pungkas Elang yang penasaran. 


"Strategi awal sudah aku lakukan. Nadia terjebak dalam perangkap kita, ini bukti foto yang di kirim anak buah," penjelasan Andreas dengan menscroll foto bukti-bukti pertengakaran mereka. 


"Strategi kedua kita juga sudah oke, mereka bertiga bertemu. Kebohongan terungkap, tapi kejadian hari ini, di luar kendali kita. Kita tidak memprediksi Anna akan seperti ini," lanjut Andreas. 


"Temukan  mereka hidup atau mati! Cari siapa yang melakukan semua ini terhadap Anna, jika mereka yang melakukannya aku tak akan memberikan Ampun," seru elang memberikan perintah. 

__ADS_1


Triage IGB sudah tidak menyala, para dokter keluar dari ruang pemeriksaan, elang menunggu hasil dari dokter mengharapkan yang terbaik. 


"Operasi berjalan dengan lancar, semoga cepat pulih kembali". Berita baik dokter memberikan ketenangan di hati elang. " Semua akan baik-baik saja An," doa lirih elang di hatinya. 


Sepuluh menit kemudian Anna di pindahkan ke ruang perawatan pribadi, dokter pribadi, perawat pribadi, hingga makananpun menunya tidak boleh sama dengan pasien yang lain. Sebagian tubuh Anna terpasang selang-selang yang mengelilingi tubuhnya. 


Elang duduk di samping ranjang, memegang jari tangannya yang lembut, sesekali mata ini menatap wanita yang dia cintai. "Kita tidak bisa mengontrol diri kita sendiri. Saat tahu orang yang kita cintai merasakan hal terburuk barulah kita sadar, seberapa pentingkah orang itu untuk kita," batin Elang. 


Andreas yang berada di belakang elang berusaha memberikan kekuatan kepadanya.


Mela dan hanif mendapatkan kabar berita anna yang mengejutkan. 


"Elang, adikku bagaimana?" terlihat jelas rasa kuatir hanif. 


"Apa yang sedang terjadi, kenapa seperti ini! Kamu berjanji akan menjaga adikku, katakan kenapa!" teriak hanif yang tidak percaya akan semua. 


Mata sembab yang hanif lihat di wajah pria yang awal nya terlihat kuat ternyata tidak berdaya melihat adiknya terkulai di ranjang rumah sakit. 


Mela yang berada di belakang hanif memegang bahunya untuk memeberikan kekuatan. 


"Kak, elang pasti kecapekan, lebih baik mela yang menjaga Anna, biar kalian saja berdua yang kembali ke hotel," ucap mela memberi saran. 


Elang yang mendengar saran mela, merasa tidak setuju. Dia menggelengkan kepalanya seraya berucap "biar aku saja yang menjaganya disini, percayalah aku bisa, kalian berdua yang beristirahat, andreas akan mengantar kalian kembali".


"Tidak, aku yang akan menjaga adikku disini?" pungkas hanif. 


Mela berusaha menyakinkan hanif dengan setengah berdiri, Mela menatap mata pria yang dia cintai ini. "Kak. Biar elang yang menjaga anna disini, percayalah kepadanya, hmm," ujar mela dengan membelalakkan matanya ke Hanif agar mengerti apa yang di katakan, dan hanif juga melihat sendiri keadaan elang yang begitu mencintai adiknya. 


Andreas mempersilakan hanif dan mela untuk meninggalkan ruang istirahat dan akan mengantar mereka kembali ke hotel.  

__ADS_1


Elang tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun meskipun jam dinding sudah menunjukkan waktu dini hari. "Seandainya aku bisa menggantikannmu saat kecelakaan itu, aku rela An, yang terpenting kamu tidak menjadi seperti ini," kata hati elang yang tidak terbendung. 


__ADS_2