
Gelap, sangat gelap, kaki menapak lantai terasa dingin, tercium bau lembab, tempat apa ini?
"Hai! Keluarkan aku... Keluarkan aku! Tolong! Siapa disana! Keluarkan aku!" teriak Randy.
Tangan ingin menggapai jendela jeruji di dinding yang tinggi, dengan kaki berjinjit, berusaha untuk melompat kecil, tapi dinding putih ini tak mungkin tergapai.
Dengan kesal memukul kepala menyalahkan diri sendiri. Ingatan-ingatan buruk selalu muncul, sesekali duduk melipat kedua lutut menghadap tembok, sesekali dia berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan.
"Maafkan aku Nadia, maafkan aku," suara isak tangis Randy tersedu.
Sesekali dia mengeluarkan tawa kecil bahagianya, dan sesekali dia menangis tersedu. Memainkan dan menggoyangkan kedua tangannya seperti menimang sesuatu tapi tidak terlihat.
"Ti.. durlah, ayah sayang, ti... durlah, ayah disini."
Terdengar lagu pengantar tidur dinyanyikan dengan suara yang parau karena menahan tangis. Lagu itu sering muncul dan ingin selalu dia nyanyikan, tapi untuk siapa? Tapi siapa yang ada dalam ingatannya? Bayi siapa itu?.
Dua orang pria asing yang tidak dia kenal, memasuki ruang lembab yang langsung memegang tangan dan melipatnya ke belakang, muka datar tanpa ekspresi dan rasa empati yang dia lihat dari kedua pria itu, meskipun dia menangis mengiba seperti meminta ampun dan maaf, mereka tidak memperdulikannya.
Kedua orang itu membawa sebuah benda runcing yang di suntikkan ke lengan tangannya, badan lemas terkulai, mata tak dapat menahan untuk terpejam, telinga seperti tertutup rapat tidak terdengar apapun, otak terasa lemah tidak menginggat siapa dia? Kenapa disini? Apa yang sudah terjadi? Hal-hal yang membuatnya tidak mengingat apapun.
Lebih baik seperti ini, dia merasakan kedamaian tanpa keinginan.
****
"An, sadarlah. Aku menunggumu," bisik Elang di telinga Anna dengan lirih dan mengelus pipinya yang masih terlihat pucat.
Memegang dan mengusap jari tanganya yang rapuh satu persatu berusaha merasakan apa yang sudah Anna alami. Mengecup punggung telapak tangannya yang terasa dingin. Elang tak ingin jauh sedikitpun dari wanita yang dia cintai saat ini.
Terdengar suara pintu terbuka.
"Anna.. Anna, mama di sini nak," panggil bu laras dengan lari kecil dan mengejutkan elang yang sedang berada di samping Anna.
Laras tahu bahwa yang di samping Anna adalah Elang, anak dari Wijaya dan dewi.
__ADS_1
"Maaf tante mengejutkan mu," ucap bu laras.
"Tidak apa, duduklah. Saya kesini mau melihat keadaan Anna, namanya seorang ibu pasti mengkhawatirkan anaknya," melanjutkan perkataan.
Elang mengerti maksud perkataan bu Laras kepadanya, dan dengan perkataan seperti itu bu Laras seperti sudah menerima elang menjadi bagian dari diri Anna.
Langkah mundur elang di ikuti langkah maju bu Laras yang ingin mendekat dengan Anna dan memegang jari tangan putri nya seperti layaknya seorang bayi yang pernah dia timang dulu.
"Anna, ini mama. Mama kesini ingin memelukmu, sadarlah nak, jangan seperti ini," bisik bu laras di telinga Anna yang nafasnya terpasang alat bantu oksigen.
Suara isak tangis terdengar di telinga Anna. Tapi tak dapat sedikitpun dia menggerakkan jari tangan ataupun anggota tubuhnya yang lain. Dunia alam bawah sadar Anna ingin berontak dan bergerak tapi yang dia alami hanya kelumpuhan.
Sebelum cahaya terang yang menyinari dirinya dari atas di saat dia terduduk tak bergerak, tiba-tiba redup, dan menjadi gelap. Tidak bisa bergerak sedikitpun badan ini, tulang kaku seperti kayu dan sendi-sendi terasa seperti ranting yang hampir patah.
Indra pendengaran Anna sudah merasakan adanya suara yang memanggil, bibir tak dapat di gerakkan tapi hati dan pikiran ingin rasanya memanggil kembali.
"Mama... Mama dengar Anna, Anna baik-baik saja. Mama jangan sedih, mama dimana? Anna rindu sama mama."
Terdengar sekali lagi suara seorang pria setelah suara mamanya pergi. Tapi, siapa pria itu? Apakah Randy? Bukan, seperti bukan suaranya? Siapa pria itu?
