
Pemandangan Ubud bali memang membuat paru-paru di dalam tubuh bernafas dengan lega, mata yang lelah terasa terang memandang warna hijau yang terbentang.
Sawah terasiring Ubud seperti menyihir tubuh ini untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan.
"Ya Allah nikmat apalagi yang kami dustakan, tidak ada satu manusia pun yang bisa membuat dunia seindah ini," ucap syukur Anna melihat keindahan dunia yang Tuhan ciptakan.
Anna membentangkan tangan di balkon dengan menutup mata seakan-akan terbang membetangkan sayap, merasakan angin sejuk yang keluar masuk ke dalam dadanya yang beberapa saat yang lalu terasa sesak.
Di satu sisi kamar lain. Elang menerima kiriman foto dari mamanya yang belum sempat dia buka dari semalam.
Suara Rightones handphone membuyarkan tidur Elang yang terlelap.
Sinar matahari pagi di balik kain menyilaukan mata, tangannya berusaha meraih suara hadphone tersebut di samping meja tidur.
Elang: "hallo, iya ma," ucap elang dengan sedikit malas
Bu Dewi: "kamu tidak sholat subuh, kebiasaan kamu ya!" seru dewi.
Elang: "iya ma, tadi tidur terlalu malam," jawab elang apa adanya.
Bu Dewi: "Mama semalam kirim foto anak dari teman mama dan papa, kamu cari dia dan kamu bantu dia, katanya dia berada di hotel," ucap dewi bersemangat dengan rencana perjodohannya.
Elang: "tapi ma, hari ini ada pertemuan dengan Mr. Hugh. Elang belum bisa," jawab elang menolak.
Bu Dewi: "ada Andreas! dia sekretaris yang bisa menghandle semua," jawab dewi memerintah.
Elang: "ya gak bisa begitu dong ma. Aku harus bertemu Mr. Hugh terlebih dahulu," tolak elang.
Bu Dewi: "terserah kamu mengatur waktunya seperti apa? Yang terpenting, kamu harus jaga dia, " perintah dewi seperti induk singa yang mangaum kepada anaknya.
Dewi pun menutup percakapan, dan sedikit geram karena mendengar anaknya yang tidak mau menurut sama orang tua.
"Aaaaa! Apa coba yang di mau mama sama papa zaman sekarang masih aja ada perjodohan!" teriak elang dengan menggosok rambut bagian depannya.
Elang yang keluar kamar menuju balkon dengan singlet putih yang menempel di badannya yang bidang ingin menikmati sinar sang surya pagi.
"Hum, Udara ubud membuat badan segar," ucap elang dalam hati.
Saat dia meyibak rambut depannya yang berantakan, dia memandang Anna yang juga berada di balkon.
"Cara yang unik untuk menikmati pagi..hemm..Dia memang benar-benar cantik, entah apa yang membuat ku begitu tertarik dengannya," gumam elang di hati dengan posisi berdiri menyamping, bersender di tiang pagar oval balkon.
Tanpa dia sadari sebenarnya elang menyukai Anna karena logika-logikanya itulah yang membuat hati menolak untuk mendekat, sehingga dia terkesan dingin, arogan, dan cuek.
*****
Pintu kamar tiba-tiba terketuk. Anna membuka pintu melihat seorang pria berkacamata dengan setelan jas berwarna hitam yang terlihat sangat berkharisma dan menawan.
"Maaf. Anda nona Anna?" tanya pria itu.
Anna sedikit menyeritkan dahi karena heran ko orang ini tahu namaku, darimana?.
__ADS_1
" Maaf. Jangan salah sangka. Saya Andreas sekretaris Bu. Dewi," lanjut pria itu dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Ooo. Iya," Anna membalas sapaannya dengan sopan.
"Ada apa ya?" tanya Anna bingung.
"Apa tante dewi ada disini, saya mau bertemu dengannya?" lanjut Anna bertanya.
"Bu Dewi sebentar lagi akan kesini, sebelum itu saya ingin memberikan ini kepada Anda?" jawab Andreas dengan menyerahkan paperback.
Anna menerima pemberian Andreas dengan sedikit penasaran dan membuka.
Ada sebuah kotak di dalamnya, Anna membuka kotak itu terdapat handphone dan juga kartu kredit bank berwarna hitam metalic yang bertuliskan unlimited.
"Maaf ini apa ya?" tanya Anna heran.
"Kami meminjamkan fasiltas ini untuk anda, karena anda sedang kehilangan handphone dan dompet. Dan untuk nomer seluler anda yang lama sudah saya daftarkan, bisa di pakai lagi," penjelasan andreas.
"Iya benar, tapi saya tidak memintanya? Dan untuk kartu kredit. Lebih baik di kembalikan ke tante Dewi, saya tidak bisa menerima?" balas Anna, yang menyerahkan kartu kredit ke Andreas.
Andreas memahami sifat anna, yang tidak mau sembarangan menerima fasilitas dari pertolongan orang yang belum sepenuhnya di kenal.
"Bu Dewi yang memberi perintah karena keluarga anda sedang mencemaskan anda," ucap Andreas dengan menerima kartu kredit yang di kembalikan.
"Iya, aku akan menelpon mama," sekilas pikiran Anna teringat akan ibunya.
"Kami juga sudah mempersiapkan breakfast untuk anda," lanjut Andreas dengan memberikan kode kepada pelayan yang sedang membawa nampan makanan dan minuman.
Anna yang melihat pelayan membuka satu persatu tudung saji stainless itu, tercium bau sedap yang masuk ke indra penciuman.
"Hehehehe, maaf...., laper," ucap anna dengan berusaha menutup bunyi perutnya dengan tangan.
