
Pintu ruangan yang bergaya clasic itu terbuka. Pandangan Anna tertuju ke bawah melihat seseorang yang memakai sepatu model leofer, celana semata kaki dan setelan jas berwarna coklat.
"Pasti pria yang memakai setelan ini terlihat gagah, dan berkharisma," gumam hati Anna tanpa memandang seluruh penampilan pria misterius yang masuk ke ruangan.
Anna yang menikmati secangkir teh itu terkejut seakan tenggorokannya tersumbat karena sesuatu, ternyata yang masuk keruangan sekarang ini adalah Elang, Anna terkejut bukan kepalang. "Apakah dia direktur hotel ini, yang Andreas sebut-sebut tadi?" gumam hati Anna.
Seorang pria yang sudah tiga kali ia temui secara kebetulan dan ini yang keempat kali "ya Allah, mau di taruh di mana maluku ini," lanjut ucapannya dalam hati.
Elang yang berada di ruangan juga terkejut, melihat seorang wanita yang di hadapannya sekarang adalah Anna, wanita aneh yang dari awal pertemuan di mall sudah membuatnya tertarik.
Elang berusaha merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Saat kesini dalam keadaan malas karena perintah mamanya, tiba-tiba menjadi bersemangat.
"Elang, ini Anna, anak dari teman mama dan papa," ucap dewi memperkenalkan mereka berdua.
Anna dan Elang saling memandang dan melempar senyum kecil karena teringat kenangan semalam di rooftop cafe.
Dengan melihat sikap mereka berdua yang saling berpandangan, dewi yang melihat kejadian ini, tersenyum bahagia di hatinya, bahwa menandakan kalau mereka sudah saling mengenal. "Alhamdulillah, takdir jodoh tidak akan kemana-mana," ucap hati dewi dengan rasa syukur.
"Sepertinya kalian sudah saling kenal," sela Dewi memulai percakapan dan melihat gerak-gerik dari tubuh mereka.
"Iya tante, saya mengenalnya waktu di pesawat," kata anna.
Elang yang membalas pernyataan Anna dengan senyuman, seakan hatinya ingin menolak dan berkata "awal pertemuan kita bukan di pesawat tapi di mall. Awal pertemuan yang membuat aku tertarik denganmu," gumam hati Elang dengan pandangan yang penuh arti.
"Oke, bagus jika kalian sudah saling mengenal, Elang kamu sudah tidak ada pertemuan kan hari ini?" pungkas Dewi seperti tidak mau di bantah.
"Iya, tapi..itu..." jawab terbata-bata Elang dengan expresi menyeritkan alis tebalnya.
"Bagus! Temani Anna jalan-jalan keliling ubud, Anna pasti bosan berada di hotel terus," ucap dewi tanpa mempertanyakan pendapat Elang.
"Tapi ma, Andreas butuh Elang, kasihan dia nanti, pekerjaan nya semakin banyak jika Elang tidak di tempat, benar begitu kan Andreas," ucap Elang dengan memberikan kode ke Andreas agar sepemikiran dengannya.
" Tidak usah tante, biar Anna sendiri yang nanti keliling ubud," sela Anna.
" Ooo tidak bisa! kalau kamu kenapa-napa bagaimana? Apa yang harus tante bilang ke mamamu?" tanya dewi kepada Anna yang menolak permintaannya.
Anna menundukkan kepalanya, bersikap seolah patuh dengan perintah wanita paruh baya yang ada di depannya sekarang.
"Andreas! apa benar kamu tidak bisa menghendle semua pekerjaan Elang?" lanjut tanya dewi, yang melihat Andreas berdiri terpaku di belakang Elang.
"Tidak Nyonya, saya bisa semua," ucap Andreas dengan yakin dan tegas.
"Oke sekarang tidak ada alasan lagi Elang, lebih baik kalian berdua jalan-jalan merilekskan pikiran kalian sejenak," ucap dewi dengan menepuk kedua telapak tangannya, seakan memerintah mereka berdua untuk keluar.
"Tapi ma...... " ucap elang yang ingin memberikan penjelasan.
__ADS_1
Dewi mendorong punggung mereka berdua untuk keluar ruangan dan menutup pintu tanpa memberikan kesempatan mereka berdua berbicara.
Dengan menoleh ke belakang Dewi menghampiri Andreas yang diam terpaku.
"Andreas, jika Elang menghubungimu dengan alasan apapun jangan pernah kamu angkat," ucap Dewi dengan nada mengancam.
Andreas tertunduk seperti seorang robot yang siap untuk di beri perintah.
****
Di jakarta, Hanif menuju teras rumah dengan kursi rodanya memandang hijau tanaman hias yang membuat sejuk.
Terdengar suara motor matic memasuki halaman depan.
Seorang wanita dengan gamis berwarna hitam dan berjilbab merah memasuki teras rumah.
Sekilas pandangan mata hanif yang melihat wanita itu terlihat begitu anggun, dan menawan.
"Assalamualaikum kak," salam mela kepada hanif yang sedang merenung.
"Waa alaikumsalam," jawab hanif singkat tanpa basa-basi dan melempar pandangannya ke arah yang lain.
"Ibu ada kak? Ini ada titipan dari bunda untuk bu laras," ucap mela dengan mengangkat rantang berisi makanan
"Sepertinya di dapur" jawab hanif dengan menunjuk jari telunjuknya untuk menunjukkan arah.
"Oke," ucap mela dengan senyum dan berlalu meninggalkan hanif sendiri di teras.