Di tempat yang gelap seperti ini tidak ada seorangpun yang menjawab perkataan Anna, dengan berusaha dia ingin menggerakkan kakinya, ayo jangan diam saja, bergeraklah. Tapi tak dapat bergerak sedikitpun. Terlihat dari jauh sebuah lampu yang menyilaukan sehingga membuat matanya sakit dan terpejam seketika.
Tiba-tiba terdengar bunyi monitor untuk mengetahui keadaan jantungnya menunjukkan penurunan, Elang yang melihat segera memanggil dokter dan perawat, untuk melihat keadaan Anna.
Dengan sigap dokter memberikan kejut jantung pada dada Anna, tapi grafik tanda naik dan turun yang terlihat di monitor sungguh mengkhawatirkan. Dokter dan perawat membawa Anna menuju ruang penanganan.
"Pasien mengalami koma, tubuh dan otaknya tidak berjalan selaras, kami berusaha memberikan penangan terbaik," ucap dokter memberikan penjelasan kepada elang.
Di depan ruang operasi, Laras melihat Elang yang terduduk dengan ekpresinya yang kuatir, tapi tatapan matanya dingin, seperti ada sesuatu yang ada di hati dan pikirannya.
Elang menundukkan kepala dengan mengepalkan kedua jarinya "An, jangan tinggalkan aku. Bertahanlah." Satu jam, dua jam, pintu ruangan belum terbuka, Anna masih dalam keadaan kritis.
Mela dan hanif mendengar hal ini bergegas menghampiri bu Laras yang kuatir akan hal buruk terjadi pada Anna.
__ADS_1
"Ma, mela dan kak hanif sudah di sini. Mama istirahat dulu. Mama belum makan kan," kata mela yang mengkhawatirkan keadaan bu laras.
Mela mengantarkan bu Laras menuju ke tempat duduk yang agak berjauhan dengan Elang dan hanif yang sedang mengobrol.
"Mel, bagaimana perkembangan hanif sekarang, apa dia punya keinginan untuk sembuh," tanya bu Laras.
"Iya ma, alhamdulillah semuanya baik-baik saja, sebentar lagi kak hanif sudah tidak memakai kursi roda, kedua kakinya sedikit demi sedikit sudah mulai kuat menopang," jawab Mela dengan memegang telapak tangan ibu kandung dari pria yang dia cintai.
Memang cinta tidak memandang apapun yang terjadi, tidak memandang kekurangan atau kelebihan, karena apa yang di rasakan hati tidak bisa berbohong. Semakin kita menjauh dan menolak hati kita dengan logika, rasa rindu ingin bertemu yang berselubung di hati tak bisa tertolak.
Apa yang di rasakan Mela dan hanif, bu Laras bisa merasakannya, mereka berdua cocok dan akan berjodoh, hati seorang ibu tidak dapat di pungkiri.
Berbeda dengan perasaan dia sebagai ibu kandung Anna, bu Laras seperti merasakan, jika anaknya akan menemui lika-liku perasaan di hatinya. Melihat Elang dengan Anna, mereka memang saling mencintai, tapi apakah mereka berjodoh? Intuisi seorang ibu lebih kuat dari apapun.
Sudah empat jam menunggu kabar baik dari dokter tapi belum ada pemberitahuan.
Setiap detik yang di rasakan Laras membuat bertambah kuatir akan hal-hal yang terasa lama.
Akhirnya dokter keluar ruangan memberikan penjelasan.
"Ada benturan keras di bagian kepalanya sehingga tubuh dan otaknya tidak selaras dan membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan tindakan pada syarafnya. Semoga pasien mempunyai jiwa yang kuat."
Bu Laras mendengar terasa darah sperti turun, bagaimana cara menyelamatkan anaknya? Dokter sudah menyerah.
"Saya akan bawa Anna berobat ke Singapura, sudah saya hubungi pihak rumah sakit untuk Anna ke sana, tante bersabarlah. Tiga puluh menit lagi kita akan berangkat."
Keyakinan seorang pemuda yang di hadapan bu Laras sekarang adalah keyakinan akan cinta pemuda ini, tak mungkin bu Laras menolak untuk kesungguhan hati pemuda ini.
Seperti perkataanya, tiga puluh menit kemudian Anna di larikan ke rumah sakit Singapura untuk perawatan yang maksimal. Ada rasa bersyukur, lega dan yakin yang di rasakan bu Laras, semoga Anna mendapatkan penangan yang terbaik di sana.
"Tante akan menuju ke sana, tolong jagalah Anna, tante percaya padamu," ucap bu Laras kepada Elang.
Kepercayaan yang di terima Elang membawa keyakinan pada dirinya untuk selalu berada di sisi Anna bagaimanapun terjadi, karena Anna sudah menjadi bagian dalam jiwanya.
__ADS_1
Helikopter medis membawa Anna dan Elang menuju ke Singapura dengan harapan keadaan Anna akan membaik.