Andreas mempersilakan Anna untuk menikmati makanan yang di sajikan.
Tapi karena malu kejadian tadi, anna sedikit memperlembut etika di meja makan.
Suara panggilan handphone dari bu Dewi membuat Andreas sedikit berdiri menjauh dari Anna.
Andreas : "iya nyonya, sudah... Baik... Baik," ucap Andreas dengan sedikit berkata.
Mata Anna yang melirik tingkah laku Andreas seperti robot yang siap untuk di perintah.
Setelah Anna menyelesaikan makan pagi, perut terasa penuh karena kenyang.
"Jika anda sudah selesai, bu Dewi ingin bertemu dengan anda dan juga Direktur dari hotel ini," penjelasan Andreas.
"Baik, saya mau siap-siap terlebih dahulu," ucap Anna yang meletakkan peralatan makannya.
Anna yang beranjak dari tempat duduknya membawa tas slempang dan siap untuk mengikuti Andreas.
__ADS_1
Menyusuri ruangan hotel yang bergaya Amerika yang cukup luas apalagi di tambah pemandangan sawah terasiring, udara yang sejuk dan pemandangan yang hijau, pastilah banyak wisatawan luar negri yang ingin berada di sini.
Otak bisnis Anna mulai bergerak, di dalam pikirannya banyak ide-ide untuk mengembangkan hotel ini semakin maju. Tapi mungkin tidak usah disampaikan karena aku perhatikan, hotelnya sudah bagus. Dasar otak. Ada ada saja!.
****
Elang yang keluar dari lift dengan setelan jas berwarna coklat, celana semata kaki dan sepatu model leofer dengan gaya rambut di naikan ke atas seperti pria metroseksual pada umumnya, bertemu dengan relasi dari Australia, memasuki ruangan pertemuan.
"How do you do Mr. Elang?" ucapan salam Mr. Hugh
"Fine.thank you. Sit down please." ucap elang mempersilahkan untuk duduk.
****
Anna memasuki ruangan kantor bergaya America clasic dengan menonjolkan furnitur berukuran besar menambah kesan mewah dan wallpaper yang di pakai memiliki warna lembut seperti elemen alam.
Di dalam salah satu sudut ruangan itu, seorang wanita paruh baya duduk di sofa menyilangkan kedua kaki dengan posisi tubuh yang tegap dan fokus melihat anna yang memasuki ruangan.
"Anna, akhirnya bertemu," ucap wanita itu dengan memeluk dan mengecup kening Anna dengan lembut.
"Ini tante Dewi, teman mama dan papamu, bagaimana keadaanmu?" lanjut dewi memulai percakapan.
Anna diam menyambut pelukkan hangatnya dan hanya membalas dengan senyum.
" Heran ya? duduklah, tante akan cerita. Kami teman lama, almarhum ayahmu pernah membantu kami disaat kesusahan. Setelah itu kami mencari keberadaan kalian tapi tidak menemukan tempat tinggal kalian yang baru, tepat setahun yang lalu saya bertemu dengan Laras di restoran dan saat itulah silaturahmi kami berjalan lagi. Laras masih seperti dulu, dia wanita yang baik hati, tapi kami sedih tidak bisa bertemu dengan Kris, Kris adalah seorang pria yang baik dan mencintai keluarga, semoga dia di Surga," cerita Dewi dengan berlinang air mata
"Tante merasakan kebaikan keluargamu Anna, orang tuamu sangat-sangat begitu baik. Sehingga Allah mempertemukan kita kembali," lanjut dewi.
Anna yang mendengar ceritanya, membuat jiwa bergetar, bahwa kebaikan yang dilakukan kedua orang tuanya akan berbuah manis pada suatu saat nanti.
Dewi memeluk Anna dengan lembut dan penuh kasih sayang, melihat wajahnya dan menempelkan kedua tangan di pipi Anna layaknya seperti orang tua yang bertemu dengan anaknya yang pernah hilang.
"Ternyata foto tidak mirip dengan aslinya, jika di lihat langsung kamu sangat cantik, rugi sekali jika ada seorang laki-laki yang tidak mencintaimu dengan tulus," puji Dewi kepada Anna.
Anna yang tersipu malu mendengar pujian itu, membuat pipi nya merona.
Dewi menyentuh layar android nya untuk menghubungi nomer yang tertera di panggilan.
"Hallo, setelah selesai kamu kesini!" ucap Dewi dengan tegas tanpa basa-basi sedikitpun
Dengan duduk menikmati teh rosella membuat segar di badan. Aroma wangi dan rasanya yang sedikit asam membuat pikiran dan emosi sedikit rileks.
"Bagaimana Anna, kamu nyaman di hotel," tanya dewi setelah meletakkan cangkir tehnya.
"Nyaman, tante. Ubud mempunyai sihir tersendiri, seperti memberikan kedamaian," jawab Anna dengan memandang ke arah luar jendela yang melihat sawah terasiring yang terbentang.
"Anna, panggil saya tante ya, atau kamu juga boleh panggil aku mama, disini kamu harus memanggil seperti itu, tante kan tidak punya anak cewek," ucap dewi yang memandang wajah Anna dengan serius.
Anna yang melihat tatapan mata dewi menundukkan kepala "iya tante" jawab Anna sedikit gugup.
"Hahaha, jangan gugup gitu dong, seperti tante mau memakanmu saja," canda dewi.
__ADS_1
"Hahaha, iya," jawab Anna dengan tawa kecilnya.
Tapi dalam hati Anna. Pertemuan ini seperti anna berada di dalam sangkar indah, yang di ujungnya ada induk singa yang sedang mangaum.