Mela yang masuk ke dalam ruangan, di tatap hanif dari jauh dengan memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Assalamualaikum bu," salam Mela yang melihat laras sedang meracik bumbu masak.
" Waalaikumsalam, sudah beberapa kali dibilang panggil mama bukan ibu ya!" jawab laras dengan nada perintah saat menoleh ke arah mela.
"Iya ma," ucap mela yang sedikit gugup dan susah mengucapkan kata "mama" dari bibirnya.
"Hanif mana?" tanya laras.
"Ada di luar? apa mela panggilkan? sebentar," jawab mela dengan berlari kecil menuju ke arah teras.
"Kak di panggil," ucap mela dengan berjalan ke belakang hanif ingin menolongnya untuk mendorong kursi roda.
" Tidak usah! aku bisa sendiri!" jawab hanif dengan dingin. Perkataan yang membuat hati Mela sedikit kecewa.
Hanif memutar kursi rodanya dan dari belakang di ikuti oleh Mela menuju ke ruang makan.
" Hari ini kamu ada jadwal terapi, kamu pergi dengan Mela," seru bu laras.
__ADS_1
"Hanif bisa sendiri ma, Mela banyak kesibukkan," pungkas hanif yang menolak perintah ibunya.
"Apa benar begitu mela?" tanya Laras yang menoleh ke arah mela yang sedang duduk di kursi.
"gak ma, Mela ada waktu," jawab mela dengan singkat. Seakan kata "mama" sudah terbiasa dia ucapkan.
"Dengar sendirikan hanif, tidak ada waktu lagi! sekarang kalian berangkat," ucap laras dengan sedikit memerintah.
Mobil hitam Suv sudah menunggu di depan halaman, hanif yang di bantu oleh supir merasa malu dan minder dengan keadaannya yang di lihat oleh Mela.
Di dalam mobil tidak ada percakapan di antara mereka, sehingga membuat Mela memainkan handphone nya untuk memberi kabar ke bunda, bahwa dia akan pulang kerumah terlambat.
Sikap diam mela inilah yang membuat hanif berfikir negatif dan melihat tingkah laku mela yang cuek, sedikit tersindir.
"Kamu pasti malu jika jalan bersamaku?" ucap hanif yang tiba-tiba.
Kata sindir hanif membuat hati Mela tidak membuatnya kaget karena nada dingin yang di ucapkan hanif kepadanya sering dia dengar.
"Kata siapa aku malu, kak hanif sendiri saja yang merasa seperti itu," jawab Mela dengan nada cueknya.
"Kamu pasti malu bersama orang cacat yang tidak bisa berjalan seperti aku ini?" tanya hanif dengan nada sedikit tinggi.
"Kak hanif, Mela mau tanya? Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin untuk Allah, kak hanif bisa sembuh, dokter pernah bilang seperti itu, tapi kak hanif nya sendiri yang tidak punya semangat, apa yang membuat Mela malu? Kak hanif yang harusnya malu dengan diri sendiri," jawab Mela dengan sedikit menohok.
Hanif yang mendengar perkataan Mela tidak melanjutkan omongannya, dia memendam sedikit marah dan rasa sensitifnya karena apa yang di katakan Mela ada benaranya, tapi sebagai seorang laki-laki yang mempunyai rasa ego, hanif tidak akan berkata "benar" pada omongan Mela saat ini.
Hanif bertemu dokter Edwin Sp.N yang sebenarnya adalah om nya sendiri, adik dari almarhum ayahnya.
dokter Edwin melangkah keluar dari meja kerjanya, dan mencoba memijat atau mencubit kaki hanif karena ingin mengetahui apakah ada gerakan refleks pada kakinya? Kemudian dia menggerakkan sedikit demi sedikit ke ke atas-bawah-samping, ternyata dokter merasakan ada sedikit respon pada kakinya.
"Kakimu akan normal kembali jika kamu punya semangat hanif, tadi ada respon yang di terima kakimu," penjelasan dokter Edwin.
Perkataan dokter Edwin tidak hanya membuat hanif bersemangat tetapi Mela yang mendengarnya tidak berhenti untuk tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah, terasa mimpi mendengarnya," ucap Mela dan menoleh ke arah hanif dengan senyum.
Di ruang terapi, Hanif berusaha untuk melangkah sedikit demi sedikit meskipun sedikit berat dan sulit, tetapi sesekali dia menoleh melihat Mela yang tersenyum bahagia melihat perkembanganya, hanif menjadi bersemangat lagi.
Apa yang di katakan ibunya benar, bahwa semangat untuk sembuh yang harus dia punya terlebih dahulu. Mela adalah magnet yang secara tidak sadar memberikan dirinya kekuatan.
Teringat dalam pikirannya kejadian di mobil "Tidak ada yang tidak mungkin untuk Allah," kata-kata Mela itulah yang membuat hanif berusaha untuk maju.
dokter Edwin Sp.N memberikan arahan kepada hanif, bahwa dia mempunyai teman seorang ahli fisioterapis dan healing yang berada di Bali.
"Untuk sementara kamu bisa terapi ke Bali, sekalian untuk menyembuhkan traumamu," ucap dokter Edwin.
"Tapi om, aku tidak merasa trauma?" pungkas hanif menolak.
__ADS_1
"Pikiranmu memang tidak trauma, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong, sudah saatnya kamu bangkit lagi, aku akan telpon dokter Zain dan kamu secepatnya harus berangkat," penjelasan dokter Edwin.
Hanif tidak bisa berkilah lagi, jika omnya sudah berbicara.